Adu Mulut Warnai Proses Pra-Eksekusi Saluran Air di Pedurungan Lor Semarang

Adu mulut itu terjadi saat Satpol PP Kota Semarang menggelar mediasi pra-eksekusi saluran air yang telah bermasalah sejak kurang lebih tahun 2018, pada Senin siang (8/8).

Senin, 08 Agustus 2022 | 11:54 WIB - Ragam
Penulis: Holy . Editor: Hani

KUASAKATACOM, Semarang – Aksi adu mulut mewarnai proses pra-eksekusi saluran air di Jalan Taman Flamboyan Raya, Kelurahan Pedurungan Lor, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, pada Senin (8/8). saluran air itu disebut menyebabkan banjir

Mereka yang terlibat adu mulut yakni kuasa hukum pengembang perumahan dari Newton, anggota DPRD Kota Semarang, tim Pengendali banjir wilayah Kelurahan Pedurungan Lor dan warga setempat. Mereka adu mulut mempertahankan argumentasi masing-masing. 

BERITA TERKAIT:
Wow, Tim Gabungan Akan Tutup Proyek Jembatan Pabrik di Bangsri
Catat! 3 Oktober, Satpol PP Kota Semarang Razia Pemberi Sedekah ke PGOT
Pabrik Briket di Pati Terbakar, Kerugian Capai Rp50 Juta 
Demi Bisa Bayar Cicilan Mobil, Warga Kudus Ini Ngemis di Jepara
Belum Gunakan E-Tax, Dua Kafe “Haus” di Semarang Disegel Satpol PP

Adu mulut itu terjadi saat Satpol PP Kota Semarang menggelar mediasi pra-eksekusi saluran air yang telah bermasalah sejak kurang lebih tahun 2018, pada Senin siang (8/8)

Ketua RW 10 Tamansari Pedurungan Lor, Tri Sulistyanto mengatakan tuntutan warganya yakni air dari wilayah RT 7, Tamansari dan Manunggal Jati bisa mengalir lancar di saluran tanpa menyebabkan banjir.

“Nah salurannya ini kan tidak normal dan perlu dinormalisasi. Jadi harus bisa dibuka dan diperbaiki serta dibersihkan. Banjirnya ini sudah hampir empat tahun,” kata Tri

Ia menuturkan selama ini pihaknya bersama Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang telah berusaha menormalisasi saluran air agar tak menyebabkan banjir. Namun hal itu terkendala karena ada pondasi di atas saluran.

“Apa benar pondasi boleh diatas saluran air?. Waktu saya konfirmasi (ke Newton), katanya dia punya sertifikat. Padahal saluran ini sudah ada sejak dulu sebelum (Newton),” jelasnya

Pihak kelurahan pun kata dia, telah mengirim surat ke Newton agar membuka saluran. Namun masalah ini berlarut dan tak tertangani hingga sekitar tiga tahun.

“Kami dari warga hanya minta saluran itu harus dibuka. Tujuannya apa? Agar perawatan dan penanganan jadi mudah. Saluran ini ada dua, bawah dan atas, antara Tamansari dan Newton. Apa ada semacam ini?. Kalau gini kan, misal pas hujan, air ndak ngalir normal,” tegas dia

Kuasa hukum Newton, Aryas Adi Saputra dari Persatuan Advokat Indonesia (PERADI) mengatakan pihaknya merasa tak terima jika Newton dituduh menjadi penyebab banjir.

“Kita gak terima disebut yang menyebabkan banjir. Sebelum kita bangun perumahan pada 2018, itu wilayah sini sudah banjir, kita ada buktinya,” kata Aryas

Ia menegaskan jika ingin mencari penyebab banjir, maka harus dikaji secara komprehensif.

“Harus komprehensif. Disini ada berapa perumahan? Jangan hanya menyalahkan Newton!. Mari kita duduk bersama dan selesaikan bersama,” tegasnya

Dia juga menegaskan penanganan banjir harus benar dari Hulu hingga Hilir. Sehingga jika terjadi hujan, tidak menyebabkan banjir.

“Perlu diketahui Newton membangun perumahan sudah berdasar hukum yang ada dan kuat. Mulai dari KRK, IMB, UPL dan UKL. Apalagi yang mau dipersoalkan? Proses hukum telah kita lalui. Kami dari Newton merasa keberata jika masalah ini disalahkan ke kami,” jelas dia

Ia malah blak-blakan menyebut Semarang sebagai kota banjir. Sehingga tak bisa pihaknya disalahkan.

“Semarang ini kan memang kota banjir. Makanya ada lagu Semarang Kota banjir. Semarang kaline banjir. Ketika hujan lebat, pasti banjir. Simpang Lima banjir, gak hanya daerah sini,” ungkapnya

Terkait tuntutan warga untuk normalisasi saluran dengan membuka pondasi, ia mengaku tak masalah.

“Kalau bongkar saluran, demi kepentingan bersama kita gak masalah,” tandasnya

Ketua Tim Pengendali banjir Pedurungan Lor, Eko Riyanto mengatakan daerah tersebut awalnya berupa persawahan

“Kemudian daerah sini jadi Perumahan. Menurut kami, bangunan yang dibuat Newton ini tidak benar karena dasar saluran lebih tinggi daripada jalan. Ini semua saluran disini tertutup hanya untuk memudahkan akses ruko,” kata Eko

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto SH MM mengatakan fasilitas umum berupa saluran air ini sudah diterima Pemkot Semarang sejak lama. Ia mengakui selama ini wilayah itu sering terjadi banjir.

“Pekan depan semua pihak bakal kita undang untuk mediasi mulai dari PT Kekancan Mukti, Newton, Disperkim, Anggota DPRD dan lain lain. Tadi saat mediasi ada debat, ini hal biasa,” kata Fajar. 

Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang Meidiana Kuswara menegaskan pihaknya bakal terus mengawal masalah ini. Sebab warga mulai lelah dengan persoalan yang berlarut larut ini.


tags: #satpol pp #eksekusi #saluran air #kota semarang #banjir

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI