Demokrasi Internal dan Oligarki Partai
Demokrasi internal di dalam parpol saat ini hampir mustahil karena yang bermain adalah oligarki.
Senin, 30 September 2024 | 07:55 WIB - Didaktika
Penulis:
. Editor: Wis
KUASAKATACOM, Jakarta- demokrasi internal tidak pernah disentuh, seolah-olah itu adalah taken for granted yang terjadi di hulu partai. Akibatnya partai politik saat ini lebih mirip perseroan terbatas atau milik keluarga.
Jadi jika demokrasi internal dalam partai tidak ada, bagaimana mau masuk ke ranah publik secara luas? Hal itu disampaikan oleh Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini dalam diskusi "demokrasi Internal dan Oligarki Partai". Diskusi diadakan oleh Universitas Paramadina bekerja sama dengan LP3ES secara daring pada Jumat (27/9/2024).
BERITA TERKAIT:
Demokrasi Panggung Utama Aspirasi Masyarakat, Sumanto: DPRD Jateng Harus Berikan Kanal
Menag Nasaruddin Umar Sebut Kebebasan Beragama Pilar Utama Demokrasi
Sumber Pendanaan Pilkada: Mengelola Anggaran untuk Demokrasi
Demokrasi Internal dan Oligarki Partai
Mantan Ketua KPU Brebes, Riza Pahlevi Kembali Terbitkan Buku Demokrasi
Demokratis jika dipaksa oleh aturan main atau tekanan-tekanan publik, atau ada sensor atau skrining atau saringan untuk membersihkan kotoran-kotoran kepentingan.
"Saringannya itu adalah check and balances, kontrol publik, transparansi dan seterusnya. Jadi demokrasi internal di dalam partai itu tidak terjadi karena sebab dari para elite partai, bahwa seolah-olah ada titisan-titisan seperti Megawati adalah titisan Soekarno," tegas Didik, dalam keterangan resmi Universitas Paramadina, Senin (30/9).
Dosen Universitas Paramadina, Dr Herdi Sahrasad melihat bahwa sebenarnya pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan tidak adanya demokrasi internal di parpol sudah sejak awal reformasi disuarakan. Tapi suara-suara tidak cukup kuat untuk mengubah budaya yang telah terlanjur terbentuk di dalam partai.
"Semakin ke sini, jadi nampak bahwa tidak ada lagi etika dan nilai-nilai yang dihormati dan menjadi landasan dalam pelaksanaan perpolitikan di Indonesia oleh elit-elit partai politik," kata Herdi.
demokrasi internal di dalam parpol saat ini hampir mustahil karena yang bermain adalah oligarki. "Seperti kata Olle Tornquist bahwa parpol memang dipimpin oleh ketua partai tapi ketua parpol itu tunduk kepada oligarki modal atau para bohir yang bisa memaksakan kepentingannya kepada para elite partai dan jajarannya," tuturnya.
"Saat ini demokrasi Indonesia menjadi demokrasi transaksional bahkan demokrasi kriminal karena hanya memainkan uang dan uang saja. Akibatnya, pergerakan ekonomi nasional menjadi tidak terkontrol dan parlemen pun menjadi disfungsional peran kontrolnya. Yang terjadi kemudian terjadilah korupsi yang luar biasa, KKN dan utang yang sangat tinggi hampir 10.000 triliun," imbuhnya.
"Saat ini butuh revolusi kultural untuk memperbaiki semuanya. Reformasi sudah tidak mampu lagi, dimana reformasi ekonomi struktural kemarin telah menghasilkan kebijakan ekonomi politik yang tidak berpihak pada rakyat banyak. Akibatnya muncul oligarkisme dan demokrasi bukan lagi substansial tapi demokrasi transaksional dan abal-abal," katanya.
Associate Researcher LP3ES, Aisah Putri Budiarti melihat demokrasi menjadi pilar demokrasi di mana menjadi hal yang inheren sebagai nilai dan proses yang sudah di atur dalam UU partai politik di mana tidak berdiri sendiri. Dalam UU No.2 Tahun 2011 semua selalu menekankan pentingnya proses dan peran partai, rekrutmen dan kaderisasi partai politik serta diatur secara terbuka bersifat normatif dan lebih rijitnya melalui AD/ART.
"Problem demokrasi internal partai, bukanlah semakin matang tetapi menjadi semakin berpolemik melihat apa yang terjadi di partai politik saat ini. Ada upaya penguatan partai politik internal yang dilakukan oleh berbagai partai, contohnya partai golkar tetapi tetap ada kritik yang datang dari masyarakat," tutur Aisah.
"partai politik adalah institusi publik yang sejak era reformasi itu paling tidak demokratis, paling tidak reformis, dan paling tidak berubah. Berbagai institusi lain ada banyak yang berubah, tetapi partai politik tidak ada perubahan. partai politik memiliki publik trust yang paling rendah. Tidak ada perubahan partai politik, di mana tidak terjadi regenerasi," tutur Direktur Pusat Media dan demokrasi LP3ES, Wijayanto.
Ia menilai bahwa seringkali juga penerusnya adalah keturunan pemimpin partai sebelumnya atau pemilik modal terbesar. Cerita lainnya adalah peran bohir ini adalah politik dinasti di sana. Hari ini kita melihat tak hanya beberapa anggota partai yang terpilih, tiba-tiba dianulir oleh partai-partai tertentu atau kepala daerah yang hasil surveinya bagus tetapi juga dianulir oleh elite. Kemudian bagaimana cara untuk kemudian menguraikan problem ini?
"Saya sepakat dengan Aisah dengan menciptakan undang-undang yang reformis. Sayangnya yang membuat undang-undang ini adalah partai politik, ibaratnya telur dan ayam siapa yang turun duluan," tegas Wijayanto.
***tags: #demokrasi #partai politik #keluarga #universitas paramadina
Email: [email protected]
KOMENTAR
BACA JUGA
TERKINI
DWP Kemenkum Jateng Ikuti Rangkaian Peringatan HUT ke-26 Dharma Wanita Persatuan
10 Desember 2025
KAI Tawarkan Celebration Deals 12.12, Tarif Kereta Eksekutif Hanya 80 Persen
10 Desember 2025
Kemenkum Jateng Tegaskan Pentingnya Budaya Sadar Hukum
10 Desember 2025
Lulu, Mahasiswi USM Raih Best Libero di Kejurnas Voli Probolinggo
10 Desember 2025
Rayakan Tahun Baru 2026 di Quest Hotel dengan Tema ala Mafia
10 Desember 2025
Quest Hotel Hadirkan Hampers Istimewa untuk Moment Natal 2025
10 Desember 2025
Bank Jateng Perkuat Sinergi dan Koordinasi TU Serta Protokol Lintas Instansi
10 Desember 2025
Pengumuman! PDAM Semarang Berlakukan Giliran Pengaliran Air di Wilayah Bukit Kencana Jaya
10 Desember 2025
BAZNAS Tangsel Salurkan Bantuan Kemanusiaan Palestina Tahap Ketujuh Rp325 Juta
10 Desember 2025
Polda Jateng Gelar Pelatihan Manajemen Penanggulangan Bencana di Seluruh Jajaran
10 Desember 2025

