Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi, Foto: Istimewa

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi, Foto: Istimewa

Ujaran Kebencian Bawa Nama Agama Berpotensi Picu Konflik

Informasi bernada ujaran kebencian dapat memicu terjadinya percekcokan antarumat beragama maupun di lingkup agama itu sendiri.

Minggu, 26 September 2021 | 14:57 WIB - Ragam
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta - Wakil Menteri agama Zainut Tauhid Sa'adi menyoroti konten ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama di media sosial berpotensi menimbulkan konflik horizontal.

"Maraknya konten ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal, baik internal umat beragama maupun antarumat beragama," ungkapnya saat menghadiri acara Kegiatan HUT Karang Taruna Ke-61 secara virtual, Minggu (26/9).

Zainut awalnya mengatakan di era kemajuan teknologi seperti saat ini, masyarakat banyak mempelajari soal agama melalui internet dan media sosial. Tak jarang pula ditemukan konten provokatif, seperti ujaran kebencian terhadap suatu agama.

BERITA TERKAIT:
Ujaran Kebencian Bawa Nama Agama Berpotensi Picu Konflik
Positif Covid-19, RWS Tersangka Ujaran Kebencian Batal Ditahan
PUPA Nilai Tindakan Sekolah Keluarkan Siswanya Terkait Palestina adalah Penghukuman
Hina Palestina, Seorang Pelajar di Benteng Dikeluarkan dari Sekolah
PGN Desak Polda Tuntaskan Kasus Ujaran Kebencian Libatkan Oknum Pengacara di Semarang
Dipanggil Kepolisian untuk Diminta Keterangan, Seorang Advokat Tersangka Kasus SARA di Kota Semarang Malah Mangkir
Deretan Perusahaan yang Tinggalkan Facebook Gara-gara Gagal Cegah Ujaran Kebencian

"Terlebih lagi kecenderungan masyarakat kita yang menyukai judul berita sifatnya provokatif dan heboh serta cenderung langsung percaya isi konten tanpa verifikasi dan tabayun. Hal tersebut turut berkontribusi pada hoaks, kebohongan yang rencana untuk mengecoh dan menipu orang lain," ujarnya.

Zainut mengatakan informasi bernada ujaran kebencian dapat memicu terjadinya percekcokan antarumat beragama maupun di lingkup agama itu sendiri. Menurutnya, fenomena ini merupakan bagian yang tak terelakkan dari disrupsi perkembangan teknologi.

"Pada tantangan di atas situlah, agama harus bisa menjawabnya, mengisi kembali nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang terancam karena perkembangan teknologi dan perubahan zaman untuk senantiasa menghadirkan nilai agama moderat dan merupakan solusi atas ekstremitas sumbu agama, satu sumbu yang konservatif serta sumbu lainnya yang liberal," ucapnya.

Untuk itu, Zainut meminta masyarakat dapat mempelajari ilmu agama secara menyeluruh, sehingga tidak terjebak oleh sikap moderat.

"Moderasi beragama yang berprinsip pada nilai keadilan dan keseimbangan perlu terus diperkuat dengan diperluasnya setiap individu dalam mempelajari agama secara komprehensif sehingga tidak terjebak pada perbedaan pengetahuan agama yang kerap digunakan sebagai pemicu kebencian dan kekerasan," pungkasnya.


tags: #ujaran kebencian #agama

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI