Kisah Rendy Korban Erupsi Gunung Semeru: Hendak Selamatkan Sang Ayah Namun Berakhir Tertimbun Material Hingga Terkubur Delapan Bulan 

Nahas, niat baiknya itu malah mengantarkannya menghadap kepada sang pencipta.

Rabu, 03 Agustus 2022 | 14:33 WIB - Ragam
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Lumajang - Setelah delapan bulan hilang, jenazah Ahmad Rendy Pratama (19) akhirnya ditemukan. Ia terkubur material muntahan Gunung Semeru saat terjadi erupsi

Kronologi Rendy Jadi korban erupsi Semeru Sebelumnya, Rendy putra pertama dari pasangan Muhammad Zuhri (46) dan Sri Mulyani (45), saat bencana erupsi Gunung Semeru melanda, bukannya lari menyelamatkan diri, ia malah menjemput sang ayah yang masih bekerja. 

BERITA TERKAIT:
Jadi Korban Penganiayaan Murid, Guru Ini Minta Pelaku Dihukum Ringan
Upaya Menekan Fatalitas Tabrak Belakang Truk
Seorang Wanita di Banyumas Meninggal Tertimbun Tanah Longsor
Begini Kondisi Terkini Belasan Korban Jembatan Putus di Probolinggo
Pemakaman Korban Kecelakaan Karambol Wonosobo Diwarnai Tangis, Tewas Usai Pentas Campursari

Nahas, niat baiknya itu malah mengantarkannya menghadap kepada sang pencipta. 

Saat itu, Sabtu, 4 Desember 2021 sekitar pukul 15.00 seperti biasa Rendy tengah berada di rumahnya di Dusun Kebon Agung, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, membantu ibunya mengangkat jemuran karena suasana mulai gelap seperti akan hujan.

Tidak ada yang menyangka, jika gelapnya sore itu bukan karena hujan akan turun, melainkan karena Gunung Semeru memuntahkan materialnya dengan dahsyat. 

Sekira pukul 15.30, kondisi semakin gelap seperti malam hari. Rendy teringat ayahnya, yang saat itu masih bekerja di sawah untuk mengambil air nira kelapa. Mengingat, motor yang dikendarai ayahnya tidak ada lampunya, ibunya pun meminta Rendy untuk menjemput ayahnya ke tempat kerja. 

"Motornya bapaknya ini kan tidak ada lampunya, lah waktu itu udah gelap gak kelihatan apa-apa, akhirnya Rendy saya suruh jemput bapaknya," kata Mulyani. 

Saat itu, Rendy berangkat menjemput sang ayah menggunakan kaos hitam, celana jeans warna biru, motor honda beat, dan helm warna merah. 

Tidak lupa ia membawa senter untuk mencari ayahnya. Atribut keamanan lengkap yang dikenakannya seakan menjadi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk akan menimpanya. Mengingat, jarak rumahnya ke tempat ayahnya bekerja tidak sampai satu kilometer. 

Benar saja, saat Rendy ingin menjemput ayahnya, ternyata ia melewati jalan yang berbeda dengan yang dilewati ayahnya pulang. Sehingga, Rendy tidak menjumpai sang ayah. Padahal ayahnya sudah sampai di rumah. 

"Rendy ini berangkat, setelah itu bapaknya sampai di rumah, sepertinya salipan di jalan jadi gak ketemu," tambahnya.

Mulyani yang panik, seketika langsung berlari mencoba mencari Rendy ke sawah. 

Saat itu lava Semeru sudah semakin dekat dengan suhu yang sangat panas, karena tidak bisa lebih mendekat lagi, Mulyani hanya bisa berteriak memanggil nama Rendy sembari menangis histeris sampai ada warga yang membawanya pergi menyelamatkan diri. 

"Saya cari Rendy gak ketemu, waktu itu lava sudah dekat jadi gak bisa masuk ke sungai cuma bisa lihat dari jauh, kalau ingat itu saya gemetar langsung nangis," terangnya. 

Nyawa Rendy pun tak bisa diselamatkan. Pilu keluarga Zuhri tidak selesai sampai disana, karena setelah berbulan-bulan dari bencana erupsi Semeru jasad Rendy pun tak kunjung ditemukan.


tags: #korban #erupsi #gunung merbabu

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI