Habib Rizieq Shihab, Foto: Istimewa

Habib Rizieq Shihab, Foto: Istimewa

Tak Terima Dituntut Enam Tahun Penjara, HRS Sebut Ahok-Djoko Tjandra

HRS menilai jaksa menganggap kasus pelanggaran protokol kesehatan yang menjerat lebih berat ketimbang kasus Ahok dan penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Kamis, 10 Juni 2021 | 11:10 WIB - Ragam
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta -  Habib Rizieq Shihab (HRS) dalam nota pembelaan atau pleidoi dalam perkara dugaan penyebaran hoax terhadap hasil tes swab di RS Ummi Bogor mengaku tuntutan jaksa enam tahun penjara lebih tinggi daripada kasus korupsi.

"Bahwa JPU menjadikan kasus pelanggaran prokes sebagai kejahatan yang jauh lebih jahat dan lebih berat dari pada kasus korupsi," ungkap Rizieq saat membacakan pleidoi dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (10/6/2021).

Ia pun membandingkan kasusnya dengan kasus Djoko Tjandra yang hanya dituntut 4 tahun. Rizieq mempertanyakan tidak ada yang dituntut lebih tinggi dari dirinya dalam kasus tersebut.

BERITA TERKAIT:
Soal Penutupan Jalan di Semarang, Hendi: Untuk Kurangi Mobilitas Warga
HRS: Indikasi Kebangkitan PKI Bukan Ngarang Cerita
PKM Diperketat, Hendi Bakal Tegas Bubarkan Semua Kerumunan
Lagi, Vaksinasi di Kantor Gubernuran Sebabkan Kerumunan
Satpol PP Bubarkan Enam Titik Kerumunan di Semarang
Tak Terima Dituntut Enam Tahun Penjara, HRS Sebut Ahok-Djoko Tjandra
Pagi Ini, Tak Nampak Adanya Kerumunan di Sentra Vaksinasi Gradhika

"Bahwa dalam kasus koruptor Djoko Tjandra, ternyata Djoko Tjandra dan jaksa Pinangki masing-masing hanya dituntut 4 tahun penjara, sedang Irjen Napoleon lebih ringan hanya dituntut 3 tahun penjara, dan Brigjen Prasetyo lebih ringan lagi hanya dituntut 2,5 tahun penjara, bahkan kasus mantan Bos Garuda Ary Askhara hanya dituntut 1 tahun penjara," bebernya.

Lebih lanjut, ia memaparkan data Indonesian Corruption Watch (ICW) pada 19 April 2020 yang menunjukkan bahwa sepanjang 2019 dari 911 terdakwa korupsi ada 604 orang dituntut di bawah 4 tahun penjara. Data ICW pada 22 Maret 2021 juga menerangkan sepanjang 2020 dari 1.298 terdakwa korupsi rata-rata tuntutan hanya 4 tahun penjara.

"Jadi, dalam pandangan JPU bahwa kasus pelanggaran protokol kesehatan bukan sekadar kejahatan biasa, tapi jauh lebih jahat dan lebih berat dari pada kasus korupsi yang telah merampok uang rakyat dan membangkrutkan negara, sehingga kasus pelanggaran protokol kesehatan harus dituntut 6 tahun penjara," katanya.

Tak hanya itu, HRS juga menilai jaksa menganggap kasus pelanggaran protokol kesehatan yang menjerat lebih berat ketimbang kasus Ahok dan penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

"Selain itu ternyata juga bagi JPU bahwa kasus pelanggaran protokol kesehatan bukan hanya kejahatan biasa, tapi kejahatan luar biasa, sehingga jauh lebih jahat dan lebih berat dari pada kasus penistaan agama yang pernah dilakukan Ahok sehingga buat gaduh satu negeri, juga jauh lebih jahat dan lebih berat dari pada kasus penyiraman air keras terhadap petugas negara dan penyidik KPK Novel Baswedan sehingga salah satu matanya buta permanen," jelasnya.

"Buktinya Ahok Si Penista Agama hanya dituntut hukuman percobaan 2 tahun, sedang penyiram air keras ke penyidik KPK hanya dituntut 1 tahun penjara, tapi kasus pelanggaran protokol kesehatan dituntut enam tahun penjara," pungkasnya.


tags: #kerumunan #habib rizieq shihab #hrs

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI