Mahsa Amini korban pemukulan polisi karena salah memakai jilbab

Mahsa Amini korban pemukulan polisi karena salah memakai jilbab

Salah Memakai Jilbab, Mahsa Amini Dipukuli Polisi sampai Mati

Mahsa bukan korban pertama. Tapi semoga yang terakhir.

Minggu, 18 September 2022 | 12:26 WIB - Ragam
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

KUASAKATACOM, TEHERAN –  Salah memakai jilbab, seorang wanita di Iran meninggal dunia karena dipukuli oleh polisi. Mahsa Amini (22) sebelumnya dinyatakan mati otak, dan lalu meninggal, karena dipukuli oleh polisi yang menilainya memakai jilbab dengan cara yang salah.

Pemukulan itu, sebagaimana dilansir Iranwire, terjadi saat Amini tengah berpergian dari Kurdistan ke arah ibu Kota Teheran, untuk mengunjungi saudaranya.

BERITA TERKAIT:
Salah Memakai Jilbab, Mahsa Amini Dipukuli Polisi sampai Mati
Dosen di India Mengundurkan Diri Usai Diminta Pihak Kampus Lepas Jilbab
SKB Tiga Menteri Atur Penggunaan Seragam dan Atribut di Sekolah
Kepsek SMKN 2 Padang Siap Bertanggungjawab dan Dipecat

Kata polisi Iran, Amini tidak memakai jilbab sesuau aturan agama.  Seorang saksi mata mengaku melihat Amini ditangkap lalu dipukuli di dalam mobil polisi saat akan di bawa ke lokasi penahanan.

Kakak Amini, Kiarash mengatakan bahwa dia bersama korban saat penangkapan itu. Sebuah mobil polisi, katanya, menghalangi mereka, dan lalu menangkap Amini dan membawanya ke dalam mobil.

Kiarash mengatakan, Amini dikenakan penahanan untuk menjalani pendidikan ulang cara mengenakan jilbab yang benar dan pantas. Tapi, dia lalu mendengar teriakan adiknya itu, dan mencari informasi apa yang terjadi dengan penangkapan itu. Apalagi, dia juga melihat banyak perempuan lain yang ditangkap polisi moral yang dikenal sebagai Gasht-e Irsyad itu pada berhamburan lari.

“Saya kaget dan ketakutan. Saya bertanya kepada salah satu dari mereka tentang apa yang terjadi. Dia berkata, salah satu dari mereka telah terluka. Saya tidak percaya itu adalah Mahsa Amini di ambulans itu. Saya berlari sampai mencapai Rumah Sakit Kasra,” katanya.

Dokter diduga memberi tahu Kiarash, saudara perempuannya menderita stroke atau serangan jantung. Belakangan terungkap bahwa para dokter mengatakan, otak Mahsa tidak lagi sadar. Dia dinyatakan meninggal pada Jumat (16/9/2022).

Tapi,  Polisi di ibu kota Iran dilaporkan telah membantah melakukan kesalahan. Mereka mengatakan Mahsa dibawa ke kantor polisi untuk pendidikan. Tetapi perempuan muda itu kemudian tiba-tiba menderita masalah jantung.

Tapi, pernyataan ini telah dibantah oleh para aktivis hak asasi manusia.

Kantor Amnesty International Timur Tengah dan Afrika Utara pun bereaksi. "Keadaan yang mengarah pada kematian mencurigakan dalam tahanan perempuan muda berusia 22 tahun, Mahsa Amini, yang mencakup tuduhan penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya dalam tahanan, harus diselidiki secara kriminal," kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Kiarash mengatakan kepada Iranwire bahwa dia pergi ke pengadilan untuk mengajukan keluhan.

"Saya akan mengejarnya. Aku tidak akan membiarkan ini berakhir dalam diam. Saya akan memberi tahu semua orang di Iran apa yang terjadi,” katanya.

Presiden Ebrahim Raisi pada Jumat memerintahkan menteri dalam negeri untuk menyelidiki kasus tersebut. Kasus ini telah memicu kemarahan di kalangan warga Iran.


tags: #jilbab #mahsa amini

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI