Orangtua Wajib Tau! Satu dari Tiga Anak Merasa Tak Aman di Sekolah 

"Hampir sepertiga remaja yang kami pelajari merasa tidak aman di sekolah."

Sabtu, 18 Juni 2022 | 10:22 WIB - Ragam
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Semarang - sekolah menjadi tempat bagi anak untuk menimba ilmu. Layaknya rumah kedua, sekolah diharapkan menjadi tempat tumbuh kembang yang baik untuk mendukung pertumbuhan anak. 

Namun proses belajar mengajar di sekolah dapat terhambat jika anak merasa tak aman di tempatnya belajar. 

BERITA TERKAIT:
Pulang Main Game Online, Remaja di Semarang Malah Jadi Korban Pembacokan
Hendak Tawuran, Tujuh Remaja Diamankan Polisi
Fenomena Citayam Fashion Week: Lenggak-lenggok di Zebra Cross, Semua Orang Boleh Jadi Model 
Orangtua Wajib Tau! Satu dari Tiga Anak Merasa Tak Aman di Sekolah 
Terlalu Kencang Kendarai Motor, Remaja 14 Tahun di Klaten Tewas Tabrak Truk Mogok

Studi terbaru yang melibatkan puluhan ribu siswa remaja mengungkap fakta yang memprihatinkan. Seperti dilansir laman Study Finds, survei menemukan satu dari tiga siswa remaja tidak merasa aman di sekolah mereka. 

Penelitian ini dikerjakan oleh para peneliti di University of Turku, Finlandia. Mereka mensurvei lebih dari 21.000 siswa berusia antara 13-15 tahun yang tersebar di 13 negara di Eropa dan Asia pada 2011-2017. 

Hasil survei membuktikan berbagai fakta, yaitu: 

1. Sebanyak dua dari tiga siswa di Jepang mengaku merasa tidak aman ketika masuk ke kelas. Sekitar 69,8 persen siswa adalah perempuan. 

2. Siswa di Finlandia dan Norwegia merasa sedikit lebih aman ketika pergi ke sekolah (masing-masing 11,5 persen dan 7,7 persen). 

3. Jika siswa memiliki guru yang mereka rasa peduli terhadap mereka, maka mereka cenderung merasa lebih aman di sekolah

4. Menerapkan aturan yang adil dan konsisten di kelas dapat membuat siswa merasa lebih aman. 

5. Siswa yang melaporkan kasus perundungan merasa paling tidak aman di lingkungan sekolah

"Hampir sepertiga remaja yang kami pelajari merasa tidak aman di sekolah, yang mana ini sangat mengejutkan dan menciptakan tantangan bagi masyarakat," demikian keterangan para peneliti.

Studi juga menyimpulkan, lingkungan pendidikan yang aman didasarkan pada kepedulian dan kepercayaan pada guru dan membangun interaksi positif dengan orang lain daripada terisolasi secara sosial. 

"Keamanan sekolah menjadi isu penting baik untuk sistem pendidikan maupun kesehatan masyarakat."

"remaja yang mengalami masalah kesehatan mental atau dirundung lebih cenderung merasa tidak aman di sekolah," tulis peneliti. 

Para peneliti menekankan perlunya intervensi anti-bullying dan promosi kesehatan mental yang mencakup psikoedukasi dan program pembelajaran sosial-emosional. 

Langkah ini bertujuan untuk mencegah masalah perilaku dan meningkatkan kompetensi prososial setiap anak. 

"Temuan kami menyoroti ketidaksetaraan dalam menyediakan lingkungan pendidikan yang aman bagi siswa di antar negara," sambung peneliti.

"Jelas ada kebutuhan akan strategi untuk mempromosikan lingkungan pendidikan di mana semua siswa dapat merasa aman dan terlindungi."
 


tags: #remaja #sekolah

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI