Penulis buku

Penulis buku "Tembakau di Purbalingga: Sejarah dan Perkembangannya" Agus Sukoco menyerahkan buku tersebut kepada Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, saat Launching dan Bedah Buku di Graha Adiguna Kompleks Pemkab Purbalingga, Kamis (23/7), Foto: KUASAKATACOM

Tembakau Purbalingga, Riwayatmu Kini....

Perkebunan tembakau rakyat di Purbalingga masih tersisa di dua desa di lereng Gunung Slamet, Desa Kutabawa dan Serang, Kecamatan Karangreja.

Jumat, 24 Juli 2020 | 08:02 WIB - Ragam
Penulis: Joko Santoso . Editor: Ririn

KUASAKATACOM, Purbalingga – Industri tembakau di Kabupaten Purbalingga memiliki sejarah panjang yang indah.  Di era kolonialisme, tembakau dari lereng Gunung Slamet tersebut pernah merajai pasaran eropa dan mendunia.  Walaupun kini tinggal cerita masa lalu yang indah.

"Karena tembakau rakyat Purbalingga lahannya hanya tersisa sekitar 12 hektare (ha) dan ditanam bukan sebagai komoditas utama, melainkan sebagai tanaman sela.  Lokasinya hanya ada di Desa Kutabawa dan Desa Serang Kecamatan Karangreja," kata Gunanto, Eko Saputro, salah satu penulis buku tersebut.

Fakta tersebut mengemuka dalam peluncuran buku tembakau di Purbalinggasejarah dan Perkembanganya di Graha Adiguna Kompleks Pemkab Purbalingga, Kamis (23/7).  buku ditulis oleh Abdul Azis Rasjid, Agus Sukoco,  Anita Wiryo Rahardjo, Ganda Kurniawan dan Gunanto Eko Saputro. Acara tersebut dihadiri oleh Kantor Perwakilan Pelayanan Bea dan Cukai Purwokerto, dinas/instansi terkait, petani tembakau, perusahaan penyetor cukai di Purbalingga, pelaku sejarah industri tembakau dan para jurnalis.

Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum Yanuar Abidin yang hadir mewakili Bupati Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi)  mengapresiasi diterbitkannya buku tersebut. "Saya yakin buku ini telah melalui riset dan kajian yang mendalam mengenai tembakau di Purbalingga sehingga bisa menjadi rujukan dalam pengembagan tembakau kedepan," katanya.

Menurut Yanuar, pada masanya tembakau Purbalingga dikenal dengan kualitas premiumnya yang dijadikan sebagai bahan pembungkus cerutu di pasar Eropa. Menilik sejarah inilah, tembakau Purbalingga menjadi primadona dan menjadi salah satu latar belakang Belanda melakukan praktek kolonialismenya di Purbalingga pada masa itu. "Bahkan pada saat itu Belanda sampai mendirikan pabrik tembakau di Purbalingga," ujarnya.

Masa keemasan tembakau Purbalingga bertahan sampai era PT GMIT yang bergerak di sektor ekspor daun tembakau produksi Purbalingga. Sayangnya, PT GMIT kemudian meredup dan berhenti beroperasi pada 1981. Saat ini, meskipun tembakau Purbalingga tidak lagi untuk mencukupi komoditas ekspor, namun masih ada yang membudidayakanya.

Perkebunan tembakau rakyat di Purbalingga masih tersisa di dua desa di lereng Gunung Slamet, Desa Kutabawa dan Serang, Kecamatan Karangreja. Namun, jumlahnya hanya belasanan hektar. Itu pun sebagian besar berupa tanaman sela yang lebih banyak untuk konsumsi sendiri, kalaupun dijual di kalangan terbatas saja.

Kepala Bagian Perekonomian Ir. Purnawan Setiadi menambahkan bahwa pencetakan buku tersebut dibiayai dari alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil tembakau (DBHCHT). "Meskipun lahan tembakaunya minim, Purbalingga masih memiliki perusahaan rokok sehingga ditetapkan sebagai daerah penerima cukai hasil tembakau," ujar Purnawan

Purnawan menyebutkan, setoran cukai hasil tembakau dari Purbalingga hampir Rp. 145 milyar. Setorannya berasal dari PT. MKTU yang beralamat di Desa Karangjambe, Kecamatan Padamara sebesar Rp. 143 milyar. Kemudian, dari CV King Brewery di Kelurahan Bancar, Kecamatan Purbalingga yang merupakan produsen liquid vape sebesar Rp. 1,2 milyar.

Kemudian, berdasarkan setoran tersebut, melalui Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020 tentang Rincian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil tembakau Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota, Kabupaten Purbalingga diberikan alokasi DBHCHT tahun 2020 sebesar Rp. 6,9 milyar. Dana tersebut digunakan untuk membiayai 24 kegiatan pada 13 instansi terkait yang sebagian besar digunakan untuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). "Khusus pada tahun ini ada alokasi anggaran untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp 1,78 milyar.

Bagian Perekonomian, selaku Sekretariat DBHCHT melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi tembakau di Purbalingga. "Selain pemberdayaan dan bantuan sarana  prasarana bagi petani tembakau, salah satu yang juga dilakukan adalah menggali sejarah kejayaan tembakau Purbalingga," tutupnya.

BERITA TERKAIT:
Pemkab Temanggung Jamin 90 Persen Tembakau yang Ditanam Petani Jenis Kemloko
Panen Tembakau, Pemkab Temanggung Gelar Doa Bersama
APTI Jateng Desak Pemerintah Agar Kaji Ulang Kebijakan Terkait Tembakau
Tembakau Purbalingga, Riwayatmu Kini....
Diserang Hama, Tanaman Tembakau di Kendal Mati
Kepolisian Bekuk Seorang Produsen Tembakau Gorila Jaringan Nasional
Bupati Minta Industri Rokok Tetap Beli Tembakau Petani Temanggung


tags: #tembakau #purbalingga #sejarah #buku

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI