Kepala SMAN 1 Wonosobo Ibnu Rochmadi menyerahkan piala LCC Empat Pilar MPR RI kepada Febrian Kent Rakasiwi. Foto : emhaka putra/kuasakata.com

Kepala SMAN 1 Wonosobo Ibnu Rochmadi menyerahkan piala LCC Empat Pilar MPR RI kepada Febrian Kent Rakasiwi. Foto : emhaka putra/kuasakata.com

Hebat, Siswa SMAN 1 Wonosobo Raih Juara 1 Nasional LCC Empat Pilar di MPR RI

Pencapaian ini bukan hanya buah dari kecerdasan, tetapi juga hasil proses pembinaan panjang di sekolah.

Rabu, 26 November 2025 | 10:50 WIB - Ragam
Penulis: Emhaka . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Wonosobo- Tim siswa SMAN 1 Wonosobo Jawa Tengah kembali meraih prestasi bergengsi yakni keluar sebagai juara 1 Nasional Lomba Cerdas Cermat (LCC) empat pilar MPR RI 2025. LCC empat pilar yang digelar Sekretariat Jenderal MPR RI itu sendiri, telah berlangsung di Gedung Bundar MPR RI di Jakarta, pada Senin (17/11) hingga Sabtu (22/11/2025) lalu. 

Tim SMAN 1 Wonosobo, terdiri dari 10 siswa. Mereka adalah Ahmad Abdullah Faqih (XI B), Ihda Anjani Salsabila (XI B), Tabita Prisca Widiastuti (XI E), Febrian Kent Rakasiwi (XII B) dan Kemal Padma Tanaya (XII B). 

BERITA TERKAIT:
Hebat, Siswa SMAN 1 Wonosobo Raih Juara 1 Nasional LCC Empat Pilar di MPR RI
Pidato Kenegaraan Presiden Memacu Motivasi Pemerintahan Jateng
Video Cuplikan Tujuh Presiden Indonesia Warnai, Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI
Sah, Prabowo Subianto Jadi Presiden RI Periode 2024-2029
Hari Ini, Prabowo-Gibran Dilantik Sebagai Presiden dan Wapres RI

Selain itu, juga ada Nadia Talita Anindya (XII B), Aulia Prasetya wati (XII C), Katryna Larasati Zizi S (XII D), Luna Alya Zahra (XII E) dan Talita Budi Yuliana (XII F). Mereka merupakan siswa yang hebat dan luar biasa karena bisa meraih juara I LCC empat pilar tingkat nasional. 

Prestasi tersebut sekaligus menjadikan SMAN 1 sebagai satu-satunya sekolah di Indonesia yang telah tiga kali menjadi juara I nasional LCC empat pilar dan HAM serta sekali juara II untuk kompetisi LCC empat pilar.

Kepala SMAN 1 Wonosobo, Ibnu Rochmadi, menyebut pencapaian ini bukan hanya buah dari kecerdasan, tetapi juga hasil proses pembinaan panjang di sekolah.

“Seleksi di tingkat sekolah saja sudah luar biasa, berdarah-darah. Anak-anak yang masuk tim LCC empat pilar benar-benar siswa yang terbaik. Mereka punya kemampuan akademik dan mental yang kuat,” ujarnya.

Ibnu menceritakan bagaimana para siswa memaksimalkan waktu belajar hingga menjadikan salah satu ruangan di Gedung Bundar sebagai “markas belajar”. Mereka belajar dan berlatih setiap hari untuk mengejar prestasi. 

“Seperti kamar mereka sendiri. Belajar di sana siang-malam. Pernah minta izin latihan malam, tapi tetap saya minta pulang karena harus jaga stamina dan istirahat yang cukup,” tambahnya.

Menurut Ibnu, keberhasilan SMAN 1 tak lepas dari eratnya hubungan lintas angkatan. Dari alumni 1989 hingga Pendamping seperti Pak Narjo dan Pak Pujiono, tetap membersamai anak-anak hingga ke Jakarta—bahkan dengan biaya pribadi.

“Beliau berkomitmen membawa yang terbaik untuk SMAN 1 Wonosobo. Itu yang menginspirasi anak-anak. Persiapan menuju tingkat nasional dilakukan secara intensif selama satu bulan," tegas Ibnu. 

Selain pembinaan rutin dua kali seminggu, lanjut dia, pihak sekolah juga menghadirkan dosen dari Unnes Semarang sebagai mentor. Dana pembinaan mayoritas berasal dari BOS dan BOP SMAN 1 Wonosobo.

DNA Juara
“LCC empat pilar merupakan ikon SMAN 1 Wonosobo, jadi harus maksimal. Saya juga telah meminta para pembina senior untuk membukukan seluruh metode, trik dan strategi pembinaan sebagai warisan bagi generasi selanjutnya," pinta dia.

Sekolah memberikan apresiasi khusus bagi para juara, mulai dari penyambutan hingga dukungan akademik. Selama mengikuti proses LCC empat pilar, karena tidak mengikuti pelajaran lain, mereka diberi dispensasi khusus dan nilai istimewa. 

“Soal nilai pelajaran? Unlimited, pokoknya. Mereka minta berapa pun, ya sudah diberi. Mereka juga punya golden ticket ke Universitas Indonesia (UI) Jakarta, kuota 10 orang,” jelas Ibnu.

Para juara mendapat keleluasaan dalam organisasi, jadwal belajar, hingga bantuan guru untuk mengejar ketertinggalan pelajaran selama masa karantina.

Para siswa mengaku sempat minder melihat lawan-lawan dari kota besar. Karena pesaingnya dari SMAN favorit di seluruh Indonesia. Saat final, tim SMAN 1 Wonosobo berhasil mengalahkan tim dari SMA dari Riau dan Bengkulu. 

“Kami dari kota kecil sempat pesimis. Tapi kami sadar, SMAN 1 punya DNA juara. Alumni saja bisa, kenapa kami tidak?” ujar Febrian Kent Rakasiwi, salah satu anggota tim.

Mereka mengusung semboyan “Satu untuk sepuluh, sepuluh untuk satu” untuk menjaga chemistry dalam tim beranggotakan sepuluh orang.

“Setiap orang punya karakter berbeda, tapi visi kami satu: juara nasional. Ego kami turunkan, kami saling menopang,” tegasnya. 

Bagian tersulit bagi para peserta adalah menguasai topik kasus. Setiap anak harus mengetahui kasus yang terjadi, undang-undang yang ada hingga mampu memberikan solusi bagi kasus yang terjadi. 

“Soalnya tingkat kesulitannya 10. Harus menganalisis pernyataan, relevansi hukum, dan dampaknya. Tidak sekadar hafalan,” ungkap mereka.

Pak Narjo dan Pak Pujiono, pembina senior yang telah mendampingi sejak 2009, tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya. Keduanya dibantu guru baru, yakni Barikna Fachrul Ilham. 

“Saya bangga bisa mengantar anak-anak hingga tingkat nasional berkali-kali. Walau sudah pensiun, saya tetap ikut. SMAN 1 Wonosobo ini ibaratnya sudah seperti rumah saya sendiri,” kata, Pak Narjo.

***

tags: #mpr ri #empat pilar #kabupaten wonosobo #sekretaris jenderal

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI