Walden Van Houten (kemeja kotak kotak) saat memberikan keterangan terkait kasus penipuan yang menimpa dirinya

Walden Van Houten (kemeja kotak kotak) saat memberikan keterangan terkait kasus penipuan yang menimpa dirinya

Beli Rumah, Walden Warga Kota Semarang Malah Ditipu Penjual

Walden menuturkan penipuan tersebut yaitu penjual rumah menyatakan rumahnya tak bermasalah. Namun dalam perkembangan waktu ia mengetahui bahwa rumah yang dibelinya seharga 450 juta itu ternyata berdiri diatas lahan hijau. 

Rabu, 02 Desember 2020 | 08:05 WIB - Ragam
Penulis: Holy . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Semarang - Nasib malang menimpa Walden Van Houten seorang warga Kota Semarang, Jawa Tengah. Berniat membeli dan menempati rumah di kawasan  Perumahan Gombel Elok Raya, ia malah menjadi korban penipuan dari penjual dan mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari salah satu Bank BUMN. 

Ketika ditemui di Law Office Hendra Wijaya dan Partners yang beralamat di Jalan Erlangga Raya No 41C Kota Semarang, Selasa (1/12/2020), Walden menuturkan penipuan tersebut yaitu penjual rumah menyatakan rumahnya tak bermasalah. Namun dalam perkembangan waktu ia mengetahui bahwa rumah yang dibelinya seharga 450 juta itu ternyata berdiri diatas lahan hijau. 

Mengetahui hal itu, ia pun tak tinggal diam. Dia mengaku telah melaporkan kasus tersebut ke pihak berwenang. 

BERITA TERKAIT:
Tim Hukum Walden Sayangkan Sikap BNI yang Meminta Adanya Laporan Polisi untuk Blokir Cek
Beli Rumah, Walden Warga Kota Semarang Malah Ditipu Penjual

"Sudah saya laporkan ke Polda (Jateng). Si penjual bilang kalau rumahnya aman, tidak bermasalah tapi ternyata berdiri di atas lahan hijau," ujar Walden, didampingi Kuasa Hukumnya dari Law Office Hendra Wijaya, Febrian Prima. 

Walden menuturkan, rumah yang dibelinya itu luasnya berukuran 96 meter persegi. Rumah itu ia beli sejak tahun 2018. Untuk mendapatkan rumah itu, tak tanggung tanggung ia memasang uang muka sebesar Rp 270 juta. Sementara kekurangannya ia bayar melalui skema cicilan selama 36 bulan melalui bank BNI. 

Cicilan rumah itu pun berjalan mulus hingga 21 kali karena dirinya belum mengetahui jika rumah tersebut ternyata bermasalah. Ketika akan memasuki cicilan ke 22, ia baru mengetahui jika rumah tersebut berdiri diatas lahan hijau. 

Mengetahui hal itu, pihaknya langsung meminta pihak Bank BNI agar membokir cek pembayaran yang ia berikan kepada penjual. Namun, pihak bank malah langsung menolak permohonan blokir tersebut. 

"Pihak bank katanya mendasarkan pada ketentuan butir II.A Nomor 16 pada Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 9/13/DASP tentang Daftar Hitam Nasional Penarik Cek," jelasnya. 

Ia pun merasa heran dengan keputusan pihak bank itu. Rasa heran itu bertambah saat dirinya disarankan agar membuat laporan kehilangan agar cek pembayaran tersebut supaya bisa diblokir.

"Anehnya supervisor bank malah menyarankan saya agar membuat laporan kehilangan. Padahal kan cek saya nggak hilang. Artinya anjuran bank ini tidak benar, justru menjebak saya sebagai nasabah," ungkap Walden
 


tags: #walden van houten

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI