Tangkapan layar Dini Widiastuti Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia dalam Zoom Meeting

Tangkapan layar Dini Widiastuti Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia dalam Zoom Meeting

Perkawinan Anak di Indonesia: Sudah Lama Terjadi, Perlu Upaya Ekstra dari Berbagai Pihak

Upaya pencegahan perkawinan anak sudah dilakukan sejak lama.

Kamis, 11 Februari 2021 | 13:22 WIB - Ragam
Penulis: - . Editor: Ririn

KUASAKATACOM, Jakarta – Dalam Konferensi Pers Respons Terhadap Kasus promosi perkawinan anak oleh Gerakan Masyarakat Sipil Untuk Penghapusan Perkawinan Anak yang difasilitasi oleh Yayasan Plan International Indonesia, berbagai lembaga menyatakan perlu upaya ekstra dari pemerintah, masyarakat, dan stakeholder.

Kasus perkawinan anak ini mencuat setelah viralnya kiriman di media sosial atas nama Aisha Weddings yang mempromosikan perkawinan anak di bawah umur.

BERITA TERKAIT:
Perkawinan Anak di Indonesia: Sudah Lama Terjadi, Perlu Upaya Ekstra dari Berbagai Pihak
Ketua LBH APIK: Aisha Wedding Promosikan Pedofilia
Aisha Weddings Promosikan Nikah Usia 12 Tahun, Muhammadiyah: Tidak Bisa Dibenarkan!
KPAI Kecam Aisha Weddings Terkait Anjuran Nikah Muda
Anjurkan Nikah Usia 12 Tahun, Aisha Weddings Banjir Kecaman

Menurut International NGO Forum on Indonesian Development yang diwakili Dian Kartikasari, upaya pencegahan perkawinan anak sudah dilakukan sejak lama. Dari pengupayaan perubahan legislasi, yakni koalisi perempuan yang mengajukan judicial review ke MK. Perjuangan grassroot juga telah dilakukan dengan pembuatan pusat-pusat pengaduan perkawinan anak hingga sampai ke desa-desa.

Permasalahan adalah banyak desa yang belum mengetahui dan memiliki aturan tentang perkawinan anak. "Jumlahnya sangat banyak yaitu 74 ribu desa yang sampai hari ini masih belum tersentuh," kata Dian.

Dini Widiastuti Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia juga fokus pada pencegahan perkawinan anak terletak pada anak muda sendiri yang menjadi pionir kampanye.

Selain itu perlu ditambahkan akses mengenai kesehatan reproduksi kepada masyarakat yang selama ini masih minim. "Seolah anak-anak ya terjun saja ke perkawinan anak, ada yang terlanjur hamil dan sebagainya," tutur Dini.

Permasalahan perkawinan anak juga berakar dari macam-macam faktor yang tak bisa diselesaikan tanpa kerjasama berbagai pihak. Pembelajaran daring saat pandemi ditunjuk menjadi salah satu penyebab putusnya fokus anak untuk mengenyam pendidikan dan akhirnya memilih untuk menikah saja.

"Kemdikbud, Kemensos, Kemendagri, ini banyak ini antardepartemen. Harus lebih keras lagi upayanya," tandasnya.

Jaringan Aksi yang diwakili Ferny menyatakan bahwa organisasinya turut menggandeng anak-anak muda berkampanye melawan perkawinan anak dengan promosi di media sosial. "Dari tahun 2016 kami sudah sering banget ya melakukan upaya-upaya, sebelum UU no 16 tahun 2019 itu ada, Jaringan Aksi sudah aktif," tutur Ferny.

Bentuk-bentuk kampanye tersebut adalah diskusi-diskusi daring, lomba-lomba seperti TikTok challenge, dan juga Live di Instagram untuk menyuarakan kaum muda dari daerah-daerah yang juga ingin berpartisipasi melawan perkawinan anak. Nama kampanye tersebut diusung dengan nama "Aksi Bersama".

*Berita di atas ditulis oleh Forsaria Prastika, reporter magang KUASAKATACOM.

***

tags: #aisha weddings #promosi perkawinan anak #yayasan plan international indonesia

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI