Gebyuran Bustaman Digelar, Didorong Jadi Destinasi Wisata Tahunan 

Tradisi ini berupa aksi saling siram air secara massal. Sebelumnya para peserta mencorat-coret tubuhnya dengan cat yang menjadi lambang dosa. 

Senin, 04 Maret 2024 | 12:51 WIB - Budaya
Penulis: - . Editor: Hani

KUASAKATACOM, Semarang - tradisi Gebyuran Bustaman digelar secara meriah, Minggu (3/3). Seperti namanya gebyuran ini diselenggarakan di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah. 

tradisi ini berupa aksi saling siram air secara massal. Sebelumnya para peserta mencorat-coret tubuhnya dengan cat yang menjadi lambang dosa. 

BERITA TERKAIT:
Gebyuran Bustaman, Tradisi yang Sempat Terhenti Kini Lestari Kembali
Gebyuran Bustaman Digelar, Didorong Jadi Destinasi Wisata Tahunan 
Meriahnya Gebyuran Bustaman di Semarang untuk Menyambut Bulan Ramadan
Gus Yasin: Gebyuran Bustaman Mengandung Pesan Manusia Tidak Boleh Simpan Dendam

Setelahnya mereka akan beramai-ramai melakukan gebyuran atau mengguyur dengan air sebagai simbol pensucian dosa. Soemarmo, Walikota Semarang periode 2010-2012 mengajak masyarakat Gebyuran Bustaman untuk bersatu kembali dalam perayaan ini setelah merayakan pemilu.  

"Pada kesempatan kali ini, saya mengajak panjenengan semuanya, baru saja kita menyelesaikan tugas demokrasi yaitu pemilu. Mari kita bersatu kembali untuk menyongsong hari depan yang lebih baik. Ini merupakan kegiatan menjelang bulan suci Ramadhan, awal gembira ini simbolis, tapi yang paling penting adalah mensucikan hati dan pikiran kita dengan saling memaafkan sehingga kita saat memasuki bulan Ramadan tidak ada lagi sengketa dan sebagainya," ujarnya pada Minggu (3/2).

Soemarmo menambahkan bahwa tradisi Gebyuran Bustaman dapat dijadikan sebagai destinasi Wisata tahunan di Kota Semarang. tradisi ini bisa dikembangkan dan ditata lebih baik ke depan dengan menggandeng pelaku Usaha Kecil Mikro Menengan (UMKM). 

"Ya kelihatan sekali bahwa mereka ini sebetulnya tidak ada di dalam hatinya 'wah mau menyakiti' tidak ada, tapi memang pesta untuk menyambut bulan suci Ramadan. Jadi sangat antusias untuk warga itu menyambut bulan suci Ramadhan," ungkap Soemarno.

Kemudian Kepala Wisata'>Dinas Kebudayaan dan PariWisata (Disbudpar) Kota Semarang Wing Wiyarso menyampaikan kegiatan Gebyuran Bustaman ini harus dilestarikan karena merupakan salah satu roh pendukung pariWisata di Kota Semarang. 

"Melalui Wisata'>Dinas Kebudayaan dan PariWisata, kami sangat mengapresiasi kegiatan Gebyuran Bustaman ini, karena ini merupakan budaya yang sangat arif. Ini perlu kita lestarikan karena Gebyuran Bustaman ini merupakan salah satu roh untuk mendukung pariWisata di Kota Semarang. Jadi insyaallah, saya minta tolong untuk tradisi Gebyuran Bustaman ini seyogyanya kita rawat, kita lestarikan, dan kita perbaiki sehingga nantinya mendatangkan Wisata dari luar karena Semarang saat ini menjadi tumpuan wisatawan baik dari nusantara maupun manca negara," ujarnya. 

*Ditulis oleh wartawan magang Rahardian Haikal Rakhman

***

tags: #gebyuran bustaman #kampung bustaman #dinas kebudayaan dan pariwisata #tradisi #wisata

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI