Moderasi Beragama Berarti Proses Memahami Agama secara Adil dan Berimbang

jalan tengah seseorang tidak ekstrim dan tidak berlebih-lebihan

Kamis, 22 Februari 2024 | 18:55 WIB - Ragam
Penulis: Holy . Editor: Surya

KUASAKATACOM, Semarang - Jaringan Penggerak Moderasi Beragama (JPMB) bekerjasama dengan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kota Semarang menggelar seminar kebangsaan penguatan Moderasi Beragama  dengan tema "Moderenisasi Forum Beragama di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa". Acara yang diikuti 250 peserta ini digelar di aula Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang, pada Kamis (22/2).

Sekda Kota Semarang Iswar Aminuddin mengatakan Moderasi Beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang. Hal ini agar terhindar dari perilaku yang menyimpang yang tidak diajarkan di dalam agama.

BERITA TERKAIT:
Moderasi Beragama Berarti Proses Memahami Agama secara Adil dan Berimbang
Lima Pegawai Pemkot Semarang Diperiksa KPK, Diantaranya Sekdin Damkar
Tiga Tokoh Menguat di Bursa Pilwalkot Semarang, Siapa Saja?
HUT ke-52 KORPRI, Sekda Tegaskan Pelayanan Pemkot Semarang Tetap Berjalan Normal
Iswar Tegaskan TMMD Sengkuyung Bantu Pemkot Atasi PR Pembangunan di Kota Semarang

Moderasi Beragama berarti cara beragama jalan tengah seseorang tidak ekstrim dan tidak berlebih-lebihan saat menjalani ajaran agamanya. Orang yang mempraktekkannya disebut moderat. Prinsip dasar Moderasi Beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal, yaitu keseimbangan antara akal dan wahyu, antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individu dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta antara masa lalu dan masa depan,” kata Iswar.

Ia mengatakan Fanatisme pada agama adalah sebuah keniscayaan, penganut agama memang harus bersifat fanatik karena agama adalah kebenaran mutlak (dari Tuhan). Tanpa fanatisme kepercayaan (keimanan) seseorang diragukan. Lalu, ekstrimisme beragama adalah paham atau keyakinan yang sangat kuat terhadap suatu pandangan yang melampaui batas kewajaran dan bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.

“Toleransi agama adalah meyakini kebenaran dan menjalankan ajaran agama yang kita peluk, sekaligus menghormati orang lain memiliki keyakinan kebenaran dan menjalankan ajaran menurut agamanya,” jelasnya.

Dia menerangkan Moderasi Beragama bukan hal absurd yang tak bisa diukur. Keberhasilan Moderasi Beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia dapat terlihat dari tingginya empat indikator utama serta beberapa indikator lain yang selaras dan saling bertautan. Pertama, komitmen kebangsaan penerimaan terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam konstitusi: UUD 1945 dan regulasi di bawahnya. Kedua, toleransi merupakan menghormati perbedaan dan memberi ruang orang lain untuk keyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat. Menghargai kesetaraan dan sedia bekerjasama.

Ketiga, anti Kekerasan yaitu menolak tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dalam mengusung perubahan yang diinginkan. Keempat, penerimaan terhadap tradisi ramah dalam penerimaan tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama.

Komandan Kodim 0733 Kota Semarang Kolonel Inf Rahmad Saerodin menegaskan Islam itu fleksibel dan mengajarkan cinta perdamaian. Sehingga segala perilaku umat Islam harus sesuai dan sejalan dengan ajaran dan amalan Agama Islam.

“Berdasarkan Surah Al-Kafirun ayat 6, sebagai umat Islam kita tidak boleh mencampuradukkan dalam hal aqidah dan ibadah, tidak beribadah sesuai cara ibadah orang kafir, tidak memaksakan agama dan keyakinan orang lain, tidak memaksa non-muslim untuk beragama islam, dan tidak ikut mengerjakan ibadah orang non muslim. Allah SWT tidak melarang orang Islam berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang penganut agama lain selama mereka tidak memusuhi dan tidak memerangi atau mengusir orang Islam,” tegasnya. 

Kepala Kantor Kemenag Kota Semarang Ahmad Farid mengatakan inti pokok ajaran agama adalah pada nilai-nilai universal. Karena semua agama mengajarkan saling menghormati, mengasihi dan memuliakan sesama manusia serta membangun kemaslahatan bersama. 

“Agama hadir ke muka bumi bertujuan untuk menjaga, memelihara, dan melindungi harkat, martabat, serta derajat kemanusiaan,” kata Farid.

Dia menyebut Moderasi Beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum – berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa. Moderasi Beragama sangat penting untuk menciptakan kerukunan, harmoni sosial, sekaligus menjaga kebebasan dalam menjalankan kehidupan beragama, menghargai keragaman tafsir dan perbedaan pandangan, serta tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama.

Moderasi Beragama merupakan titik temu yang merekatkan semangat beragama dengan komitmen berbangsa dan bernegara, sekaligus menjadi strategi kebudayaan untuk merawat ke-Indonesiaan,” ungkapnya. 

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Semarang Dr H AM Juma'i menjelaskan, dalam bahasa Arab, moderasi dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah-­tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Orang yang menerapkan prinsip wasathiyah bisa disebut wasith. Dalam bahasa Arab pula, kata wasathiyah diartikan sebagai “pilihan terbaik”. Apapun kata yang dipakai, semuanya menyiratkan suatu makna yang sama, yakni adil, yang dalam konteks ini berarti memilih posisi jalan tengah di antara berbagai pilihan ekstrem.

“Moderasi adalah sikap dan pandangan yang tidak berlebihan, tidak ekstrim dan tidak radikal (tatharruf). Q.s. al-Baqarah: 143 yang dirujuk untuk pengertian moderasi disini menjelaskan keunggulan umat Islam dibandingkan umat lain. Menjadi moderat bukan berarti menjadi lemah dalam beragama. Menjadi moderat bukan berarti cenderung terbuka dan mengarah kepada kebebasan. Keliru jika ada anggapan bahwa seseorang yang bersikap moderat dalam beragama berarti tidak memiliki militansi, tidak serius, atau tidak sungguh-sungguh, dalam mengamalkan ajaran agamanya. Oleh karena pentingnya keberagaman yang moderat bagi kita umat beragama, serta menyebarluaskan gerakan ini. Jangan biarkan Indonesia menjadi bumi yang penuh dengan permusuhan, kebencian, dan pertikaian. Kerukunan baik dalam umat beragama maupun antarumat beragama adalah modal dasar bangsa ini menjadi kondusif dan maju,” tegas dia.

***

tags: #iswar aminuddin #moderasi beragama #seminar #adil dan berimbang

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI