Sang Anak Kenang Sosok Edy Paryono: Papa Sangat Disiplin dan Seluruh Hidupnya untuk Sepak Bola 

"Papa memang mempunyai jiwa pemimpin dan jiwa disiplin. Tegas. Terhadap anak dan juga temen-temen atau juga pemain yang lainnya," ungkap Embi. 

Senin, 26 Februari 2024 | 15:05 WIB - Olahraga
Penulis: - . Editor: Hani

KUASAKATACOM, Semarang - Kepergian pelatih legendaris PSIS Semarang Edy Paryono menjadi duka mendalam bagi pecinta sepak bola khususnya warga Kota Semarang. 

Edy Paryono merupakan pelatih legendaris yang mampu mengantarkan PSIS Semarang menyabet juara Liga Indonesia 1999. 

BERITA TERKAIT:
Akhirnya! PSIS Kembali Berlatih di Stadion Citarum Semarang
Meski Kalah, Gilbert Agius Yakin PSIS Masih Bisa Tembus Empat Besar
PSM Makassar Vs PSIS Semarang: Laskar Mahesajenar Kalah 1-3
Operasi Kecil, Dewangga Belum Berangkat ke TC Timnas
Tiga Pemain PSIS Dipanggil Timnas untuk Hadapi Piala Asia

Edy tutup usia di umur 69 tahun. Ia menghembuskan napas terakhir di RS Permata Medika Ngaliyan Senin dini hari (26/2) setelah berjuang melawan penyakit stroke. Edy dikebumikan di TPU Watu Belah Senin jam 10 pagi. 

Embi Tirtana, anak kelimanya mengenang ayahnya sebagai sosok yang disiplin dan memiliki jiwa leadership. 

"Papa memang mempunyai jiwa pemimpin dan jiwa disiplin. Tegas. Terhadap anak dan juga temen-temen atau juga pemain yang lainnya," ungkap Embi. 

Di mata Embi, papanya adalah orang yang berhasil. Kelima anaknya mampu mengenyam pendidikan tinggi.  

"Di lingkungan sosial juga, bisa dibilang papa adalah orang yang dituakan dan disegani di wilayah Mijen terutama," tambahnya.

Saat memasuki usia senja, almarhum sempat menangani klub besar di Palangkaraya, serta aktif berolahraga dan berorganisasi di lapangan. Selain itu,  aktif di Sekolah Sepak Bola (SSB) untuk pengembangan anak usia dini. 

Perlu diketahui Edy Paryono menderita penyakit stroke sejak 3 tahun lalu dan sudah hampir 4 kali keluar- masuk rumah sakit.

Bagi Embi seluruh hidup ayahnya tersebut didedikasikan untuk sepak bola.

"Ya papa itu, dulu selain aktif sebagai pegawai negeri, papa juga habisin waktunya di sepak bola. Nah sejak saya usia sembilan tahun, sudah sering ditinggal papa. Entah itu di luar kota atau mungkin papa kursus kepelatihan di dalam negeri maupun luar negeri. Sampai terakhir, saya kuliah itu papa masih aktif melatih di klub liga. Artinya jaranglah, saya ketemu papa, mungkin pas akhir kompetisi atau tidak memegang klub," tuturnya. 

"Memang separuh hidupnya itu sudah bener-bener untuk sepak bola beliau itu. Tidak bisa dipungkiri lagi masalah untuk olahraga, terutama sepak bola beliau," kata Bagus Aditya Rahma, salah satu menantunya. 

Ternyata beberapa anaknya sempat mengikuti jejak sang ayah sebagai pesepak bola. Anak pertama pernah sampai masuk Diklat di Mandau, Kalimantan dan berkarir di PSIS U-23 Puslat. Anak kedua hanya sampai sekolah sepak bola. Anak keempatnya tak cukup lama bermain karena terkendala kesehatan mata. Sementara si bontot sempat bermain untuk PSIS Junior. 

*Ditulis oleh wartawan magang Rahardian Haikal Rakhman

***

tags: #psis semarang #edy paryono

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI