Sebuah tiang papan baliho permanen dibangun di depan Siti Hinggil di Kompleks Keraton Solo sejak awal September 2020. Lembaga Dewan Adat menentang pembangunan tersebut. Foto: Istimewa.

Sebuah tiang papan baliho permanen dibangun di depan Siti Hinggil di Kompleks Keraton Solo sejak awal September 2020. Lembaga Dewan Adat menentang pembangunan tersebut. Foto: Istimewa.

Dewan Adat Tentang Pendirian Baliho di Depan Siti Hinggil Keraton Solo

Lembaga Dewan Adat Keraton Solo, menyatakan Dewan Adat menentang pendirian baliho tersebut.

Rabu, 16 September 2020 | 14:37 WIB - Budaya
Penulis: Fauzi . Editor: Ririn

KUASAKATACOM - Solo - Papan baliho berbahan besi cor terpasang di depan Siti Hinggil Alun-Alun Kidul (Alkid) Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo sejak pekan kemarin. Sontak, pemasangan baliho di Keraton Solo itu bikin heboh.

Baliho permanen yang dibangun di area Alkid tersebut diprediksi bakal menutupi tampak depan Siti Hinggil sehingga merusak estetika. Di samping itu, baliho itu juga dinilai melanggar Undang-undang Cagar Budaya.

Sebelumnya, beredar video percakapan antara anak keturunan Paku Buwono (PB). Dalam video itu, Gusti Moeng bersama cucu PB XIII tampak menjelaskan alasan mengapa dia menentang pendirian baliho permanen di Siti Hinggil Keraton Solo.

Gusti Moeng, yang merupakan Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Solo, menyatakan Dewan Adat menentang pendirian baliho tersebut. Sikap tersebut sesuai Undang-undang No. 11/2010 tentang Cagar Budaya, setiap orang dilarang menambah bangunan permanen di kawasan cagar budaya, termasuk di Keraton Solo.

Kecuali, bangunan semipermanen dan bisa dibongkar sewaktu-waktu tanpa merusak bangunan cagar budaya.

“Baliho itu akan menutupi bangunan utama, Siti Hinggil. Lalu dibangunnya juga mepet [hampir menempel] pagar Siti Hinggil. Ini membahayakan kalau-kalau terkena angin dan roboh, bisa menimpa masyarakat, bahkan pagar Siti Hinggil sendiri,” jelasnya, Selasa (15/9/2020).

Lebih lanjut, Gusti Moeng menegaskan bakal menentang siapa pun yang memasang baliho permanen di area milik Keratan Solo tersebut. Meskipun jika pemasangan baliho permanen tersebut mengatasnamakan Sinuhun PB XIII.

“Ini kan tindakan di luar pakem, bahkan cenderung melawan hukum. Kalau mengatasnamakan Sinuhun, kakak saya, maka Sinuhun yang akan kena akibatnya. Padahal, bisa jadi ini adalah ulah oknum di belakangnya,” pungkasnya.

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI