Banjir di Demak, Kudus, dan Grobogan Dikaitkan dengan Selat Muria, Benarkah akan Jadi Lautan?

Saat ini sisa dari Selat Muria menjadi sebuah aliran sungai yang disebut Kalilondo yang membentang dari Juwana di sebelah timur hingga ke Ketanjung di sebelah barat.

Senin, 18 Maret 2024 | 12:15 WIB - Ragam
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

KUASAKATACOM, Demak- cuaca ekstrem yang melanda Jawa Tengah dalam beberapa hari ini, membuat sejumlah wilayah Grobogan, Kudus, Demak, dan Semarang terendam banjir. Bahkan sejumlah daerah seperti di Grobogan dan Kudus, tanggul sungainya mengalami jebol dua kali sehingga merendam kawasan pemukiman warga di sekitar sungai.

banjir yang beberapa kali merendam itu membuat sejumlah pihak mengaitkan dengan asal usul keempat wilayah tersebut yang dulunya merupakan lautan yang memisahkan antara pulau Jawa dengan Gunung Muria atau lebih sering disebut Selat Muria. Hal itu seperti unggahan akun TikTok @kabarjatengdiy dengan caption "Akankah Selat Muria akan kembali ada?".

BERITA TERKAIT:
Pasca Banjir, Warga Karanganyar Demak Rayakan Lebaran Diiringi Keprihatinan
Masyarakat Diimbau Waspada Fenomena Supermoon dan Rob Jelang Idul Fitri
Peringatan HUT Demak Tahun Ini akan Digelar Sederhana, Ini Rangkaiannya 
Masyarakat harus Waspadai Penyakit Leptospirosis Saat Banjir 
Banjir Demak Dikaitkan Mitos Dua Ular Raksasa Sowan Makam Sunan Kalijaga, Benarkah Demikian?

Dilihat dari komentar-komentar para netizen ada yang menuliskan dulunya Semarang Utara, sebagian Demak, Kudus, sebagian Pati, sedikit Rembang dan Purwodadi merupakan lautan. "Namun karena terjadi pendangkalan terus menerus akhirnya Selat Muria menjadi daratan," tulis akun @ekosa1492.

Benarkah banjir belakangan ini merendam wilayah tersebut ada kaitannya dengan selat Muria. Mungkin hal itu harus dibuktikan secara ilmiah, namun faktanya sekarang daerah-daerah yang dulunya dipercaya sebagai lautan bagian dari selat Muria tersebut seringkali terendam banjir

Mengenal Selat Muria
Selat Muria, terletak di bagian utara Jawa Tengah, merupakan jalur air yang memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura. Selat ini membentang sepanjang sekitar 80 kilometer dan memiliki lebar antara 25 hingga 50 kilometer. Ini adalah salah satu jalur air penting di Indonesia yang menghubungkan Laut Jawa dengan Laut Jawa Timur. 

Selat ini pernah menjadi kawasan perdagangan yang ramai, dengan kota-kota dagang seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana. Bahkan pusat Kerajaan Demak berada di pesisir selat ini. Selain banyak pelabuhan perdagangan, wilayah selat Muria juga terkenal banyak galangan-galangan kapal yang memproduksi kapal Jung Jawa berbahan kayu Jati yang banyak ditemukan di Pegunungan Kendeng. Kapal Jung Jawa sendiri sering disebut kapal raksasa pada masanya dan diakui sebagai penguasa lautan Nusantara.

Ramainya Selat Muria membuat banyak ulama dan pedagang Islam yang datang dari luar negeri, seperti Gujarat, Persia, dan Arab, sering berlabuh di pelabuhan-pelabuhan di Selat Muria untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Hingga Abad ke-17, Selat Muria masih ramai dengan aktivitas perdagangan sayangnya sekitar tahun 1657 peraiaran tersebut mulai menyusut.

Menyusutnya selat Muria tersebut menurut laporan pada tahun 1657 dikarenakan endapan fluvial dari sungai-sungai yang bermuara ke Selat Muria seperti Kali Serang, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi mengakibatkan pendangkalan sehingga selat tidak dapat dilintasi kapal-kapal besar. Karena pendangkalan itu, membuat pusat perdagangan sempat dipindahkan ke Jepara. Adanya pendangkalan itu, Tumenggung Natairnawa dari Pati sempat memerintahkan untuk menggali endapan di selat tersebut namun endapan makin cepat menghilangkan Selat Muria. Pada masa-masa akhir keberadaan Selat Muria terdapat saluran air yang dapat dilewati perahu-perahu kecil yang kini disebut Kalilondo.

Saat ini sisa dari Selat Muria menjadi sebuah aliran sungai yang disebut Kalilondo yang membentang dari Juwana di sebelah timur hingga ke Ketanjung di sebelah barat. Selain itu, sungai juga terbentuk dari bekas Selat Muria lainnya yakni Sungai Silugunggo yang melintasi wilayah Kabupaten Pati. Di sepanjang kawasan dua sungai itu pula sering terjadi penemuan reruntuhan perahu, kapal, dan meriam yang menjadi bukti dulunya ada selat di kawasan tersebut.

Selain itu kawasan yang dulunya merupakan Selat Muria ini sering dilanda banjir saat musim penghujan.

Berikut daera-daerah yang dulunya berada di Selat Muria yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Kudus dan Jepara.

- Kabupaten Kudus meliputi Kecamatan Undaan, Kecamatan Mejobo, Kecamatan Kaliwungu, dan Kecamatan Jekulo.

- Kabupaten Jepara meliputi Kecamatan Mayong (Desa Kuanyar Kalikulon dan Desa Paren), Kecamatan Nalumsari (Desa Magangan, Blimbingrejo, Dorang, Pringtulis, Tunggulpandean, Desa Gemiring, Dukuh Gemiring Kidul, dan Dukuh Jatisari), Kecamatan Welahan (Desa Karanganyar, Gedangan, Ujungpandan, Teluk Wetan, Kendengsidialit, Desa Sidigede, Kalipucang, dan Desa Guwosobokerto), Kecamatan Donorojo (Desa Clering dan Bandungharjo), Kecamatan Keling (Desa Bumiharjo).  

   

***

tags: #banjir #kabupaten kudus #kabupaten jepara #cuaca ekstrem #kabupaten grobogan

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI