Annisa Ratna Putri selaku Leader Kajian Food Loss and Waste di Indonesia. Foto: Dok. Kuasakatacom.

Annisa Ratna Putri selaku Leader Kajian Food Loss and Waste di Indonesia. Foto: Dok. Kuasakatacom.

Ini Penyebab Orang Mubazir Makanan, Nomor Lima Sering Dilakukan

The Economist Intelegce Unit menyatakan bahwa Indonesia adalah penghasil food loss terbesar kedua di dunia.

Selasa, 12 Oktober 2021 | 13:14 WIB - Ragam
Penulis: Fauzi . Editor: Ririn

KUASAKATACOM, Semarang - Menurut kajian food loss and waste (FLW) di Indonesia, 1/3 dari makanan yang dikonsumsi manusia hilang saat proses panen dan proses konsumsi. Sedangkan di Indonesia pada tahun 2018, timbunan sampah sebanyak 44% adalah sampah makanan.

Sebagai negara yang turut serta dalam agenda pembangunan global, Indonesia telah berkomitmen mengiplementasikan tujuan pembangunan berkelanjutan. Salah satunya yakni konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab.

Dalam RPJMN 2020-2024, pembangunan rendah karbon memprioritaskan implementasi penanganan limbah dan ekonomi sirkular untuk mencapai tujuan tersebut. Namun pada tahun 2017, The Economist Intelegce Unit menyatakan bahwa Indonesia adalah penghasil food loss terbesar kedua di dunia.

BERITA TERKAIT:
Ini Penyebab Orang Mubazir Makanan, Nomor Lima Sering Dilakukan
Orang Indonesia Buang Makanan Setara Rp 551 Triliun Per Tahun

Melihat kondisi itu, pada tahun 2020 lalu, Kementerian PPN/BAPPENAS bekerjasama dengan World Resouces Institute dan Waste 4 Change yang didukung oleh UKFCDO, melaksanakan kajian food loss dan waste yang bertujuan untuk mengetahui data dasar (basline) dan proyeksi food loss and waste di Indonesia. Dari hasil kajian tersebut, ditemukan berbagai faktor penyebab food loss and waste

Annisa Ratna Putri selaku Leader Kajian food loss and waste di Indonesia menerangkan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi penyebab dari food loss and waste di Indonesia.

"Ketika kami melakukan kajian nasional, kami berusaha mengidentifikasi apa saja penyebab dari food loss and waste ini di Indonesia. Lima penyebab besarnya antara lain, terutama penyebab food lossnya karena kurangnya good handling practice." tuturnya saat bertindak sebagai pembicara di Morning Chat Media dengan tema 'Indonesia Mubazir Makanan, Kok Bisa?', Selasa (12/10/2021) pagi.

Annisa yang juga bertindak sebagai Consulting Manager Waste 4 Change itu menjelaskan, memperlakukan makanan tidak baik ketika didistribusikan atau saat panen dapat berpengaruh pada food loss and waste di Indonesia. Kemudian, ualitas penyimpanan yang kurang optimal.

"Ruang penyimpanannya juga bisa jadi, kalau di rumah tangga, itu kurang memahami bagaimana seharusnya menyimpan makanan. Bahwa tidak semua makanan itu bakal tahan lama kalau dia di kulkas. Kemudian, preferensi konsumen juga berpengaruh. Kalau konsumen tidak mau memilih makanan yang misalnya bentuknya agak berbeda dari biasa namun secara nutrisi sama saja, dan akhirnya terbuang." terang Annisa.

Selain itu, lanjut Annisa, masih perlu banyak edukasi terhadap masyrakat terkait food loss and waste. Kemudian yang kelima, kelebihan porsi dan perilaku konsumen.

"Jadi kalau kita sering berpikir lebih banyak lebih baik dari pada kurang. Pola pikir seperti itu harus mulai kita efaluasi. Karena kalau kita memang tidak sanggung menghabiskan. Sebaiknya tidak dipesan sebanyak itu. Kalau memang ada sisa, usahakan di bawa pulang untuk dikonsumsi kembali." tukasnya.

Diharapkan, masyarakat semakin bertanggung jawab terhadap konsumsi dan produksi makanan untuk masa depan Indonesia yang lebih lestari, sehat dan rendah karbo.


tags: #food loss and waste #penyebab #annisa ratna putri #consulting manager waste 4 change

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI