Kasus Penganiayaan Anaknya Terkatung-katung Hampir 2 Tahun, Seorang Ibu Laporkan Satreskrim Polres Batang ke Propam Polda Jateng

Pada 5 oktober 2022 dia pun melapor ke Polres Batang. Dari hasil pemeriksaan polisi kepada saksi-saksi, kata dia, benar disebut terjadi penganiayaan.

Sabtu, 02 Maret 2024 | 16:55 WIB - Ragam
Penulis: Holy . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Semarang – Seorang warga asal Griya Ferlita Asri RT 3 RW 4, Desa dan Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bernama Hermining Widiarti, melaporkan Satreskrim Polres Batang ke Propam Polda Jateng.

Hermin melaporkan Polres Batang atas dugaan tidak profesionalnya penanganan kasus penganiayaan yang menimpa anaknya berinisial AAH (15). Adapun penganiayaan yang menimpa anaknya terjadi sekitar 1,5 tahun lalu. Terduga penganiaya yakni seorang direktur salah satu BPR setempat. Dia melapor ke Propam Polda Jateng pada Kamis (29/2).

BERITA TERKAIT:
Kasus Penganiayaan Anaknya Terkatung-katung Hampir 2 Tahun, Seorang Ibu Laporkan Satreskrim Polres Batang ke Propam Polda Jateng
Polres Tegal Tangkap Lima Pria Spesialis Pembobol Minimarket
Jadi Korban Penjambretan, Wanita 69 Tahun di Semarang Alami Luka-luka
Dua Warga Banyumas Jadi Tersangka Pencurian Baterai Tower XL
Bejat! Modal Uang, Pria di Banjarnegara Cabuli Tiga Anak Dibawah Umur

“Peristiwa penganiayaan pada 19 September 2022 sekitar pukul 07.00 wib di SMA N 1 Subah, Batang,” kata Hermin.

Saat itu anaknya masih duduk di bangku kelas X SMA. Pada waktu itu, saat anaknya hendak masuk area sekolah, ada teman perempuan korban memanggil, sehingga AAH menghentikan langkah. Mendadak, saat bersamaan, datang seorang pria yang diketahui bekerja sebagai direktur BPR tanpa basa basi langsung menganiaya korban.

“Lalu datang seorang pria. Pria itu langsung pegang kerah pakaian seragam anak saya dan memukul lima kali,” ungkapnya.

Usai puas menghajar korban, pria itu lantas bilang jika dia emosi karena korban melakukan pelecehan seksual kepada anak Perempuan tersebut. AAH pun membantah jika pernah melecehkan anak Perempuan itu. 

Hanya saja, kata dia, pihak sekolah pernah mengadakan event lomba melukis. Satu kelompok berisi lima siswa. Ketika ramai saat melukis, AAH tak sengaja menyenggol organ tertentu si anak Perempuan. Anak Perempuan itu pun cuek. Bahkan, lanjutnya, Ketika di kepolisian, hal tersebut tak masuk pelecehan.

“Lalu datang seorang satpam dan ngamankan bapak itu. para guru kemudian membawa anak saya masuk ke sekolah. Saya lalu minta sekolah untuk mediasi tapi tidak ada hasil karena bapak itu tidak mengakui dan tidak minta maaf. Bapak itu malah minta saya melapor ke polisi,” terang dia.

Pada 5 oktober 2022 dia pun melapor ke Polres Batang. Dari hasil pemeriksaan polisi kepada saksi-saksi, kata dia, benar disebut terjadi penganiayaan.

“Tapi mau melangkah ke ranah selanjutnya, foto rontgent sudah tidak menunjukkan pembengkakan pada dada. Karena kami rontgent telat. Lalu dianjurkan ke psikolog. Lalu datang psikolog ke polisi. Saya tanya hasil malah psikolog jawab “udah ibu tenang aja. Gak usah tahu hasil yang penting bisa melangkah”. Tapi sampai sekarang, di Polres Batang tidak ada hasil dan saya kecewa,” imbuhnya.

Karena kecewa itu, dia melapor ke Propam Polda Jateng. Dengan harapan ada kepastian keadilan.

“Kasus ini terkatung katung hampir dua tahun. Kami menuntut keadilan,” ungkap dia.

Sementara, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Satake Bayu memastikan Propam Polda Jateng bergerak pasca adanya laporan. “Begitu ada laporan, prosedurnya pasti ditindaklanjuti. Jika ada pelanggaran anggota, akan proses lanjutan,” ungkapnya.

***

tags: #satreskrim #polres batang #propam #polda jateng #penganiayaan

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI