Saksi Ahli Sebut Bharada E Dilema Moral dengan Perintah Tembak dari Ferdy Sambo

Richard mengalami dilema terkait perintah dari atasannya untuk menembak seseorang.

Senin, 26 Desember 2022 | 15:23 WIB - Ragam
Penulis: Fauzi . Editor: Surya

KUASAKATACOM, Jakarta – Terdakwa Richard Eliezer alias Bharada E disebut mengalami dilema moral saat mendapat perintah menembak dari Ferdy Sambo. Hal tersebut disampaikan oleh ahli filsafat moral, Romo Magnis Suseno yang dihadirkan sebagai saksi yang meringankan terdakwa Bharada E di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini Senin (26/12/2022).

Romo Magnis mengatakan, terdapat dilema moral dari sudut pandang etika yang dialami Richard ketika menembak Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Hal tersebut dikatakannya ketika kuasa hukum Richard, Ronny Talapessy menanyakan Romo Magnis terkait sudut pandang etika perintah yang diterima Richard dari atasannya untuk menembak Brigadir J.

BERITA TERKAIT:
Ini Aktivitas Richard Eliezer Setelah Keluar Penjara 
Reichard Eliezer Sudah Keluar Penjara sejak 4 Agustus 2023
Richard Eliezer akan Bebas Pada 31 Januari 2024 
LPSK Cabut Perlindungan, Polri Tetap Beri Pengamanan ke Bharada E
Belum Genap Satu Hari di Lapas Salemba, Bharada E Dikembalikan ke Rutan Bareskrim Polri

Bharada E adalah seorang anggota Polri yang terikat oleh kewajiban untuk mengikuti perintah atasan, termasuk saat diperintah untuk menembak orang. Bagaimana saudara ahli melihat tersebut dari sudut pandang etika?,” tanya Ronny kepada Romo Magnis .

“Dari sudut pandang etika, di situ kita bicarakan dengan sebuah dilema moral. Di satu pihak, harusnya dia tahu bahwa yang diperintahkan itu tidak boleh diperintahkan,” ujar Magnis.

“Tentu di situ juga bisa dipertanyakan, apakah misalnya dalam budaya yang sangat mementingkan perintah, batas wajib melaksanakan perintah dibicarakan. Saya tidak tahu sama sekali hal itu. Jangan-jangan, para, katakan saja misalnya di kepolisian, para polisi hanya dididik ‘pokoknya kamu harus taat selalu”,” sambung Magnis.

Magnis menjelaskan, Richard mengalami dilema terkait perintah dari atasannya untuk menembak seseorang. Di lain pihak, menembak seseorang bukanlah hal yang kecil.

“Nah secara etis, dalam dilema itu bisa saja kejelasan penilaian yang bersangkutan itu l, yang jelas merasa amat susah karena berhadapan. Di satu pihak, menembak sampai mati bukan hal kecil. setiap orang tahu, dia tahu juga,” papar Magnis.

Lebih lanjut, Magnis mengatakan pemberi perintah untuk menembak berada dalam situasi berat untuk memberi perintah.
Sehingga, tidak bisa menyalahkan Richard begitu saja. Richard memang bisa menolak atau memberi tahu bahwa perintah menembak itu salah. Namun dalam situasi saat itu, sang pemberi perintah belum tentu mengerti.

“Yang memberi perintah itu orang yang juga dalam situasi tertentu malah berat untuk memberi perintah menembak mati,” kata Magnis.

“Dari sudut etika dalam situasi bingung, etika akan mengatakan kamu, menurut saya, jangan begitu saja mengutuk atau mempersalahkan dia. Objektif dia salah,” imbuhnya.

“Dia (Richard) harus melarang, tetapi apakah dia (Pemberi perintah/Sambo) bisa mengerti. Dan dalam etika pengertian kesadaran itu merupakan unsur kunci,” tandasnya.

***

tags: #bharada e #richard eliezer #saksi ahli #romo magnis suseno

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI