Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Vaksin Boosten untuk Masyarakat akan Mempertimbangkan Kesetaraan Vaksinasi di Dunia

Vaksin booster akan disuntikkan satu kali kepada para penerima manfaat.

Senin, 08 November 2021 | 22:42 WIB - Ragam
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Jakarta- Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX, Senin (8/11/2021) mengatakan pemberian vaksin penguat atau booster Covid-19 bagi masyarakat umum di Indonesia perlu mempertimbangkan kesetaraan vaksinasi di dunia.

Hal itu menurut Budi Gunadi karena sangat sensitif. "Terkait vaksin booster, kami sudah bicara dengan Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan kami juga sudah melihat perbandingan dengan negara-negara lain. Ini sensitif, karena di dunia orang bilang masih banyak orang Afrika yang belum dapat, kenapa negara maju dikasih booster," ucapnya.

BERITA TERKAIT:
Kasus Baru Covid-19 Tembus Lebih dari 1.000 Pasien, Masyarakat Diminta Waspada 
Dalam 10 Tahun, Jumlah Perokok Dewasa Indonesia Naik 8,8 Juta Orang 
Lebih dari 200 Nakes akan Diangkat ASN 
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Puji Kiprah dan Kebaikan dr Terawan (1)
Hasil Sero Survey Menunjukkan Antibodi Penduduk Indonesia Bagus

Isu ketidakadilan vaksinasi Covid-19 di dunia, menurut Budi sangat tinggi, mengingat terdapat sejumlah negara yang belum mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama.

Oleh itu, imbuh Budi, perlu dipertimbangkan dinamika dunia di mana salah satu kesepakatan vaksinasi booster adalah 50 persen populasi penduduk di suatu negara harus sudah menerima suntikan dosis kedua atau vaksin lengkap. "Semua negara yang memulai booster itu dilakukan sesudah 50 persen dari penduduknya disuntik dua kali," ujarnya.

50 persen vaksinasi dosis lengkap di Indonesia, ucap Budi, diperkirakan terealisasi pada Desember 2021. "Hitung-hitungan kami kan di akhir Desember itu mungkin 59 persen kita bisa capai vaksin dua kali dan 80 persen sudah dapat vaksin pertama," kata Budi.

Momentum tersebut, ungkap Budi adalah yang paling pas bagi Indonesia menggulirkan vaksinasi booster kepada masyarakat umum. "Kami memperkirakan akan terjadi di bulan Desember, karena kalau terlalu cepat nanti kita akan dilihat sebagai negara yang tidak memperlihatkan itikad baik untuk kesamaan hak atas vaksin," bebernya.

Vaksin booster, imbuhnya akan disuntikkan satu kali kepada para penerima manfaat sebab berdasarkan hasil analisa, satu suntikan vaksin booster memiliki pengaruh yang cukup tinggi terhadap titer antibodi.

Budi menambahkan berkaitan dengan prioritas penerima vaksin booster, disebutnya diperuntukkan bagi kelompok lanjut usia serta masyarakat penerima bantuan iuran (PBI) yang berkenaan dengan Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Hal itu juga sudah dibicarakan dengan Presiden Jokowi. "Memang rencana ke depan sudah dibicarakan dengan Bapak Presiden Joko Widodo, pertama prioritasnya lansia dulu karena lansia berisiko tinggi. Kedua, yang akan ditanggung oleh negara adalah yang PBI," katanya.

Meski begitu, sambung Budi bagi masyarakat mampu hal itu akan diarahkan secara berbayar. "Itu nanti akan dibuka boleh pilih (vaksin) yang mana," imbuhnya.

Jenis vaksin booster hingga sekarang, katanya masih dalam proses uji klinis yang melibatkan perguruan tinggi untuk memutuskan apakah menggunakan vaksin yang sama (homologous) atau campur (heterologous). "Jadi diharapkan akhir Desember 2021 bisa selesai. Jadi contohnya Sinovac, Sinovac, Sinovac, dibandingkan dengan Sinovac, Sinovac, Astrazeneca. Dibandingkan dengan Sinovac, Sinovac, Pfizer" pungkasnya.
 


tags: #menteri kesehatan #vaksinasi #booster #budi gunadi sadikin

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI