58% Orang Tua Indonesia Dukung Pendidikan Vokasi Indonesia sebagai Pilihan Pendidikan Bagi Anak

"Temuan ini sejalan dengan komitmen kami untuk menyiapkan lulusan vokasi yang sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Rabu, 12 Juni 2024 | 21:11 WIB - Didaktika
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Jakarta– Sebanyak 58% orang tua setuju dan mendukung pendidikan anaknya dilanjutkan ke pendidikan Vokasi. Hal itu menunjukkan keberhasilan transformasi pendidikan Vokasi melalui Merdeka Belajar yang selama ini dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Menanggapi hasil temuan tersebut Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbudristek, Kiki Yuliati, mengatakan bahwa temuan ini mendukung inovasi dan kebijakan Merdeka Belajar yang digaungkan oleh Kemendikbudristek dalam menyiapkan para siswa, mahasiswa, dan tenaga pendidik untuk lebih merdeka.
 
"Temuan ini sejalan dengan komitmen kami untuk menyiapkan lulusan Vokasi yang sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan di dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Selain itu, hal ini juga dapat mendukung para pelajar Pendidikan Vokasi dan dapat mendukung pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila," ujar Kiki Yuliati.

BERITA TERKAIT:
Rupa-rupa 'Iki Buntu: Fest I', Festival Kampung Pertama Digelar Kolektif Hysteria di Petemesan Semarang
Kebutuhan STEM Terus Meningkat, Pendidikan Vokasi Jawab Tantangan SDM Indonesia di Era Disrupsi Teknologi
Anggaran untuk Kemendikbud Kurang, Nadiem Minta Tambahan Rp25 Triliun
Nadiem Mengeluh, Anggaran Kemendikbud Kurang
58% Orang Tua Indonesia Dukung Pendidikan Vokasi Indonesia sebagai Pilihan Pendidikan Bagi Anak

Kiki menambahkan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi telah melakukan sejumlah inovasi dan kebijakan terhadap pendidikan Vokasi
"Kami telah bekerja sama dengan para mitra DUDI melalui program Business Matching, ruang interaksi antara pelaku industri dan satuan pendidikan Vokasi. Inovasi ini memberikan kesempatan bagi pelajar untuk memperlihatkan potensi yang dimiliki, dan dapat menjadi mitra sebagai pekerja di perusahaan tersebut," tambah Kiki. 

Selain itu, terdapat program Upskilling dan Reskilling yang terus dilakukan kepada para pengajar dan tenaga pendidik agar sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan industri terkini. Pelatihan ini dilakukan mengingat para pengajar dan tenaga pendidik akan mengajarkan ilmunya kepada para siswa pendidikan Vokasi

Pelatihan tersebut sejalan dengan program Merdeka Belajar episode ke-20: Praktisi Mengajar, di mana Kemendikbudristek berkomitmen untuk memberikan solusi dalam mendukung transformasi perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi Vokasi. Melalui Praktisi Mengajar, institusi pendidikan akan melibatkan praktisi dalam perencanaan maupun proses pembelajaran, sehingga dapat lebih optimal. 

Selanjutnya, para guru, dosen, ataupun tenaga pendidik juga akan memperoleh pengetahuan terbaru tentang dunia industri. Para pelajar pun dapat bertatap muka langsung dengan para praktisi yang bergabung.

"Melalui program Merdeka Belajar, kami juga berharap, para lulusan pendidikan Vokasi juga dapat menjadi bagian dari industri untuk menjamin bisnis tetap berjalan dan berkembang. Oleh karena itu, kami terus meningkatkan relevansi pendidikan Vokasi dengan kualitas yang dibutuhkan bagi dunia industri. Harapannya, hal ini dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas para lulusan pendidikan Vokasi yang kompetitif dan menjadi profesional di bidang pekerjaan yang diminati," tutup Kiki. 

Sebagai informasi, pemerhati sekaligus juga konsultan pendidikan di Indonesia,  Ina Liem, melakukan survei terkait peminatan masyarakat terhadap pendidikan Vokasi. Survei tersebut menyebutkan bahwa sebanyak 58% orang tua setuju dan mendukung pendidikan anaknya dilanjutkan ke pendidikan Vokasi.
Dalam temuan survei tersebut, Ina Liem menjelaskan bahwa dua alasan terbesar terhadap dukungan baik orang tua terhadap pendidikan Vokasi.
 
"Pertama, lulusan pendidikan Vokasi cenderung mendapatkan pekerjaan yang lebih cepat. Selanjutnya, alasan terbesarnya yaitu metode pembelajaran yang lebih praktikal dan langsung di lapangan, atau kerap dikenal sebagai project based learning (PBL)," ujar Ina.
 

***

tags: #kemendikbudristek #vokasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI