XINHUA

XINHUA

Pendaftaran Pernikahan di China Terus Menurun, Ini Penyebab dan Dampaknya

Para pengguna media sosial, seperti di Weibo, mengungkapkan bahwa kebebasan yang didapat saat melajang jauh lebih berharga daripada menikah.

Senin, 28 April 2025 | 05:09 WIB - Internasional
Penulis: Ardiansyah . Editor: Wis

KUASAKATACOM, JAKARTA- China mencatatkan 1,81 juta pendaftaran Pernikahan pada kuartal pertama tahun 2024, menunjukkan penurunan sebesar 8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023, menurut data dari Kementerian Urusan Sipil China. Penurunan ini terjadi setelah sembilan tahun berturut-turut angka pendaftaran menurun, meskipun ada sedikit lonjakan pada tahun 2023. Kini, angka pendaftaran Pernikahan berada pada level terendah sejak 1980.

Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan ini adalah menyusutnya populasi dalam kelompok usia yang umumnya menikah, perubahan pandangan tentang Pernikahan, dan masalah keuangan terkait Pernikahan. Jiang Quanbao, seorang profesor di Universitas Jiaotong Xi'an, menjelaskan bahwa sejak tahun 2000, jumlah kelahiran tahunan di China telah menurun drastis, yang juga berdampak pada jumlah orang yang menikah.

BERITA TERKAIT:
Kembangkan Proyek Energi Bersih di Indonesia, Pertamina NRE Gandeng Perusahaan China
Nio Luncurkan SUV Listrik Terbesar di China
Pertama Kalinya China Beri Izin Operasi Mobil Listrik Berkemampuan Otonomos Level-3
Sebanyak Empat WNA Ditangkap terkait Kasus Perdagangan Rokok Ilegal
Dibangun dari Nol, Kini Ponsel China Rajai Dunia

Pandangan Baru Terhadap Pernikahan

Li Ting, pakar kependudukan di Universitas Renmin China, mengungkapkan bahwa peningkatan tingkat pendidikan dan berkembangnya individualisme di kalangan generasi muda kini membuat pandangan mereka terhadap Pernikahan semakin berubah. Sebelumnya, banyak anak muda menikah setelah lulus atau mulai bekerja, namun sekarang banyak yang menunda Pernikahan hingga mereka berencana memiliki anak. Selain itu, bagi sebagian anak muda, hidup lajang kini dipandang sebagai pilihan yang sadar.

Para pengguna media sosial, seperti di Weibo, mengungkapkan bahwa kebebasan yang didapat saat melajang jauh lebih berharga daripada menikah. Mereka juga lebih memilih untuk tetap melajang jika tidak menemukan pasangan yang tepat.

Pengaruh Ekonomi dan Urbanisasi

Sosiolog Li Yinhe berpendapat bahwa urbanisasi dan modernisasi yang terjadi di China berperan besar dalam meningkatkan jumlah orang yang memilih untuk tetap lajang. Dulu, wanita yang tidak menikah sering kali kesulitan secara ekonomi, namun kini banyak wanita yang mandiri secara finansial dan tidak bergantung pada pasangan, sehingga minat terhadap Pernikahan menurun.

Dampak pada Angka Kelahiran dan Kebijakan Pemerintah

Penurunan angka Pernikahan ini menyebabkan turunnya angka kelahiran di China, yang menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mulai memperkenalkan kebijakan insentif, seperti mengurangi prosedur pendaftaran Pernikahan dan memberi lebih banyak fleksibilitas kepada pasangan. Beberapa daerah juga menawarkan bonus uang tunai bagi pasangan yang baru menikah dan memberikan cuti Pernikahan yang lebih panjang.

Perkembangan "Ekonomi Lajang"

Di sisi lain, ada perkembangan baru yang disebut "ekonomi lajang," di mana lebih banyak orang dewasa muda yang memilih untuk hidup sendiri. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan untuk makanan porsi tunggal, apartemen kecil, serta layanan perjalanan solo yang disesuaikan. Fenomena ini mencerminkan bagaimana pilihan hidup individu semakin dihargai di tengah perubahan sosial yang terjadi.

Li Ting juga mencatat bahwa negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang telah menunjukkan tren serupa dalam beberapa dekade terakhir, dengan semakin banyak orang yang memilih untuk tetap melajang seumur hidup, dan ini bisa menjadi tren yang akan berkembang di China.

***

tags: #china #pernikahan #menurun

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI