Ilustrasi demo, Gambar: Istimewa

Ilustrasi demo, Gambar: Istimewa

Polisi Banting Mahasiswa, Ini Sederet Kasus Kekerasan Polisi terhadap Pendemo

Kamis, 14 Oktober 2021 | 12:49 WIB - Ragam
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Tangerang – Brigadir NP, polisi banting mahasiswa Tangerang M Faris Amrullah atau MFA (21) akhirnya meminta maaf. Brigadir NP mengaku dirinya refleks saat mengamankan Faris seusai demo yang berujung ricuh. Peristiwa itu terekam video dan viral di media sosial. Dalam rekaman video, Faris dipiting lehernya, lalu dibanting ala pertarungan bebas smackdown oleh NP ke lantai.

Faris kemudian kejang-kejang dan sempat pingsan. Faris mengaku dirinya baik-baik saja hanya mengalami pegal-pegal setelah dibanting NP. Sebelum kejadian ini, ada juga beebrapa kasus kekerasan yang dilakukan kepolisian terhadap mahasiswa pendemo. Berikut ini beberapa kasus kekerasan polisi terhadap mahasiswa pendemo.

Tiga Mahasiswa Luka-Luka Usai demo di Senanyan, Dirawat di RS

BERITA TERKAIT:
Komnas HAM: Polisi Banting Mahasiswa Potensial Langgar HAM
Polisi Banting Mahasiswa, Begini Hasil Rontgen Toraks
Polisi Banting Mahasiswa, Ini Sederet Kasus Kekerasan Polisi terhadap Pendemo
Polisi Banting Mahasiswa, Bupati Tangerang Ikut Minta Maaf
Banting Mahasiswa, Brigadir NP Siap Tanggung Jawab
Dibanting Polisi, Mahasiswa Maafkan Tapi Takkan Lupa
Banting Mahasiswa, Polisi: Refleks

Tiga mahasiswa yang menjadi korban tindak kekerasan oleh polisi saat demo di sekitar Kompleks Parlemen Senayan, Selasa (24/9/2019). Ketiganya dirawat di rumah sakit. 

Mahasiswa berinisial A dan IB dirawat di Rumah Sakit Jakarta, sementara mahasiswa berinisial FA dirawat di Rumah Sakit Pelni. "Mahasiswa tersebut mengalami luka-luka akibat praktik kekerasan yang dilakukan polisi pada saat itu," ujar Staf Advokasi Pembelaan HAM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak kekerasan (KontraS) Falis Agatriatma di kantor LBH Jakarta, Jumat (27/9/2019) malam. 

Pengeroyokan Usai demo di DPR tersebut diketahui usai jurnalis menelusuri sejumlah rumah sakit untuk mencari mahasiswa yang dilaporkan hilang pasca-kerusuhan saat demonstrasi pada Rabu lalu. Falis menjelaskan, tindak kekerasan polisi terhadap A terekam kamera jurnalis. A dikeroyok saat mengambil sepeda motor yang diparkir di kawasan Jakarta Convention Center (JCC).

"A ditarik beberapa oknum aparat kepolisian dan mengalami kekerasan oleh aparat kepolisian," kata dia. 

Sementara itu, IB tertembak peluru karet. Dia harus menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru karet di tubuhnya. "IB mengalami luka tembak di perut bagian kanan, tembakan peluru karet. Akhirnya IB harus dioperasi untuk mengambil proyektil," ucap Falis. 

Sementara FA dirawat di Rumah Sakit Pelni karena dianiaya dan harus dioperasi. "Mahasiswa yang mengalami kekerasan yang cukup parah, FA, dirawat di RS Pelni. FA mengalami kekerasan bertubi-tubi. Dia sempat koma dan harus dioperasi di bagian kepala dan bahu," tutur Falis. 

Aksi demonstrasi di sekitar Senayan berlangsung tiga hari. Mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa pada Senin-Selasa, sementara para pelajar berdemo pada Rabu. Aksi demonstrasi pada Selasa dan Rabu berujung rusuh. Sejumlah orang terluka dan ditangkap polisi. Data LBH Jakarta, sekitar 90 orang dilaporkan belum kembali ke rumah pasca-demonstrasi itu. 

Sementara polisi menetapkan 12 pelajar dan 24 mahasiswa sebagai tersangka aksi kerusuhan di Kompleks Parlemen. Presiden Joko Widodo mengatakan telah meminta penjelasan Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian dalam menangani demonstran di sekitar Gedung DPR/MPR. 

demo Tolak Omnibus Law, Mahasiswa Luka-Hilang Kontak

Sejumlah video beredar di media sosial yang memperlihatkan kekerasan polisi terhadap massa demo Omnibus Law pada Kamis (8/10/2020). Beberapa mahasiswa dilaporkan mengalami luka hingga harus dibawakan ke rumah sakit. kekerasan yang dilakukan polisi tidak hanya terjadi di kawasan Jakarta. 

Diketahui aparat yang melakukan kekerasan terhadap massa demo Tolak Omnibus Law juga terjadi beberapa daerah seperti Bekasi, Lampung, Sukabumi, Palu, dan daerah lain. Sikap aparat menjadi perhatian politisi Partai Demokrat Hinca Pandjaitan. 

Dia meminta agar aparat polisi tak main pukul sehingga mengakibatkan peserta aksi massa meninggal dunia saat penolakan UU KPK awal tahun lalu. 

“Bagi aparat kepolisian yang didapati memukul, menendang dan melakukan kekerasan lainnya terhadap peserta aksi dan terekam dalam video, saya pastikan akan bawa hal ini secara serius kepada Kapolri dan meminta penjelasannya. Jangan sampai ada korban tewas seperti aksi lalu!!!,” tulis Hinca Pandjaitan melalui akun Twitter miliknya @HincaPandjaitan, Jumat (9/10/2020). 

Selain mendapatkan kekerasan fisik, beberapa mahasiswa yang saat sedang melakukan aksi demonstrasi penolakan Omnibus Law dilaporkan hilang kontak. 

“Hati-hati yang pada demo. Jangan lepas dari rombongan, selalu perhatikan sekeliling. Kalau ada yang gerak-geriknya mencurigakan, menjauh aja. Mahasiswa yang pada hilang kurang lebih kejadiannya kayak gitu,” tulis akun Twitter @faizulamr. 

Selain massa demonstrasi yang mendapatkan tindak kekerasan fisik, jurnalis media pun mendapatkan intimidasi dan penghalangan peliputan dari oknum polisi. Begitu pula dengan jurnalis dari pers mahasiswa yang menghilang saat meliput penolakan Omnibus Law. 

Salah satunya dari jurnalis pers Universitas Pasundan Bandung yang dikabarkan menghilang saat meliput demonstrasi Omnibus Law di Gedung DPRD Jawa Barat. “Pukul 5 sore siaran langsung tiba-tiba terhenti, juga salah salah satu penonton men-dm bahwa siaran langsung terhenti secara paksa,” tulis akun Instagram @lpmjumpa, Jumat (9/10/2020).
 


tags: #polisi banting mahasiswa #tangerang #kekerasan #demo

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI