8 Juta Orang Terinfeksi TBC di 2023, WHO Sebut Angka Tertingga
WHO mengatakan Tuberkolosis masih banyak menyerang masyarakat di Asia tenggara, Afrika dan pasifik barat; India, Indonesia, China, Filiphina dan Pakistan
Kamis, 31 Oktober 2024 | 20:42 WIB - Kesehatan
Penulis:
. Editor: Kuaka
KUASAKATACOM, London - Lebih dari 8 juta orang didiagnosa tuberkolosis tahun kemarin,World Health Organization (WHO) mengatakannya pada minggu ini, angka tertinggi yang tercatat sejak badan kesehatan dunia mulai mencatat.
Lebih dari 1,2 juta jiwa meninggal karenanya pada tahun lalu, laporan terakhir menambahkan, Tuberkolosis kemungkinan akan kembali menjadi penyakit menular pembunuh terbanyak setelah pandemi covid 19. Angka kematian menunjukan dua kali lebih tinggi dari kematian karena HIV di tahun 2023.
BERITA TERKAIT:
Pemkab Sragen Peringati HKN ke-61 dengan Teguhkan Semangat Bebas TBC
Gandeng Dinas Kesehatan, Lapas Brebes lakukan Deteksi Dini Penyakit TBC Warga Binaan
Genjot Skrining Tuberkulosis, Gubernur Luthfi Luncurkan Program Speling Melesat dan TB Express
Wujudkan Zero TBC pada 2030, Pemprov Jateng Tekankan Upaya Kolaboratif
Agustina Targetkan Kota Semarang Bebas TBC 2028
WHO mengatakan Tuberkolosis masih banyak menyerang masyarakat di Asia tenggara, Afrika dan pasifik barat; India, Indonesia, China, Filiphina dan Pakistan menyumbah lebih dari separuh kasus di dunia.
"fakta bahwa TBC telah membunuh dan membuat banyak orang sakit adalah hal yang memalukan, ketika kita mempunyai alat untuk mencegah, mendeteksi, dan mengobatinya". Direktur jendral WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Namun kematian terhadap Turberkolosis secara global terus menurun, dan jumlah orang yang mulai terinfeksi mulai stabil. Tercatat bahwa dari 400.000 orang yang diperkirakan menderita Tuberkolosis yang resisten terhadap obat pada tahun lalu, kurang dari setengahnya yang didiagnosis dan diobati.
Tuberkolosis disebabkan oleh bakteri di udara yang sebagian besar menyerang paru - paru. Sekitar seperempat populasi global diperkirakan mengidap Tuberkolosis, namun hanya sebanyak 5 hingga 10 persen yang memperlihatkan gejalanya.
Beberapa kelompok seperti advokasi, telah lama menyerukan agar perusahaan AS Cepheid yang memproduksi tes Turberkolosis yang digunakan di negara - negara miskin menyediakan tes tersebut dengan biaya kurang lebih Rp70.000 per tes juga untuk menyediakan persedian.
Awal bulan ini 150 mitra kesehatan global mengirimkan surat terbuka kepada Cepheid yang meminta mereka untuk "memperioritaskan kehidupan masyarakat" dan untuk segera membantu memperluas tes Tuberkolosis secara global.
*** Ditulis oleh wartawan magang Malik Ngaziz
***Email: [email protected]
KOMENTAR
BACA JUGA
TERKINI
'Reuni' Dengan Komisi X DPR RI, Agustina Beberkan Penguatan Program Pendidikan di Kota Semarang
11 Desember 2025
Jatuh dari Jalur Aik Berik, Seorang Pendaki Meninggal di Gunung Rinjani
11 Desember 2025
Kanwil Kemenag Sumbar Salurkan Bantuan Korban Banjir dan Longsor di Agam
11 Desember 2025
Terdampak Banjir, 225 Siswa Sekolah Rakyat di Aceh Dipulangkan Sementara
11 Desember 2025
Kemenag Matangkan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Ditjen Pesantren
11 Desember 2025
Sebanyak Lima Orang Ditangkap terkait OTT Bupati Lampung Tengah
11 Desember 2025
Mayoritas Kota di Indonesia Diprakirakan Hujan yang Dapat Disertai Petir Hari Ini
11 Desember 2025
Reformasi Regulasi Dam Disebut Bisa Kuatkan Ekonomi Peternak Lokal
11 Desember 2025
Juventus vs Siprus Pafos: Bianconeri Menang 2-0
11 Desember 2025
PSIM Yogyakarta Siap Gelar Laga Malam di Stadion Sultan Agung
11 Desember 2025
Mensos Sebut Izin Donasi Bencana Bisa Diurus Belakangan
11 Desember 2025

