Diperlukan Tenaga Ekstra dalam Mencatat Dinamika Musik di Semarang

Penerbitan zine tersebut dianggap menjadi penerus atas tradisi penerbitan zine di lingkup Universitas PGRI Semarang.

Kamis, 13 Juni 2024 | 08:13 WIB - Didaktika
Penulis: Holy . Editor: Surya

KUASAKATACOM, Semarang -- Upaya mencatat dinamika musik di Semarang sering terkendala dokumentasi arsip. Data-data yang digunakan untuk sumber penulisan seringkali sulit diakses bahkan tidak ada. Minimnya kesadaran dari pelaku dan penikmat musik terhadap arsip seperti dokumentasi media, rilisan album, arsip poster, menjadikan pencatatan topik seputar musik di Semarang berlangsung lamban.

“Kesulitan terbesar menulis musik ada pada sumber arsip. Bahkan seringkali musisinya pun lupa tidak menyimpan data-data dari rilisan musik mereka,” ungkap pemusik, Gregorius Manurung saat pesta perilisan “zine” music “Check Your People” di forum Warung Diskusi dan Jamming yang diselenggarakan oleh LPM Vokal dan UKM Musik Imortal, beberapa waktu lalu.

BERITA TERKAIT:
Jambret Tas Wanita di Kedungmundu Semarang, Pelaku: Spontan karena Kesempatan
Atlet Kota Semarang Diharapkan Mampu Pertahankan Gelar Juara Umum Porprov Jateng
Periksa Saksi dan CCTV, Polisi Buru Terduga Pembuang Bayi di Sendang Asri Semarang
Ritus dan Cerita Lisan 'Dumadine Sukorejo' di Festival 'Labuhan Kali: Wiwitan', Kampung Jawi Semarang
Nekat Dagang di Tepi Jalan, 90 Pedagang di Genuk Semarang Ditertibkan Satpol PP

Mengantisipasi hal itu, proses wawancara dengan musisi menjadi solusi. “Akhirnya cara terbaik untuk menulis musik (di Semarang) adalah dengan ketemu sama musisinya langsung. Kita nongkrong, ngobrol dan mencatat,” tegas alumnus Undip tersebut.

Dalam kaitannya dengan situasi skena (ekosistem komunitas) musik di Semarang, menulis tentang musik membutuhkan tenaga ekstra.

Gregorius juga menekankan, dalam konteks inilah upaya mencatat musik lewat penerbitan “zine” menjadi penting.

“Saya senang dengan terbitnya “Check Your People, meski tentu saja masih diperlukan perbaikan agar topik zine ini bisa lebih fokus," jelasnya.

Menurut Gregorius, zine tersebut seharusnya mampu menampilkan “roots” (akar) dari para penulisnya.

Diketahui, zine tersebut diinisiasi oleh Fajar Yasin Augusta. Penamaan zine tersebut bertolak dari judul lagu Margue Vanguard (MV) berjudul sama. Menurut Yasin, lagu-lagu karya MV banyak memberinya pandangan terkait relasi musik dan keadaan sosial masyarakat.

“Di zine ini saya ingin menunjukkan bahwa musik punya hubungan yang erat dengan situasi dan realitas masyarakat," terang dia.

Pada kesempatan yang sama, penerbitan zine tersebut dianggap menjadi penerus atas tradisi penerbitan zine di lingkup Universitas PGRI Semarang. Penggiat buku Widyanuari Eko Putra menyebut, pada tahun 2010 pernah terbit zine Lembah Kelelawar yang berisi topik seputar sastra. Sempat bertahan selama empat tahun, zine tersebut pada akhirnya berhenti terbit setelah seluruh pengelolanya lulus kuliah.

“Penerbitan zine “Check Your People” tidak bisa dilepaskan dari akar tradisi yang mendahuluinya,” ungkapnya.

Zine juga dipandang sebagai sub-kultur yang masih mendapat perhatian di antara serbuan digitalisasi di segala bidang. Dalam acara tersebut juga digelar pentas musik yang menampilkan band-band dari UKM Musik Imortal, di antaranya Unknown, Glazeeishard, Underpressure, dan Chutagps.

***

tags: #kota semarang #upgris #mencatat dinamika musik

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI