BPBD Banjarnegara Intensifkan Pemantauan Wilayah Rawan Bencana

Adanya sosialisasi itu, memungkinkan masyarakat mengetahui tingkat bahaya.

Rabu, 21 Oktober 2020 | 11:10 WIB - Ragam
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Banjarnegara- Pemantauan terhadap sejumlah wilayah di Banjarnegara, Jawa Tengah, yang rawan bencana tanah longsor terus diintensifkan Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) setempat.

"Pemantauan terus kami lakukan di wilayah rawan tanah longsor sebagai upaya mitigasi bencana," ucap Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara Aris Sudaryanto di Banjarnegara, Selasa (20/10/2020).

Adanya peningkatan curah hujan di Banjarnegara, kata Aris Sudaryanto, membuat pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana longsor.

BERITA TERKAIT:
Banjarnegara Perpanjang Status Tanggap Darurat Longsor
Suwidak Banjarnegara Longsor, 25 Warga Masih Mengungsi
BPBD Banjarnegara Gencar Sosialisasi Mitigasi Bencana
BPBD Banjarnegara Terus Pantau Pergerakan Tanah di Kalitlaga
Longsor, Jalur Sigaluh-Banjarnegara Sudah Dapat Dilewati Kendaraan
BPBD Banjarnegara Susun Peta Daerah Rawan Longsor
BPBD Banjarnegara Intensifkan Pemantauan Wilayah Rawan Bencana

Aris mengatakan ada sejumlah kecamatan yang dikhawatirkan rawan bencana tanah longsor antara lain Wanayasa, Banjarmangu, Susukan, Pagentan dan Punggelan.

"Pada saat ini kami prioritaskan pemantauan di desa-desa yang ada di lima kecamatan tersebut," lanjutnya.

Masyarakat pun diminta Aris untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana. "Masyarakat agar tidak panik menghadapi peningkatan curah hujan namun harus tetap waspada dan selalu berdoa, agar kondisi tetap aman terkendali," tandasnya.

SebelumnyaDr. Indra Permanajati, seorang akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengingatkan bahwa sosialisasi bencana hidrometeorologi perlu digencarkan dengan memanfaatkan media sosial guna mempercepat informasi.

Informasi itu, kata Indra yang juga merupakan koordinator bidang bencana geologi Pusat Mitigasi bencana Unsoed tersebut mengatakan perlu diberikan ke mastarakat agar mereka mengetahuit potensi bencana yang bisa terjadi di wilayah tempat tinggalnya.

Tiap daerah, jelas Indra mempunyai potensi yang berbeda tergantung kondisi geologi dan lingkungan sekitarnya.

"Bentuk aliran sungai, besarnya daerah aliran sungai, morfologi dan morfometri kelerengan bukit, pemukiman, intensitas aliran sungai dan kerusakan-kerusakan lingkungan sekitar merupakan parameter yang bisa dijadikan acuan menentukan tingkat bahaya bencana," terangnya.

Adanya sosialisasi itu, lanjut Indra, memungkinkan masyarakat mengetahui tingkat bahaya. Sedangkan kemungkinan bencana dapat dibedakan dari besarnya potensi yang ada.

"Masyarakat yang hidup di daerah perbukitan yang rawan longsor dan sepanjang aliran sungai menjadi fokus area yang paling berisiko terhadap bencana hidrometerologi," ungkapnya.


tags: #bpbd banjarnegara #bencana #rawan longsor #kabupaten banjarnegara

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI