Foto istimewa.

Foto istimewa.

PM Selandia Baru Minta Para Pemimpin Dunia Belajar Algoritma Media Sosial

Organisasi internasional dan perusahaan teknologi telah mendukung inisiatif tersebut termasuk perusahaan seperti Facebook, Google, Twitter dan Microsoft.

Sabtu, 15 Mei 2021 | 21:32 WIB - Internasional
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Wellington- Pemimpin dunia maupun perusahaan teknologi yang ingin membasmi ekstremisme kekerasan daring, diminta Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern untuk fokus memahami "algoritma media sosial" yang menyuguhkan konten (konten berbahaya yang mengarah pada radikalisasi).

Hal itu disampaikan Arden pada Sabtu (15/5/2021) di pertemuan puncak virtual untuk menandai ulang tahun kedua inisiatif global untuk mengakhiri kebencian daring, yang disebut Seruan Christchurch, yang diluncurkan oleh Ardern dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 2019. Peluncuran itu dilakukan setelah seorang supremasi kulit putih menewaskan 51 orang di dua masjid di Selandia Baru kota Christchurch sambil menyiarkan langsung aksinya di Facebook.

Seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (15/5) sejak itu lebih dari 50 negara, organisasi internasional dan perusahaan teknologi telah mendukung inisiatif tersebut termasuk perusahaan seperti Facebook, Google, Twitter dan Microsoft.

BERITA TERKAIT:
PM Selandia Baru Minta Para Pemimpin Dunia Belajar Algoritma Media Sosial
Selandia Baru Diguncang Gempa Magnitudo 8,1
Selandia Baru Terbaik dalam Penangan Corona, Indonesia Berada di Posisi 85
Jokowi Minta ASEAN dan Selandia Baru Menguatkan Kerjasama
Menteri Kesehatan Mengundurkan Diri

"Keberadaan algoritma itu sendiri belum tentu menjadi masalah, apakah algoritma tersebut digunakan secara etis atau tidak. Itu adalah salah satu fokus terbesar komunitas selama setahun ke depan seiring dengan perluasan jaringan itu sendiri," ucap Ardern dalam jumpa pers usai forum.

Perusahaan teknologi besar, kata Arden mengungkapkan keinginan nyata di forum tersebut untuk menggunakan algoritma untuk intervensi positif. Meski begitu, Arden tidak menjelaskan secara rinci, bagaimana perusahaan akan mengubah penggunaan algoritma yang mendorong konten berbahaya dan mengarah pada radikalisasi.

Amerika Serikat tercatat sebagai negara pertama yang mengikuti seruan Christchurch, Negeri Paman Sam itu membuat perubahan kebijakan dua tahun setelah pemerintahan mantan presiden Donald Trump menolak untuk berpartisipasi dengan alasan kekhawatiran kebebasan berbicara.

Acara tersebut dihadiri oleh para pemimpin global termasuk Macron, dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Global Internet Forum to Counter Terrorism (GIFCT), merupakan sebuah LSM yang didirikan oleh Facebook, Microsoft, Twitter dan YouTube yang bergabung dengan Seruan Christchurch, mengatakan kemajuan telah dicapai sejak 2019.

Sejak 2019, LSM itu menanggapi lebih dari 140 insiden dengan perusahaan anggota berbagi informasi dan kesadaran situasional untuk memahami jika serangan memiliki dimensi daring tertentu, katanya dalam pernyataan terpisah.
 


tags: #selandia baru #perdana menteri #amerika serikat #facebook #radikalisasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI