Kepala Bappeda Kabupaten Temanggung Ripto Susilo, Foto: Istimewa

Kepala Bappeda Kabupaten Temanggung Ripto Susilo, Foto: Istimewa

Pemkab Temanggung Gencarkan Program Mustika Desa

Lahan kritis di Kabupaten Temanggung mencapai 14.750 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan.

Rabu, 16 Juni 2021 | 10:47 WIB - Ragam
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Temanggung - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung Jawa Tengah menggencarkan "Mustika Desa", yakni program masyarakat unggul sejahtera dengan tani pekarangan, konservasi lahan, dan desa bebas sampah.

Kepala Bappeda Kabupaten Temanggung Ripto Susilo menyebut saat ini sudah ada lima kecamatan yang meluncurkan program unggulan tersebut, yakni Kecamatan Jumo, Selopampang, Tembarak, Bulu, dan Bansari.

Ia menambahkan, melalui tani pekarangan diharapkan dapat menambah penghasilan masyarakat dan mengurangi belanja. Sedangkan konservasi lahan yang memanfaatkan tanaman buah, nantinya juga bisa mendukung ekonomi masyarakat di masa mendatang.

BERITA TERKAIT:
Tebing Liyangan Temanggung Longsor, Satu Tewas
Penambangan Galian Golongan C Longsor, Satu Warga Temanggung Tewas
Tekan Corona, Satgas Covid-19 Temanggung Perketat Izin Kegiatan Masyarakat
Pemkab Temanggung Gencarkan Program Mustika Desa
Ada Kecenderungan Kasus Covid-19 Naik, Satgas Imbau Warga Temanggung Waspada
Dinkes Temanggung Bentuk Desa Percontohan Deteksi Dini Percontohan Kesehatan Jiwa
Antisipasi Gagal Panen, Petani di Pekalongan Diimbau Pompanisasi

Semantara desa bebas sampah, dengan pemilahan, sampah bisa menjadi salah satu sumber ekonomi, baik organik yang digunakan untuk pupuk maupun anorganik yang bisa didaur ulang menjadi sumber ekonomi.

Ia menilai, dari Mustika Desa tersebut, mungkin program konservasi lahan tidak populis, tetapi harus dilakukan karena kerusakan lahan atau lahan kritis di Kabupaten Temanggung mencapai 14.750 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan.

Ripto menyebutkan lahan kritis itu ada yang sangat kritis, ada yang kritis, dan ada yang mulai kritis. "Prioritas utama kami tangani di awal ini yang sangat kritis, sekitar 7.000 hektare," tukasnya.

Konservasi lahan ini, lanjut dia, penting dilakukan karena banyak mata air mulai mati, maka harus ditumbuhkan kembali atau revitalisasi mata air.

Tanaman konservasi yang semula hanya menggunakan tiga jenis tanaman, yaitu beringin, bambu, dan aren, sekarang masyarakat berinovasi dengan menanam pohon buah, sehingga tiga atau empat tahun ke depan akan menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Pelaksanaan konservasi melibatkan seluruh komponen masyarakat termasuk pihak swasta. "Keterlibatan CSR dari sejumlah perusahaan sangat penting dalam pelaksanaan konservasi ini. Tahun ini Bappeda sudah menerima 5.684 bibit buah dari beberapa perusahaan di Temanggung," tukasnya.

Bantuan bibit dari beberapa perusahaan tersebut sudah didistribusikan di 18 desa di empat kecamatan, yakni Kledung, Selopampang, Kaloran, dan Pringsurat.


tags: #kabupaten temanggung #mustika desa

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI