Fatwa Majelis Ulama Indonesia Soal Perdukunan

Segala jalan yang menuju kepada sesuatu yang haram, maka jalan (wasilah) itu juga haram.

Senin, 15 Agustus 2022 | 18:58 WIB - Ragam
Penulis: Fauzi . Editor: Surya

KUASAKATACOM, Jakarta — Belakangan ini ramai diperbincangkan soal praktik perdukunan atau kahanah. Hal tersebut buntut dari perselisihan antara Pesulap merah dan Gus Samsudin. Terlepas dari permasalahan kedua belah pihak tersebut, dalam tulisan ini bakal diulas fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait praktik perdukunan.

Dalam Islam, praktik perdukunan dianggap meresahkan lantaran dapat membawa masyarakat kepada perbuatan syirik atau menyekutukan Allah SWT. Padahal, perbuatan syirik merupakan dosa besar yang tidak dapat diampuni oleh Allah SWT.

BERITA TERKAIT:
Kapolda Jateng: Polisi dan Ulama Punya Tugas Sama, Berantas Penyakit Masyarakat
MUI Kabupaten Temanggung Kembali Adakan Pertemuan Evaluasi Program
Soal BBM Bersubsidi, MUI: Belum Ada Permohonan Fatwa
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Soal Perdukunan
MUI Apresiasi Kapolri Bongkar Kasus Brigadir J

Oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia menetapkan fatwa Nomor 2 Tahun 2005 tentang Perdukunan (Kahanah) dan Peramalan (Irafah). Dalam fatwa tersebut disebutkan bahwa segala bentuk praktek perdukunan dan peramalan hukumnya haram.

“Mempublikasikan praktik perdukunan dan peramalan dalam bentuk apapun hukumnya haram,” bunyi poin kedua keputusan fatwa tersebut.

Selain itu, dalam fatwa ini juga memutuskan bahwa memanfaatkan, menggunakan dan atau mempercayai segala praktik perdukunan dan peramalan juga hukumnya haram.

Adapun, dalil Alquran yang dirujuk dalam fatwa ini antara lain:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. al-Nisa’ [4]: 48).

"Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.’’ (Qs. Al-Nisa [4]: 116).

"(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.’’ (Qs. Al-Hajj [22]: 31).

Sementara Hadist Rasulullah SAW antara lain:

“Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.” (Hadis Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian isteri Nabi [Hafshah]).

“Orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya maka orang tersebut telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW.” (Hadis Riwayat Imam Ahmad dan al-Hakim dari Abu Hurairah)

Serta kaidh fiqh:

Segala jalan yang menuju kepada sesuatu yang haram, maka jalan (wasilah) itu juga haram.

fatwa yang dikeluarkan pada Munas ke-7 MUI di Jakarta ini ditandatangani oleh Ketua Komisi fatwa MUI KH Maruf Amin dan Sekretataris Komisi fatwa MUI Prof Dr. Hasanuddin AF merujuk pada sejumlah dalil di antaranya Alquran, Hadist dan Kaidah Fiqh.


tags: #mui #fatwa #majelis ulama indonesia #pesulap merah #gus samsudin

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI