Sudah Rasakan Manfaatnya, Kini Pipit Getol Promosikan Eco Enzym

Hobi baru tersebut sangat dinikmati oleh Pipit, perlengkapan bercocok tanam pun dilengkapinya termasuk pupuk organik untuk menyuburkan tanamannya.

Rabu, 30 November 2022 | 09:18 WIB - Ragam
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Blora- Pandemi Covid-19 membuat banyak orang terbatasi pergerakannya. Hal itu dikarenakan adanya aturan pembatasan yang dikeluarkan pemerintah untuk menekan penyebaran virus asal Wuhan China tersebut. Di awal pandemi, sempitnya pergerakan warga membuat situasi sangat menyulitkan.

Aturan pembatasan di tempat kerja juga dikeluarkan oleh pemerintah, sehingga banyak pekerja yang melakukan work from home (WFH). Banyaknya waktu longgar, menimbulkan rasa bosan saat berada di rumah. Guna mengusir rasa bosan itu, banyak hobi baru disalurkan. Salah satunya dengan menanam tanaman di halaman rumah.

BERITA TERKAIT:
Kemenag Sebut Vaksin COVID-19 Jadi Syarat Berangkat Haji
Profil Komjen Dharma Pongrekun, Perwira Tinggi yang Ungkap Covid-19 Sudah Direncanakan 
Apa itu Rockefeller Foundation yang Disebut sebagai Dalang Pandemi Covid-19 
Jenderal Bintang 3 Ungkap Covid-19 adalah Pandemi yang Direncanakan, Ini Dalangnya 
Vaksin Covid-19 Kini Berbayar, Berapa Harganya? 

Aktivitas menanam dan berkebun kemudian menjadi hobi baru sebagian masyarakat. Mereka tak jarang mengeluarkan uang tak sedikit untuk membeli perlengkapan menanam seperti alat semprot, cangkul, rabuk, tanah merah dan pupuk agar tanamannya tumbuh besar. Kebanyakan yang memutuskan menanam di lahan tidak luas itu memilih pupuk organik dibandingkan pupuk kimia.

Namun pupuk organik tidaklah murah, sehingga bagi orang yang memiliki kantong pas-pasan harus bisa menyiasatinya dengan cerdas yakni dengan mencoba membikin sendiri pupuk organik. Pencarian cara membuat pupuk organik pun banyak dilakukan di internet, salah satu cara paling murah dalam membuat pupuk itu dengan membikin eco enzym (EE).

Eco Enzyme merupakan alternatif pemanfaatan limbah organik menjadi produk dengan nilai ekonomi dan nilai manfaat yang tinggi. Eco Enzyme merupakan hasil olahan limbah dapur yang difermentasi dengan menggunakan gula (molase). Limbah rumah tangga yang diolah biasanya berupa ampas buah dan sayuran. 

Ketiga bahan itu kemudian dibiarkan selama tiga bulan untuk melalui proses fermentasi, proses ini nantinya menghasilkan alkohol dan asam asetat yang bersifat disinfektan. Perlu diingat eco enzym hanya dapat diaplikasikan pada produk tanaman karena kandungan karbohidrat (gula) di dalamnya.

Perkenalan dengan Eco Enzym
Banyaknya waktu luang yang dijalani Pipit Windri Aryani pada saat pandemi, membuatnya berpikir kreatif untuk tetap produktif tanpa harus keluar rumah. Salah satunya dengan berkebun memanfaatkan ruang-ruang kosong di rumahnya.

Hobi baru tersebut sangat dinikmati oleh Pipit, perlengkapan bercocok tanam pun dilengkapinya termasuk pupuk organik untuk menyuburkan tanamannya. Hingga satu saat ia bertemu temannya untuk berbagi cerita kegiatan barunya. Menurut temannya pupuk organik yang dibeli Pipit cukuplah mahal sehingga disarankan untuk membuat pupuk organik sendiri dari eco enzym.

Pipit pun tertarik untuk membikin eco enzym sendiri, dengan diajari temannya tersebut akhirnya ia berhasil membuat eco enzym sendiri. Dan semua tanaman yang ada di rumahnya diberi EE dan hasilnya sangat menyenangkan tanam yang ditanam menjadi subur dan berbuah besar.

"Ini bermula dari pandemic blessing, saat pandemi itu kan tidak ngapa-ngapain makanya saya berkebun dan menanam di pot. Saat menanam ini, saya inginnya memakai pupuk organik bukan pupuk kimia. Pupuk organik kan mahal ya, kemudian teman saya cerita bisa bikin pupuk organik dari eco enzym dan mau mengajari saya untuk membuatnya," ucap Pipit.

