Wali Kota Semarang-Disdik Ajak Para Tokoh Beri Masukan terkait Pendidikan Inklusi

“Nanti pada proses anggaran tahun 2026 kami bisa meramunya menjadi program-program untuk anak-anak istimewa di Semarang.

Sabtu, 20 September 2025 | 06:17 WIB - Ragam
Penulis: Holy . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Semarang - Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengajak para tokoh pendidikan Semarang duduk bersama memberi masukan terkait Pendidikan Inklusi.

Hal ini dilakukan saat kegiatan Ngobrol Penting Stakeholder Pendidikan Kota Semarang (NGOPI BARENG) di Quest Hotel Simpang Lima pada Jum'at (19/9/2025). 

BERITA TERKAIT:
Wali Kota Semarang-Disdik Ajak Para Tokoh Beri Masukan terkait Pendidikan Inklusi
Wali Kota Semarang Agustina Dorong Kebangkitan Pasar Tradisional dan UMKM
100 Hari Kerja Wali Kota Semarang Diapresiasi, DPRD Soroti Inovasi dan Lingkungan
Wali Kota Semarang Agustina Tegaskan Pancasila Sebagai Rumah Keberagaman
Wali Kota Semarang Agustina Tegaskan Pancasila Sebagai Rumah Keberagaman

“Nanti pada proses anggaran tahun 2026 kami bisa meramunya menjadi program-program untuk anak-anak istimewa di Semarang. Misalnya yang suka boxing ya harus ada kompetisi boxing, yang suka piano ada kompetisi piano,” tuturnya.

Pemkot Semarang siap mewadahi anak-anak di Kota Semarang agar bisa juara dan berprestasi tak hanya di kancah kota Semarang, provinsi bahkan Nasional dan Internasional.

“Salah satunya, kita punya finalis batik Kalijati di Malaysia. Nah ini kan keren. Saya akan undang supaya bisa jadi semacam ‘icon example‘ bagi anak-anak. Kami akan dorong agar anak-anak berprestasi,” tutup Agustina.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan atau Disdik Kota Semarang, Bambang Pramushinto, mendorong agar sekolah-sekolah di Ibu Kota Jawa Tengah melatih guru-guru sehingga memiliki sertifikasi guru pendidik khusus.

Hal ini untuk mewujudkan sekolah inklusi yang setara dan mampu mewadahi kebutuhan anak-anak istimewa di Kota Semarang.

Bambang menyebut jika Pemkot semarang sudah memiliki regulasi terkait pendidikan inklusi.

“Semarang punya Perwal (Peraturan Walikota) tentang pendidikan inklusi, kemudian ada juga perwal tentang unit layanan disabilitas. Tapi kebijakan regulasi kan dinamis, menyesuaikan perkembangan kebutuhan masyarakat,” kata Bambang.

“Permasalahan pendidikan inklusi kan masih ada, misalkan guru-guru yang punya sertifikasi Pendidik khusus ini masih sedikit. Kami buka masukan-masukan, kami tampung sebagai rekomendasi saat pembahasan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) 2026,” papar Bambang.

Usulan yang jadi masukan, lanjut Bambang, misalnya, terkait penambahan pelatihan guru-guru, atau penambahan sarpras sekolah inklusi untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

“Kami akan diskusi dengan forum anak. Salah satunya, visi pendidikan inklusi kan terkait dengan siswa disabilitas. Kami akan identifikasi,” papar dia.

Termasuk, lanjutnya, kolaborasi dengan kelembagaan yang ada untuk mengisi kebutuhan pendidik di rumah inspirasi di masing-masing kecamatan.

“Kami kolaborasikan dengan RDRM (Rumah Duta Revolusi Mental), ada unit layanan disabilitas. Nanti kami kolaborasikan. Jadi anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Semarang bisa mendapatkan pendidikan yang komprehensif,” papar Bambang.

Di Kota Semarang, menurut Bambang semua sekolah wajib menjadi sekolah inklusi. Hal ini sesuai dengan Peraturan Walikota (Perwal) 76 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Kota Semarang.

Semua Sekolah Wajib Jadi Sekolah Inklusi.“Perwal itu mengamanahkan semua sekolah wajib menjadi sekolah inklusi, enggak boleh nolak anak berkebutuhan khusus. Enggak boleh menolak anak disabilitas,” kata dia.

Menurut Bambang, mendidik anak berkebutuhan khusus tentunya perlu effort dan keterampilan khusus. Sehingga perlu GPK (Guru Pembimbing Khusus) yang bisa mendampingi anak didiknya.

“Kami punya GPK itu hanya 15 guru. Padahal setiap sekolah harus memiliki guru yang punya sertifikasi pendidik khusus Idealnya itu satu sekolah, satu guru yang punya sertifikasi,” sebut dia.

***

tags: #walikota semarang #disdik

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI