Bappenas dan Wamensos Bahas Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan
Kemensos berkomitmen menurunkan angka kemiskinan nasional di bawah 5 persen pada 2029.
Rabu, 17 Desember 2025 | 10:00 WIB - Ragam
Penulis:
. Editor: Fauzi
KUASAKATACOM, Jakarta – Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono melakukan audiensi dengan Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas Maliki di Ruang Rapat Lantai 6 Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Selasa (16/12/2025). Pertemuan tersebut membahas penguatan strategi pengentasan kemiskinan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang terukur dan berkelanjutan.
Dalam audiensi itu, Agus Jabo menegaskan komitmen Kemensos dalam menjalankan perintah Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan angka kemiskinan nasional di bawah 5 persen pada 2029 serta menghapus kemiskinan ekstrem menjadi nol persen pada 2026. Menurutnya, kebijakan tersebut harus dieksekusi secara konkret melalui program yang tepat sasaran dan berdampak langsung.
BERITA TERKAIT:
Membangun Desa di Jateng, Gubernur Luthfi: Dikembangkan Sesuai Potensinya
Wamensos Ungkap Tiga Skema Pengentasa Kemiskinan
Bappenas dan Wamensos Bahas Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan
Pemkab Klaten Rumuskan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Tahun 2026
Pemerintah Percepat Program Reforma Agraria untuk Turunkan Kemiskinan Ekstrem
Agus Jabo menjelaskan, saat ini Kemensos fokus pada tiga mandat utama. Pertama, pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) agar seluruh bantuan sosial (bansos) tepat sasaran. Kedua, penguatan program Sekolah Rakyat. Ketiga, pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan.
“Skema Kemensos sendiri di dalam program pengentasan kemiskinan itu dua. Satu, menggunakan jalur graduasi yang dilakukan pendamping PKH. Pak Menteri perintahkan di 2026 itu 400 ribu KPM (graduasi), satu pendamping PKH ditargetkan oleh Pak Menteri minimal 10 KPM tergraduasi. Kedua, (melalui) kampung berdaya Kemensos, kemudian Kemensos bekerjasama dan berkolaborasi dengan pihak-pihak lain,” jelas Agus Jabo.
Ia menjelaskan program Kampung Berdaya Kemensos dimulai di sembilan desa, meliputi Pesodongan (Wonosobo), Kalisalak (Banyumas), Gambuhan (Pemalang), Wlahar (Brebes), Dimoro (Grobogan), Purwosari (Magelang), Ngesrepbalong (Kendal), Peniron (Kebumen), dan Kepuhsari (Wonogiri).
“Dari 9 desa yang kita berdayakan dengan nama Kampung Berdaya Kemensos, kita menggraduasi 300 KPM PKH. Jadi betul-betul konkret, mereka naik kelas dan berani keluar dari bansos dan PKH. Artinya yang kita kerjakan dengan pengalaman setahun kemarin itu efektif,” kata Agus Jabo.
Program pemberdayaan tersebut disesuaikan dengan potensi lokal. Di daerah wisata, Kemensos mendorong penguatan sektor pariwisata. Di wilayah lain, Kemensos bekerja sama dengan mitra swasta dalam pengembangan produk unggulan. Di Desa Kalisalak Banyumas, misalnya, Kemensos bekerja sama dengan PT MAP mengembangkan kerajinan dari enceng gondok yang kini telah menembus pasar ekspor.
“Kita udah ekspor ke Amerika, ini mau ekspor kedua. Artinya masyarakatnya senang, tadinya mereka tidak pegang duit dengan adanya kegiatan ekonomi itu mereka pegang duit. Akhirnya bapak-bapaknya yang siang kerja di sawah, malamnya Ikut membantu bikin keranjang,” kata Agus Jabo.
Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos Mira Riyati Kurniasih melaporkan, hasil serupa. Di Bogor, ratusan KPM telah keluar dari program bantuan setelah mendapatkan intervensi pemberdayaan.
“Di Bogor kemarin saya mendapatkan laporan, 113 KPM PKH sudah keluar dari bansos. Bogor ini kemarin baru kita intervensi untuk program pemberdayaan. Melalui mekanisme off-taker itu yang paling mudah. Artinya semua produknya langsung dibeli oleh perusahaan,” kata Mira.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas Maliki menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat penerima manfaat. Menurutnya, bantuan pemerintah tidak selalu identik dengan bansos.
“Ini yang harus ditekankan bahwa sebenarnya mereka dapet bantuan, tetapi istilahnya naik kelas. Tidak dapet bansos lagi, tetapi dia diberdayakan,” jelas Maliki.
Hadir dalam audiensi, Direktur Penanggulangan kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas Tirta Sutedjo, Direktur Kemandirian Sosial dan Ekonomi Bappenas Dinar Dana Kharisma dan Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil dan Kewirausahaan Sosial Kemensos I Ketut Supena.
Diakhir pertemuan Agus Jabo memberikan cindera mata berupa hasil kerajinan dengan kualitas ekspor dari para KPM PKH kepada jajaran pejabat tinggi Bappenas yang hadir.
***tags: #kemiskinan #bappenas #kemensos
Email: [email protected]
KOMENTAR
BACA JUGA
TERKINI
Kemenkum Jateng Ikuti Penguatan Pelaksanaan Indeks Reformasi Hukum 2026
19 Januari 2026
Tinjau Posko Pengungsian, Wagub Jateng Evakuasi 2 Lansia yang Tampak Lemas
19 Januari 2026
Kinerja Keuangan 2025 Solid, Realisasi Pendapatan Kota Semarang Tembus 92,22%
19 Januari 2026
Unwahas Semarang Gelar International Lecture Series, Hadirkan Konsulat Kehormatan India
19 Januari 2026
Jatubu dan Pengemudi Ojol Tanam 10 Ribu Bibit Kopi di Kawasan Telaga Menjer Garung
19 Januari 2026
Dukung Pemerataan Dokter Spesialis, FK Undip Kirim Residen ke Wilayah 3T
19 Januari 2026
Tiba di Inggris, Presiden Prabowo Bakal Bertemu Raja Charles III dan PM Starmer
19 Januari 2026
Stasiun Tuntang Hadirkan Wisata Perahu Ala Korea, Upaya Angkat Ikon Heritage
19 Januari 2026
Dirjen Imigrasi Amankan 27 WNA Pelaku Sindikat Love Scamming Internasional
19 Januari 2026