Melihat hasil yang luar biasa itu, membuat Pipit penasaran dengan manfaat lain dari eco enzym. Rasa penasaran itu akhirnya didapatkan Pipit saat mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas PUPR.

"Pertama itu saat pelatihan yang diadakan di Dinas PUPR Kabupaten Blora tanggal 25 November 2021, dengan pesertanya waktu itu ibu-ibu dharma wanita. Setelah itu hasil pelatihan itu kami panen, tiga bulan setelah panen kami pakai untuk mengepel atau untuk membersihkan lantai kamar mandi. Waktu itu hasil panen eco enzym hanya untuk itu saja," kata Ketua Dharma Wanita Dinas PUPR itu.

Mengajak Tetangga Membuat Eco Enzym
Karena merasa berhasil, Pipit saat ada pertemuan warga di lingkungan perumahannya kemudian berinisiatif mengajak warga untuk membuat eco enzym. Dan ajakan tersebut disambut antusias oleh tetangganya, usai pertemuan itu ia mengajari tetangganya membuat eco enzym.  

Berikutnya Pipit bersama para anggota Dasa Wisma (Dawis) menjadi lebih sering pergi ke pasar untuk memunguti sampah sayur dan buah untuk dijadikan di bahan dasar pembuatan eco enzym. 

Setelah tiga bulan melakukan proses itu, warga Perumnas Karangjati di Bulan November ini melakukan panen raya eco enzym. Ada sebanyak 100 liter EE yang dapat di panen mereka. 

Banyaknya eco enzym yang dihasilkan oleh warga tersebut, membuat Pipit tergerak untuk kembali mengikuti pelatihan pembuatan sabun mandi, sabun cair laundry, dan shampo yang berasal dari bahan turunan eco enzym. 

"Usai mengikuti pelatihan itu, saya membuka latihan bersama dengan ibu-ibu disini untuk membuat sabun cair laundry," jelas istri Kepala Dinas PUPR Blora tersebut.

Pipit menandaskan eco enzym tidak bisa diperjualbelikan namun kalau untuk bahan turunannya bisa diolah dan memungkinkan mendapatkan penghasilan. 

"Kalau ibu-ibu itukan suka kalau ada duitnya, siapa tahu ini bisa pecah telur dan jadi pengusaha sabun mandi. Ini sabun sultan, tidak sembarang orang kenal sabun dari eco enzym. Nilai lebih sabun ini adalah tanpa pengawet, kemudian tanpa kimia," tandasnya.

"Kini ibu-ibu ini bisa membuat sabun dari eco enzym yang tidak mengandung detergen tapi bisa keset, bersih, kenyal, bisa mengurangi flek dan mengurangi bau badan," imbuh Ketua Eco Enzym Nusantara Blora itu.

Nilai lebih seorang perempuan menurut Pipit adalah yang memiliki kemampuan positif. 

"Seorang perempuan yang memiliki kemampuan atau bisa membuat sesuatu itu value buat perempuan, nilai lebih seorang perempuan yakni dengan mau belajar dan mau bersama-sama maju itu yang diinginkan Kartini zaman dulukan seperti itu," ujar istri Samgautama Karnajaya itu.

Tetangga Ikut Merasakan Manfaat EE
Kini banyak ibu-ibu rumah tangga di perumahan Karangjati yang bisa membuat eco enzym, salah satunya Titis Ednawati. Ia mengaku awalnya tahu eco enzym saat Pipit mempresentasikan kegunaan EE di pertemuan warga, saat itu dirinya tahu EE hanya bisa untuk pupuk organik. "Setelah pertemuan itu kami warga yang berminat membuat eco enzym diajari sama Ibu Pipit, saat mengajari itu ia juga menerangkan produk turunan eco enzym ini juga bisa dijadikan sabun dan shampo. Dari situ saya makin tertarik untuk membuat eco enzym," ucapnya.

Titis mengungkapkan usai panen pertama eco enzym di lingkungannya tersebut, kini warga diajari Pipit cara membuat sabun dan shampo. "Ibu Pipit bilang agar kita mulai memanfaatkan eco enzym ini untuk mengurangi penggunaan deterjen yang merusak lingkungan, hal itu sudah kami rasakan manfaatnya. Kini kami mengepel lantai tidak lagi menggunakan bahan kimia namun cukup dengan EE dan hasilnya tidak kalah dengan produk yang dijual dipasaran," bebernya. 

***

tags: #covid-19 #kabupaten blora #warga #eco enzyme

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI