dr. Sugeng Ibrahim M.Biomed, Foto: KUASAKATACOM

dr. Sugeng Ibrahim M.Biomed, Foto: KUASAKATACOM

Vaksinasi Covid- 19 Dimulai, Begini Tanggapan Dokter Sugeng

Orang yang sudah pernah terkena Covid-19 tidak perlu untuk divaksin karena sudah memiliki kekebalan tubuh alami yang didapat dari virus tersebut. 

Rabu, 13 Januari 2021 | 14:58 WIB - Kesehatan
Penulis: - . Editor: Ririn

KUASAKATACOM, Semarang – Hari ini, Rabu (13/1) Indonesia mulai menjalankan program vaksinasi Covid-19 buatan Sinovac. Presiden Jokowi divaksin dan menjadi orang pertama yang disuntik.  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberi izin penggunaan vaksin Sinovac. Dengan izin tersebut, vaksin CoronaVac produksi Sinovac Life Science Co. Ltd. China dan PT Bio Farma (Persero) dapat digunakan untuk program vaksinasi.
 
Terkait vaksin Sinovac, tim KUASAKATACOM mewawancarai dr. Sugeng Ibrahim M.Biomed yang merupakan Kepala Departemen Biologi Molekuler di Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata. Begini tanggapan Dokter Sugeng.

Efikasi

Pemberian izin penggunaan darurat vaksin Sinovac sudah sesuai data analisis dan uji klinis. Dari uji klinis yang dilakukan, Indonesia mempunyai tingkat efikasi 65,3 persen. Hasil efikasi ini cenderung lebih rendah ketimbang negara lain, meskipun sudah memenuhi syarat minimal WHO yaitu 50 persen. 

BERITA TERKAIT:
Pesta Usai Divaksin, Sidang Gugatan Raffi Ahmad Digelar 27 Januari
Pesta Usai Divaksin, Raffi Ahmad Dilaporkan ke Polda Metrojaya
Azis Syamsuddin Nilai Tindakan Raffi Ahmad Sangat Tak Terpuji
Trending Lagi, Warganet Minta Raffi Ditangkap
Ini Empat Hidangan Menyehatkan Pascavaksinasi
Viral Berpesta Usai Divaksin, Raffi Ahmad Minta Maaf
dr Tirta: Ulah Raffi Ahmad Pukulan Keras Bagi Istana, Dampaknya Parah

“Kenapa efikasi di Brasil dan India bisa sampai 75 persen, karena kelompok risiko yang diobati itu adalah kelompok risiko tenaga medis, jadi efikasinya tentu akan lebih baik,” ujar Dokter Sugeng.

Angka efikasi menandakan harapan bahwa vaksin Sinovac mampu melindungi 65,3 persen orang sehingga bisa menurunkan kejadian infeksi Covid-19. Ketika persentase orang yang mendapat vaksin lebih besar, maka untuk memperketat sisanya (belum divaksin) akan menjadi lebih mudah.

Efek Samping

Vaksin Sinovac diberikan dalam dua dosis dengan rentan jarak penyuntikan 14 hari setelah vaksin pertama.  “Risikonya tidak lebih dari 5 persen jadi vaksin itu boleh digunakan,” ucapnya. Menurut Dokter Sugeng, hal ini bisa digambarkan dengan perumpamaan ketika 100 orang dicoba, yang terkena efek tidak boleh lebih dari 5 orang.

Ia menyebut vaksin tidak menimbulkan risiko serius hingga membuat orang sakit sampai meninggal. Efek samping yang ditimbulkan bersifat ringan seperti sehabis disuntik akan merasa nyeri, bengkak, hingga meriang.

Jangka Panjang

Kehadiran vaksin memang sangat membantu masyarakat dalam memerangi  pandemi Covid-19. Selain gratis dan mempunyai manfaat jangka panjang, vaksin ini juga terbukti cukup ampuh dalam mengurangi angka penyebaran virus.

Dokter Sugeng yang juga merupakan Direktur Kampanye Gerakan Pakai Masker, tetap  menyarankan masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan yang ada. Istilah yang ia gunakan adalah MASNGAWI (Masker, Ngadoh, Wijik) dalam aktivitas sehari-hari. 

“Vaksin ini manfaatnya besar, tetapi jangan sampai mengendorkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Kelompok Inklusi dan Eksklusi

Pemberian vaksin harus dengan pertimbangan dari kondisi tubuh termasuk penyakit yang diderita. Kriteria inklusi (orang yang bisa divaksin) adalah orang yang belum pernah terpapar Covid-19 dan berusia 19-60 tahun. 

Sedangkan ada beberapa kondisi yang membuat vaksin Covid-19 tidak dapat diberikan kepada seseorang (eksklusi). Berikut ini kriteria eksklusi menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI): 

1.    Penyakit jantung yang berat;
2.    Penyakit hipertensi yang tidak terkendali;
3.    Gagal ginjal;
4.    Penyakit imunitas yang berat, seperti penyakit gula;
5.    Orang yang sedang melakukan imunisasi;
6.    Orang hamil atau berencana hamil.

Penting diingat orang yang sudah pernah terkena Covid-19 tidak perlu untuk divaksin karena sudah memiliki kekebalan tubuh alami yang didapat dari virus tersebut. 

Terkait tagar #TolakDivaksinSinovac sempat ramai di Twitter beberapa hari menjelang vaksinasi. Banyak yang mengemukakan pendapat mengenai bahaya vaksin untuk kondisi tertentu.  Warganet mengaitkan isu tersebut dengan peraturan mengenai hukuman dan denda bila menolak vaksin. Melihat isu tersebut Dokter Sugeng menyebutkan mereka berhak untuk menolak divaksin.  “Dia boleh nolak tapi jangan kampanye supaya orang lain nolak, kalo gitu penjara,” ungkapnya. 

Lebih lanjut ia menilai masyarakat masih perlu mendalami edukasi tentang vaksin ini agar tidak salah tangkap.

Herd Immunity

Setelah vaksin dilakukan akan terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Menurut beliau kekebalan kelompok baru tercapai bila yang tertular 80 persen atau yang divaksin 80 persen dari kelompok risiko.  Ia menyatakan berdasarkan statistik  yang telah ditetapkan, kelompok risiko ini adalah rentang umur 19-60 tahun. Sedangkan kelompok di bawah umur 19 memiliki tingkat kematian sebesar 1,5 persen.  

“Saat ini Indonesia berkomitmen dengan menyediakan dosis vaksin sebanyak 110 juta . Ya sudah dijalani saja dulu demi menekan risiko yang ada,” tuturnya.

Ketika imunitas sudah mencapai batas idealnya yaitu 80 persen dari kelompok sasaran (umur 19-60 tahun) maka virus tidak lagi menjadi ancaman. Dokter Sugeng pun berharap tahun depan vaksin merah putih yang dibuat Eijkman sudah jadi dan siap diedarkan.

*Berita di atas ditulis oleh Bela dan Carol, reporter magang KUASAKATACOM


tags: #jokowi divaksin #dr. sugeng ibrahim m.biomed

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI