Ilustrasi radikalisme, Gambar: Istimewa

Ilustrasi radikalisme, Gambar: Istimewa

Ketua Komisi X DPR RI Minta Aktivitas Dakwah Dipantau

Paham dan pemikiran radikal ini biasanya disampaikan melalui diskusi berbalut dakwah di masjid-masjid kampus.

Rabu, 15 September 2021 | 12:21 WIB - Didaktika
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta - Presiden Joko Widodo mewanti-wanti pimpinan kampus mengawasi aktivitas mahasiswa agar tidak radikalisme. Komisi X DPR menyebut peringatan Jokowi masuk akal dan ancaman radikalisme nyata.

"Saya menilai apa yang disampaikan Presiden Jokowi di hadapan forum rektor masih menemukan relevansinya karena ancaman penyebaran paham radikal di kalangan mahasiswa memang ada buktinya. Kami berharap warning tersebut benar-benar menjadi atensi para rektor dan sivitas akademika di masing-masing perguruan tinggi," ungkap Ketua Komisi X Syaiful Huda, Rabu (15/9).

Ia menambahkan indikasi adanya penyebaran paham radikalisme di kampus bisa dilihat dari jajak pendapat yang dilakukan oleh beberapa lembaga, seperti BNPT, Alvara Research, hingga Setara. Selain itu, muncul kasus-kasus intoleran dan bernuansa SARA di beberapa kampus di Tanah Air.

BERITA TERKAIT:
HNW Tegaskan Framing Radikalisme di Lembaga Pendidikan Harus Dihentikan
Ketua Komisi X DPR RI Minta Aktivitas Dakwah Dipantau
GP Ansor Diharapkan Lahirkan Kader Handal Tangkal Radikalisme
Gus Yasin: Warga Jateng Harus Paham Arti Jihad
Hingga 22 Juni, 21.330 Konten Radikalisme Diblokir Kemenkominfo
Ma'ruf Amin: BNPT Waspada Ancaman Radikalisme
Radikalisme dan Terorisme Merusak Keutuhan Negara

"Indikasi-indikasi tersebut menunjukkan jika ancaman pemikiran dan sikap radikal di kampus itu benar dan nyata adanya. Oleh karena itu, pimpinan kampus dan jajarannya tidak bisa lepas tangan atas fenomena ini," katanya.

Huda mengatakan paham dan pemikiran radikal ini biasanya disampaikan melalui diskusi berbalut dakwah di masjid-masjid kampus. Selain itu, senior-senior kampus yang terpapar paham radikalis jeli memilih calon kader dari kalangan mahasiswa baru.

"Biasanya mahasiswa baru ini masih mencari jati diri dengan semangat keberagamaan yang sehingga mudah dipengaruhi. Pihak rektorat harus benar-benar memperhatikan lebih kepada aktivitas dakwah kampus baik yang dilakukan di lingkungan masjid kampus maupun diskusi-diskusi keagamaan kecil yang dilakukan mahasiswa," jelasnya.

Indikasi adanya pemikiran radikal di kalangan mahasiswa, lanjut Huda, bisa dilihat juga dari pola pikir, perilaku, hingga gaya hidup mahasiswa. Jika mahasiswa tiba-tiba tidak mau beribadah dengan kawan sebaya, menutup diri, mengkafirkan orang yang tidak sepaham, tidak mau mengakui negara, bahkan nekat meninggalkan perkuliahan untuk paham tersebut, bisa jadi telah terpapar pemikiran radikal.

"Di sini pentingnya kampus mengembangkan sistem early warning yang bisa berbasis teman sebaya. Di mana nanti antar-teman bisa saling mengawasi dan saling mengingatkan jika ada perubahan perilaku secara tiba-tiba di antara mereka," katanya.

Politikus PKB ini juga berharap kampus menjalin kerja sama dengan ormas-ormas Islam yang terbukti mengembangkan cara berpikir moderat. Mereka bisa menjadi narasumber dalam diskusi dan dakwah agama di lingkungan masjid-masjid kampus. "Selain itu, kampus juga bisa secara rutin menyosialisasikan tentang bahaya pemikiran radikal dalam harmonisasi kehidupan bangsa," pungkasnya.


tags: #radikalisme #dakwah kampus #komisi x dpr ri

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI