Jokowi: Tiga Tahun Lagi Kita Tak Perlu Lagi Impor Jagung 

"Insyaallah kita sudah tidak impor jagung dalam 2-3 tahun ke depan. Seperti beras yang sudah 3 tahun kita tidak impor," kata Jokowi.

Minggu, 14 Agustus 2022 | 23:27 WIB - Ekonomi
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta - Presiden Jokowi meyakini Indonesia dapat berhenti impor jagung dalam dua atau tiga tahun lagi. Jokowi ingin Indonesia dapat swasembada baik beras, jagung dan bahan pangan lainnya. 

Jokowi menyebut Indonesia sudah berhenti impor beras selama tiga tahun terakhir.

BERITA TERKAIT:
Jokowi: Hati-hati, 80 hingga 90 Persen Startup Gagal Ketika Sedang Dirintis
Presiden Jokowi Menegasakan Tak Ada Penghapusan Listrik Daya 450 VA
AHY Bandingkan Kinerja Jokowi dengan SBY, Gibran Beri Tanggapan Tak Terduga
Bobby Nasution Datangi KPK Hari Ini, Apakah Diperiksa? 
Publik Lebih Puas Kinerja Jokowi, Adian Napitupulu: Era SBY Kenaikan BBM Tinggi Sampai 254 Persen 

Hal itu ia ungkapkan saat memberikan pidato dalam acara penyerahan penghargaan ketahanan pangan beras dari International Rice Research Institute (IRRI) hari ini, Minggu (14/8).

"Insyaallah kita sudah tidak impor jagung dalam 2-3 tahun ke depan. Seperti beras yang sudah 3 tahun kita tidak impor," kata Jokowi.

Jokowi menyebut tak ingin Indonesia hanya mengonsumsi beras. Oleh sebab itu, ia tengah mengupayakan diversifikasi pangan.

"Telah kita mulai kemarin di Waingapu sorgum, di NTT sorgum, kemudian di beberapa provinsi jagung," kata dia.

Ia berkata Indonesia sudah mengalami kemajuan terhadap produksi jagung. Jumlah jagung yang diimpor lebih sedikit dari sebelumnya. Dengan itu, ia pun optimis Indonesia tak akan impor jagung lagi.

"Yang dulu 7 tahun harus impor 3,5 juta ton jagung. Hari ini kita impor kira-kura 800 ribu ton. Ini sebuah lompatan yg besar sekali," ujarnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sebelumnya menegaskan Indonesia sudah tidak mengimpor jagung, kecuali untuk kebutuhan bahan baku industri, seperti bahan pemanis.

"Saya ingin sampaikan bahwa bukan hanya beras yang sebenarnya kita sudah tidak impor, tetapi juga jagung, kecuali yang berkaitan dengan kebutuhan industri, termasuk pemanis dan lain-lain," ujarnya, secara daring, Senin (1/8).

Saat ini, produksi jagung di Indonesia di atas 18 juta ton. Kendati begitu, sesuai perintah Presiden Jokowi, produksi jagung akan terus ditingkatkan untuk mencukupi kebutuhan domestik, termasuk industri, dan berupaya meningkatkan ekspor jagung.

Jokowi dalam rapat awal bulan Agustus telah memerintahkan jajaran menteri untuk meningkatkan produksi jagung, baik untuk bahan baku, produk pascapanen, termasuk yang sudah melalui proses budidaya.

Peningkatan produksi itu melalui intensifikasi lahan dan ekstensifikasi lahan. Sedangkan, untuk produksi pascapanen, Syahrul menyebut akan melakukan beberapa upaya seperti membangun sarana pendukung pascapanen seperti silodandryer.

"Tentu saja toksin (racun) dan lain-lain bisa dikurangi, sehingga kadar air di atas 20 persen, bisa kadar air 14 persen, sehingga sangat layak untuk di market atau di industri," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan mendorong produksi jagung di lahan-lahan baru di Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara.

"Dengan total lahan seluas 141 ribu hektare (ha), dan 86 ribu hektare merupakan lahan baru," tandas Airlangga.


tags: #jokowi #jagung #swasembada #pangan #impor

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI