Warga geruduk Balai Desa Pasuruan Kidul Kudus tuntut pabrik tahu ditutup, Rabu (16/9), Foto: Istimewa

Warga geruduk Balai Desa Pasuruan Kidul Kudus tuntut pabrik tahu ditutup, Rabu (16/9), Foto: Istimewa

Pabrik Tahu Cemari Air, Warga Geruduk Balai Desa di Kudus

Kedua pabrik tahu tersebut tidak mengantongi surat izin.

Rabu, 16 September 2020 | 14:47 WIB - Ragam
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Kudus - Warga Desa Pasuruan Kidul Kecamatan Jati Kudus Jawa Tengah menggeruduk kantor balai desa setempat, Rabu (16/9) sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka menuntut agar pabrik tahu di desa tersebut ditutup karena mencemari lingkungan.

Massa mengenakan masker dan menjaga jarak saat aksi demo. Selain itu membawa berbagai macam tulisan untuk meminta menutup pabrik tahu seperti "jangan lindungi pencemaran limbah, kasihan keluarga kami pak", "kami butuh air bersih untuk hidup", dan "tutup pabrik tahu".

Koordinator Aksi warga Desa Pasuruan Lor Mintarno mengatakan pabrik tahu tersebut berdiri di Desa Pasuruan Kidul sejak tahun 2012. Kedua pabrik terletak di RT 6 RW 2 dan RT 3 RW 1 Desa Pasuruan Kidul Kecamatan Jati, Kudus. Pabrik tahu tersebut bahkan sampai sekarang belum berizin.

"Sejak tahun 2012 sampai saat ini pabrik tahu itu belum ada izin resmi maupun izin amdal tapi yang pengusaha seakan-akan pengusaha pabrik tahu tidak mengetahuinya. Sehingga banyak lingkungan yang terganggu," ungkap Mintarno, Rabu (16/9/2020).

Mintarno menambahkan awalnya sudah ada tanda-tanda pencemaran lingkungan akibat operasional dari pabrik tersebut. Semakin lama, lingkungan di sekitar pabrik terdampak dari limbah tahu.

"Contohnya, air tidak sedap, air sungai bahkan tercemar. Makanya tidak lain tuntutan kami telah ditunggu kesempatan ini paling terakhir, karena sudah tidak kuat menahan bau dan tidak kuat air limbah," ujar dia.

"Kondisi dekat (pabrik tahu) sudah dibor baunya tidak enak, (air) tidak layak dikonsumsi dalam sehari-hari," sambungnya.

Maka dari itu, warga menuntut agar kedua pabrik tahu tersebut ditutup. Bahkan jika tuntutan tidak direalisasikan akan kembali menggelar aksi dengan lebih besar.

"Untuk itu masyarakat Pasuruan Kidul menuntut tidak lain harga mati pabrik tahu harus ditutup saat ini," tegas dia.

Sementara itu, Sekcam Jati Djunaedi mengaku setelah audiensi sekitar tiga jam, diputuskan kedua pabrik tersebut ditutup.

"Jadi karena intinya pengusaha tahu itu, intinya belum ada izin, seperti ipalnya, izin dari usaha, IMB juga belum. Warga sudah memberikan tolerasi. Mestinya sudah diberikan toleransi. Puncaknya menuntut biar tidak operasi lagi. Kesimpulannya ditutup karena tidak memiliki izin," ujarnya.

Usai pabrik tahu diputuskan ditutup, akhirnya massa membubarkan diri pada sekitar pukul 12.15 WIB.

Di sisi lain, pengusaha Pabrik Tahu Agus Nur Salim menerima keputusan penutupan izin usaha. "Artinya menerima dengan keputusan ini, nanti kita komunikasi nanti kita cukupi izin, setelah izin ada kita lengkap untuk ngetes limbah kita," tukasnya.

Sementara Pemilik Pabrik Tahu yang lain Zudron menambahkan dirinya belum menerima keputusan penutupan pabrik tahu. Namun dia mengakui masih belum ada izin lingkungan terkait usahanya tersebut.

"Kadar kesalahan kita sama, saya belum menerima. Saya belum menerima, artinya begini masih ada jalan. Nanti peluang bangkit saya juga bangkit. Yang belum izin warga sama lingkungannya saja," pungkasnya.

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI