Profil Ebrahim Raisi, Presiden yang Berani Ancam Israel

Raisi merupakan presiden kedelapan Iran yang menjabat sejak memenangkan pemilu pada tahun 2021.

Senin, 20 Mei 2024 | 21:46 WIB - Ragam
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta - Iran baru saja kehilangan sosok pemimpin mereka, Ebrahim Raisolsadati atau lebih dikenal dengan nama Ebrahim Raisi akibat jatuh dari helikopter yang ditumpanginya di wilayah perbatasan Azerbaijan dan Iran, tepatnya di 100 kilometer kota Tabriz, dekat sebuah desa bernama Tavil pada Minggu (19/5/2024). 

Raisi merupakan Presiden kedelapan Iran yang menjabat sejak memenangkan pemilu pada tahun 2021. Semasa hidupnya ia dikenal berani menantang Israel.

BERITA TERKAIT:
Israel Diduga Terlibat Dalam Kematian Presiden Raisi
Menlu RI Turut Berbelasungkawa atas Wafatnya Presiden Iran Ebrahim Raisi
Profil Ebrahim Raisi, Presiden yang Berani Ancam Israel
Presiden Iran Ebrahim Raisi Dipastikan Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Helikopter
Helikopter Presiden Raisi Jatuh, Ayatollah Ali Khamenei Duga Israel Terlibat

Ebrahim Raisi lahir pada tanggal 14 Desember 1960 dari keluarga religius di kota suci Muslim Syiah Iran, Mashhad. 

Dia sudah menjadi yatim pada usia 5 tahun, kemudian ia mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi seorang ulama. Semasa remaja, ia bersekolah di seminari agama di kota suci Qom. 

Selama menjadi siswa, Raisi ikut serta dalam protes melawan Shah yang didukung Barat pada revolusi 1979. Selanjutnya, ia menjalin kontak dengan para pemimpin agama di Qom sehingga membuatnya menjadi sosok yang dipercaya di lembaga peradilan. Pada tahun 1983, Ebrahim Raisi menikahi Jamileh Alamolhoda, seorang putri dari pemimpin salat Jumat Mashhad dan Imam Besar dari tempat suci Imam Reza, Ahmad Alamolhoda. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai dua orang anak.

Jauh sebelum dikenal luas sebagai politikus, Raisi merupakan seorang principalis dan ahli hukum Islam. Dia pernah menjabat di beberapa posisi dalam sistem peradilan Iran, seperti Wakil Ketua Mahkamah Agung (2004-2014), Jaksa Agung (2014-2016), dan Ketua Mahkamah Agung (2019-2021). 

Bahkan sempat menjadi Jaksa dan Wakil Jaksa Teheran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Raisi adalah Kustodian dan Ketua Astan Quds Razavi, sebuah bonyad, dari tahun 2016 hingga 2019. Ia juga merupakan anggota Majelis Ahli dari Provinsi Khorasan Selatan, terpilih untuk pertama kalinya pada pemilu tahun 2006.

Pencalonan Raisi menjadi Presiden dilakukan pada tahun 2017, saat itu dia merupakan kandidat dari Front Populer Pasukan Revolusi Islam. Pada pertarungan politik itu, dia kalah dari Presiden petahana Hassan Rouhani, 57 persen berbanding 38,3 persen. 

Selanjutnya, Raisi kembali mencalonkan diri sebagai Presiden pada tahun 2021, kali ini dia berhasil mengantongi 62,9 persen suara, menggantikan Hassan Rouhani. Berdasarkan banyak pengamat, pemilihan Presiden Iran tahun 2021 diwarnai aksi kecurangan untuk memenangkan Raisi, yang dianggap sebagai sekutu pemimpin tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei. 

Raisi lekat dengan citra sebagai kandidat kuat yang akan menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Dia juga kerap dipandang sebagai pemimpin garis keras dalam politik Iran.

Meninggalnya Raisi tentu menjadi perhatian penuh masyarakat Iran. Ia dikenal sebagai seorang tokoh penting dalam masyarakat politik dan agama Iran hingga sosok yang ingin terlibat aktif di masalah internasional termasuk perang yang terjadi antara Israel dan Gaza. 

Pada April 2024 lalu, Israel membunuh perwira senior pasukan Iran yang menimbulkan respon tembakan drone dan rudal ke wilayah Israel. Raisi juga mengancam keras jika Israel Membalas.

*Ditulis oleh wartawan magang Rahardian Haikal Rakhman

***

tags: #ebrahim raisi #presiden #iran

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI