Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron. Foto: Istimewa.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron. Foto: Istimewa.

KPK Sayangkan Langkah Unnes Skors Mahasiswa Pelapor Dugaan Korupsi Rektor

Setelah enam bulan dikembalikan kepada orangtuanya, Frans akan kembali dievaluasi untuk mengetahui adanya perubahan atau tidak.

Selasa, 17 November 2020 | 11:16 WIB - Ragam
Penulis: Arya Jkt . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta - Keputusan Universitas Negeri Semarang (Unnes) menskors mahasiswanya yang melaporkan rektornya ke lembaga antirasuah menuai banyak reaksi dari berbagai kalangan. Salah satunya, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron.

Ghufron menyayangkan langkah Unnes yang telah menskors mahasiswa tersebut. Menurutnya, melaporkan dugaan korupsi adalah hak semua orang. “Perlu diketahui bahwa adalah hak masyarakat untuk melaporkan jika mengetahui adanya tindak pidana,” jelasnya, Senin, 16 November 2020.

Ghufron mengatakan, dalam Pasal 41 Ayat 1 UU Tipikor disebutkan bahwa masyarakat dapat berperan serta membantu upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi. Berdasar pada UU tersebut, lanjutnya, melaporkan dugaan korupsi seharusnya dilindungi oleh Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Oleh karena itu, Ghufron sangat menyayangkan ada pihak yang memberikan sanksi kepada masyarakat yang melaporkan tindak pidana korupsi. “Hal tersebut sangat disayangkan,” ujarnya.

Sebaliknya, lanjut Ghufron, negara bahkan telah menyiapkan penghargaan atas siapapun yang melaporkan dugaan korupsi.

Sebelumnya diberitakan, Frans Napitu dikembalikan ke orang tuanya setelah melaporkan dugaan korupsi Rektor Unnes Fathur Rokhman ke KPK. Dekan Fakultas Hukum Unnes, Rodiyah mengatakan, langkah tersebut berdasar pada surat keputusan Nomor: T/7658/UN37.1.8/KM/2020, tertanggal 16 November 2020, tentang Pengembalian Pembinaan Moral Karakter Frans Josua Napitu NIM 8111416166 kepada Orang Tua.

Rodiyah menuturkan bahwa surat keputusan tersebut ditujukan kepada Pordinan Napitu selaku orang tua Frans Josua Napitu. Menurutnya, surat itu juga dibuat setelah melalui pertimbangan tim yang dibentuk usai laporan Frans ke KPK pada pekan lalu. "Surat pemberitahuan sudah kami kirimkan kepada orangtua yang bersangkutan melalui PT Pos serta pemberitahuan melalui Whatsapp," kata Rodiyah di Semarang, Senin, 16 November 2020.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bersamaan dengan keputusan itu, perguruan tinggi itu juga menunda seluruh kewajiban Frans Napitu sebagai mahasiswa Unnes untuk enam bulan ke depan. Menurut Rodiyah, pengembalian Frans Napitu ke orang tuanya tersebut belum merupakan sanksi atas tindakannya yang dinilai telah menurunkan reputasi Unnes. Ia menambahkan, setelah enam bulan dikembalikan kepada orangtuanya, Frans akan kembali dievaluasi untuk mengetahui adanya perubahan atau tidak.

Rodiyah mengaku, pembinaan terhadap mahasiswa semester 9 tersebut bukan  yang pertama. Sebelumnya, sejumlah teguran juga diberikan kepada Frans atas beberapa perbuatan, seperti menyampaikan tuduhan adanya plagiasi yang dilakukan rektor, memimpin aksi yang menuduh rektor melakukan penindasan, hingga unggahan di media sosial tentang dukungan terhadap kelompok separatis di Papua.

Menanggapi hal tersebut, Frans membantah dirinya adalah simpatisan OPM. Mahasiswa program Bidik Misi itu mengatakan itu adalah fitnah. Dia menceritakan tudingan itu muncul hanya karena dirinya pernah mengunggah di media sosial mengenai dukungannya terhadap aksi demo menolak kekerasan di Papua yang bertajuk papua lives matter. “Itu fitnah,” tegas Frans.

BERITA TERKAIT:
KPK Sayangkan Langkah Unnes Skors Mahasiswa Pelapor Dugaan Korupsi Rektor


tags: #dugaan korupsi #dugaan korupsi rektor unnes #wakil ketua komisi pemberantasan korupsi #unnes skors mahasiswa pelapor dugaan korupsi #kpk sayangkan langkah unnes

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI