Menag Sebut Butuh Waktu & Penghayatan untuk Memahami Ekoteologi

Alam dalam tradisi keagamaan disebut sebagai ayat.

Minggu, 16 November 2025 | 12:35 WIB - Ragam
Penulis: Hafifah Nurchasanah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa sejumlah inisiatif baru Kementerian Agama seperti Kurikulum Cinta, Ekoteologi, dan Trilogi Kerukunan memang membutuhkan waktu untuk dipahami masyarakat secara utuh.

Hal tersebut disampaikan meluncurkan Buku Ekoteologi dan Buku Trilogi Kerukunan di Auditorium KH HM Rasjidi, Gedung KeMenag Thamrin, Jakarta, Jumat (14/11/2025). Pada kesempatan ini Menag juga meluncurkan Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama 2025–2029.

BERITA TERKAIT:
Menag Nasaruddin Umar Tawarkan Model Kerukunan Ekologis Dunia
Menag Nasaruddin Umar Ajak Ulama Dunia Doakan Korban Banjir Sumatra
Menag Sebut Panen Raya Wakaf Produktif Beri Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Hadiri Dzikir Akbar Nasional, Menag Tekankan Peran Tarekat dalam Menjaga Perdamaian Umat
Menag Sebut Pendidikan Profesi Guru Melonjak 700 Persen

“Sampai hari ini masih banyak yang mempertanyakan kurikulum cinta, ekoteologi, serta trilogi kerukunan. Memang butuh waktu, karena semua ini membutuhkan penghayatan pemahaman religi,” ujar Menag.

Menag menjelaskan bahwa alam dalam tradisi keagamaan disebut sebagai ayat, yakni tanda-tanda kebesaran Tuhan. Dalam perspektif teologi, alam dan manusia adalah makhluk, sedangkan Tuhan adalah Sang Pencipta. Karena itu, kesadaran ekologis tidak dapat dilepaskan dari cara agama memandang struktur penciptaan.

Dalam filsafat keislaman, Menag menjelaskan bahwa adanya Jauhar (hal yang berdiri sendiri dan yang berkaitan subtansi) dan Arad adalah bentuk melekat yang sifatnya kejadian atau akibat, “Tanpa memahami jauhar (substansi) dan arad (aksiden), kita tidak bisa memahami ekoteologi. Jauhar dan arad tidak pernah terpisah, seperti sebab dan akibat,” tegas Menag.

Menurutnya, kesadaran bahwa semua makhluk memiliki dimensi batin menjadi dasar etika merawat lingkungan. “Kalau kita sadar semua punya batin, kita tidak mungkin membakar hutan dan menganggap enteng alam ini. Karena itu, membicarakan alam harus melibatkan filsafat,” ujarnya.

Menag mengingatkan bahwa dalam panteisme, merendahkan makhluk sama dengan merendahkan Tuhan, dan memuliakan makhluk juga memuliakan tuhan. Karenanya, Bahasa agama menjadi penting untuk menggerakan umat dalam menjaga alam. “Tanpa bahasa agama, kita tidak sadar bahwa alam ini perlu dilestarikan. Tetapi ketika kita memakai bahasa agama, kita akan memahami urgensinya,” tambahnya.

Sementara, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Ali Ramdhani menjelaskan bahwa penyusunan buku Ekoteologi dilandaskan pada KMA No. 44 Tahun 2025. Karenanya, kehadiran buku ini diharapkan menjadi panduan bagi ASN KeMenag dan pedoman bagi para pemangku kebijakan tentang bagaiamana semestika kita merawat Alam.

“Buku ini bertujuan mengintegrasikan ajaran agama dengan praktik pelestarian lingkungan, sekaligus menginspirasi masyarakat untuk bergerak menyelamatkan bumi,” ucapnya.

Setelah peluncuran, BMBPSDM akan memulai serangkaian gerakan kecil yang berdampak, seperti eco campus, penghapusan minuman kemasan plastik, dan penciptaan balai-balai hijau.

Menurutnya, penyusunan buku dilakukan melalui tahapan yang komprehensif, mulai dari pengumpulan data, FGD, hingga penulisan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. “Kesempatan ini kami sampaikan apresiasi kepada tim penyusun atas selesainya buku ini,” ungkapnya.

Selain Ekoteologi, BMBPSDM juga tengah merampungkan Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama 2025–2029. Sementara, Buku Trilogi Kerukunan, yang juga diluncurkan ini merupakan sebuah gagasan orisinal Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam mencapai kerukunan yang melibatkan Alam, Manusia, dan Tuhan.

***

tags: #menag

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI