Pelajar Diimbau Waspadai Narkoba Berkemasan Makanan-Minuman
Bandar narkoba tidak hanya menawarkan narkotika dengan bentuk konvensional saja.
Rabu, 17 Desember 2025 | 12:01 WIB - Ragam
Penulis:
. Editor: Fauzi
KUASAKATACOM, Jakarta - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Suyudi Ario Seto meminta pelajar berhati-hati atas jenis narkoba kemasan baru berbahan sintesis kimiawi yang sering ditemukan pada makanan dan minuman.
"Bandar narkoba tidak hanya menawarkan narkotika dengan bentuk konvensional saja, tetapi sekarang sudah membalut dengan kemasan, yaitu dengan narkotika kekinian yang bahannya adalah sintetis kimiawi. Kalau dulu kita kenal ada yang namanya ganja, kokain heroin, morfin, putaw, sekarang ada bentuk kemasan yang lain," jelas Kepala BNN, Selasa (16/12/2025).
BERITA TERKAIT:
Masyarakat Diminta Tak Ragu Laporkan Kasus Penyalahgunaan Narkotika
BNN Sebut Indonesia Hadapi Ancaman Peredaran Gelap Narkotika dan Eskalasi Adiksi Judol
Melalui Pendekatan Agama, Kemenag–BNN Perkuat Pencegahan Narkoba
Baznas Dukung Program BNN dengan Memperkuat Kesehatan dan Pemulihan Masyarakat
Pelajar Diimbau Waspadai Narkoba Berkemasan Makanan-Minuman
narkoba sintetis kimiawi, kata Kepala BNN, dikenal dengan istilah new psychoactive substances (NPS). Jumlah peredaran narkoba ini tersebar di dunia kurang lebih 1.300 lebih jenis dan di Indonesia mempunyai 175 jenis.
"Dikenal dengan NPS, new psychoactive substances. Jumlahnya di dunia ini sudah hampir 1.300 lebih. NPS ini di Indonesia kurang lebih ada 175 jenis," ujar Kepala BNN.
Ia mengungkapkan bahwa terdapat satu jenis narkotika bernama etomidate, masuk ke dalam golongan 2, dan dipergunakan sebagai obat bius. narkoba tersebut sering ditemukan di makanan-makanan ringan, dan jajanan anak-anak.
"Mereka memasukkan narkoba ke kemasan-kemasan, seperti permen, makanan-makanan ringan, cookies, bahkan ke minuman-minuman happy water," ungkapnya.
Adapun, produk-produk itu muncul melalui pergaulan. Suyudi pun menyampaikan bahwa pergaulan digital saat ini bisa sangat mempengaruhi psikologis anak-anak.
Bandar narkoba, tutur Kepala BNN, datang ke kehidupan anak lewat penggunaan gawai, yakni aktivitas mencari informasi dapat menjadi celah awal narkotika masuk melalui tekanan gaya hidup melalui fenomena fear of missing out atau FOMO.
“Tekanan gaya hidup karena melihat di media sosial, standar sosial media, hingga fenomena fear of missing out atau dikenal dengan FOMO. Nah, celah-celah psikologis inilah, seperti rasa cemas, keinginan untuk terlihat keren atau sekedar ingin lari dari masalah. Ini yang seringkali dimanfaatkan oleh sindikat-sindikat narkotika,” tuturnya.
Menurut Kepala BNN, bandar narkoba saat ini sangat gencar menyelundupkan narkoba dengan berbagai cara. Ia mengingatkan kepada para orang tua untuk terus memperhatikan anak-anak dalam pergaulannya, karena narkotika tidak mengenal latar belakang seseorang.
"Narkotika tidak pernah mengenal tempat, tidak pernah mengenal usia, tidak pernah mengenal latar belakang seseorang. Nah, ini harus hati-hati, bapak-ibu sekalian," ucapnya.
***Email: [email protected]
KOMENTAR
BACA JUGA
TERKINI
Kemenkum Jateng Ikuti Penguatan Pelaksanaan Indeks Reformasi Hukum 2026
19 Januari 2026
Tinjau Posko Pengungsian, Wagub Jateng Evakuasi 2 Lansia yang Tampak Lemas
19 Januari 2026
Kinerja Keuangan 2025 Solid, Realisasi Pendapatan Kota Semarang Tembus 92,22%
19 Januari 2026
Unwahas Semarang Gelar International Lecture Series, Hadirkan Konsulat Kehormatan India
19 Januari 2026
Jatubu dan Pengemudi Ojol Tanam 10 Ribu Bibit Kopi di Kawasan Telaga Menjer Garung
19 Januari 2026
Dukung Pemerataan Dokter Spesialis, FK Undip Kirim Residen ke Wilayah 3T
19 Januari 2026
Tiba di Inggris, Presiden Prabowo Bakal Bertemu Raja Charles III dan PM Starmer
19 Januari 2026
Stasiun Tuntang Hadirkan Wisata Perahu Ala Korea, Upaya Angkat Ikon Heritage
19 Januari 2026
Dirjen Imigrasi Amankan 27 WNA Pelaku Sindikat Love Scamming Internasional
19 Januari 2026

