Dosen Sejarah UNAIR Sebut Perayaan Imlek sebagai Tradisi Merekatkan Budaya

Perayaan Imlek juga seringkali diidentikan dengan hujan sebagai pembawa rezeki berlimpah.

Selasa, 28 Januari 2025 | 08:42 WIB - Didaktika
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Surabaya- Sebagai tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun, Imlek bukan hanya sebagai momen penting bagi masyarakat Tionghoa. Imlek juga merupakan simbol lintas budaya di Indonesia. Shinta Devi Ika Santhi Rahayu SS MA, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) mengungkap berbagai dimensi sejarah dan pernak-pernik tradisi Imlek

Shinta mengatakan, bahwa perayaan Imlek berasal dari tradisi menyambut musim semi di Tiongkok. Imlek juga sudah jauh ada sebelum hadirnya agama tertentu. “Tradisi ini muncul karena masyarakat Tiongkok mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Kemudian mereka menyambut musim semi sebagai awal kehidupan baru,” jelasnya. 

BERITA TERKAIT:
Pakar Ekonomi UNAIR Soroti Wacana Redenominasi, Berpotensi Picu Inflasi hingga Dampak Psikologis
Menilik Kreativitas Gen Z dalam Aksi Demonstrasi
Pakar Sosiologi UNAIR Ini Soroti Manfaat Distribusi Smart TV ke Sekolah Pelosok Negeri
Hindari Potensi Kecurangan, UNAIR Terapkan Teknologi Face Recognition dalam PKKMB
Fasilitasi Bimbingan Gratis Masuk PTN, Mahasiswa FIB UNAIR Gagas Platform REDUKA

Shinta menjelaskan mengenai perbedaan perayaan Imlek ketika masa Orde Baru dan era Reformasi. Di masa Orde Baru, tradisi Imlek tidak boleh dirayakan di ruang publik. Pelaksanaannya juga secara terbatas. Pada era Reformasi khususnya pemerintahan Gus Dur, perayaan Imlek mendapatkan pengakuan secara nasional bahkan menjadi hari libur resmi. 

Tradisi Lintas Etnis
Salah satu keunikan perayaan Imlek di Indonesia merupakan inklusivitasnya. Dengan kata lain, tradisi ini tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Tionghoa. “Misalnya tradisi bagi-bagi angpao kini juga kita temukan dalam perayaan Idulfitri. Makanan khas Imlek seperti mie panjang umur dan kue keranjang juga sudah kita kenal, dan menjadi bagian dari tradisi kita bersama,” tutur Shinta. 

Shinta mengatakan bahwa banyaknya simbol Imlek yang diadopsi oleh masyarakat luas. Misalnya barongsai yang kini banyak dimainkan berbagai etnis, hingga pernak-pernik Imlek yang dijual oleh orang dari berbagai latar belakang. “Ini memperlihatkan keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap budaya Tionghoa,” ucapnya. 

Dosen Ilmu Sejarah UNAIR itu juga mengungkap bahwa ada elemen filosofis dari setiap pernak-pernik Imlek yang umumnya ada. Warna merah misalnya, melambangkan keberuntungan dan kesuksesan. Sedangkan, emas melambangkan kemakmuran. Makanan khas seperti kue keranjang melambangkan harapan kehidupan yang bahagia, teksturnya yang lengket mencerminkan eratnya hubungan persaudaraan.

Perayaan Imlek juga seringkali diidentikan dengan hujan sebagai pembawa rezeki berlimpah. “Mereka memercayai bahwa sebelum perayaan Imlek, Dewi Kwan Im turun ke Bumi untuk menyiram bunga meihua. Sehingga, hujan yang turun kita yakini sebagai siraman air dari Dewi,” imbuhnya. 

Pada akhir, Shinta menegaskan bahwa perayaan Imlek di Indonesia tidak hanya sebuah momentum budaya. Perayaan ini sebagai simbol keragaman dan harmoni yang harus dipertahankan di tengah maraknya globalisasi. “Dengan memahami secara baik filosofi di balik tradisi ini. Harapannya masyarakat bisa menjadikannya sebagai inspirasi memperkuat nilai kebersamaan dan persatuan, “ tutup Shinta. 
 

***

tags: #universitas airlangga #tionghoa #imlek #kue keranjang

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI