Kemenag Tutup STQH Nasional di Kendari

STQH bukan sekadar ajang perlombaan.

Senin, 20 Oktober 2025 | 09:11 WIB - Ragam
Penulis: Hafifah Nurchasanah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Kendari — Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis Nasional (STQHN) XXVIII tahun 2025 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, ditutup pada Sabtu (18/10/2025). Penutupan ini menandai akhir dari seluruh rangkaian ajang yang berlangsung selama lebih dari sepekan dan sekaligus menjadi panggung syiar Al-Qur’an dan hadis di tingkat nasional.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan STQHN. Ia juga mengajak masyarakat Sulawesi Tenggara untuk terus mengamalkan dan menghayati nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

BERITA TERKAIT:
Kemenag Tutup STQH Nasional di Kendari
STQH Nasional 2025 Dongkrak Pendapatan Warga Kendari
Teleskop dan Teodolit Jadi Daya Tarik Pengunjung STQH Nasional 2025
STQH Nasional XXVIII Dimeriahkan Festival Seni Budaya Islam
Menag Nasaruddin Umar Nilai Merawat Lingkungan Bentuk Zikir Sosial

“Penyelenggaraan STQHN Nasional ke-28 di Sulawesi Tenggara ini sungguh luar biasa, bahkan disebut yang terbaik oleh Sekretaris LPTQ Nasional,” ujar Abu Rokhmad.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan STQHN tidak hanya terlihat dari kemeriahan acara dan antusiasme peserta, tetapi juga dari semangat masyarakat Sulawesi Tenggara yang begitu tinggi dalam menyambut kegiatan ini.

“Syiar Al-Qur’an dan hadis semoga tidak hanya dilakukan saat musabaqah seperti ini. Setiap hari, setiap saat, mari kita terus membaca, mengamalkan, dan menghayati isi Al-Qur’an,” pesannya.

Abu Rokhmad menyebut, STQHN bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan sumber nilai dan pedoman hidupnya, yaitu Al-Qur’an dan hadis. Ia berharap, pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran Islam dapat membentuk masyarakat yang damai, beradab, dan berkeadilan.

Selain menjadi media syiar, STQHN juga membawa dampak sosial dan kultural bagi daerah tuan rumah. Selama sembilan hari pelaksanaan, Kota Kendari menjadi pusat perhatian nasional serta simbol harmoni antara nilai religius dan semangat kebangsaan. Pemerintah daerah dan masyarakat dinilai berhasil menjadi tuan rumah yang ramah dan penuh semangat kebersamaan.

“Momentum ini sangat penting dan berkesan bagi kami di Kota Kendari. Spirit Al-Qur’an dan hadis akan tetap kami tinggalkan di Kota Kendari, di Sulawesi Tenggara,” tutup Abu Rokhmad.

***

tags: #stqhn #kementerian agama

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI