ilustrasi

ilustrasi

''Perasaan Bersalah Apa yang akan Saya Bawa Seumur Hidup...''

Bohong kalau tidak ada rasa takut dan khawatir di hati saya. Apalagi, saat ini istri saya lagi hamil 8 bulan

Sabtu, 28 Maret 2020 | 15:47 WIB - Insani
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

BANYAK tenaga medis, dokter dan perawat, yang dengan ikhlas bekerja untuk segera mengenyahkan virus corona ini. Banyak yang kita baca kisahnya, bagaimana mereka tidak bisa pulang, harus bekerja, makan, dan beribadah di rumah sakit, dengan ritme kerja yang tak jelas, dengan beban lelah yang memancing belas. Tapi mereka tetap fight, saling menyemangati.

Banyak juga dari tenaga medis ini mengirim pesan kepada keluarganya, ''Aku haus bunda, tapi tidak berani minum.'' Atau, ''Aku kangen kalian...'' sebuah pesan yang sangat mengharukan dan membuat kita menghela napas panjang, merasakan betapa berat rutinitas yang mereka tanggungkan. Di tengah itu, kita juga mendengar para dokter dan perawat ini akhirnya, dalam kelelahan, tertular virus, dan akhirnya... berpulang.

Mereka pahlawan.

Mereka pejuang di garda terdepan, hanya dengan satu harapan, menyelamatkan pasien di depan mereka, meski kadang, karena itu, mereka yang kemudian, ikut menjadi korban. Wajar jika kemudian mereka mengharap kerja sama dari kita, untuk tetap di rumah saja, agar mereka terus dapat bekerja, dengan beban yang tak harus bertambah.

Salah satu dokter yang mengirim pesan itu adalah ahli paru dari Bandarlampung, dr Ai Gozali MD. Dia merupakan salah satu tim dokter yang menangani dan merawat langsung pasien-pasien positif dan terinfeksi covid-19 di Bandarlampung. Dokter Gozali jujur mengakui, dia cemas dengan pekerjaan ini, setiap hari harus bersama dengan pasien terinfeksi corona.

''Bohong kalau tidak ada rasa takut dan khawatir di hati saya. Apalagi, saat ini istri saya lagi hamil 8 bulan,  dan kami sedang menantikan  putra pertama kami  lahir di tengah-tengah pandemi ini.''

Tak hanya bangun dengan rasa cemas setiap hari, dia juga takut jika dirinya menjadi pembawa virus itu ke rumah. Dan bayangan buruk itu selalu menyuramkan hari-harinya.

''Bagaimana  jika sesuatu terjadi dengan saya, siapa nanti yang merawat istri dan anak saya nanti?'' tanyanya dengan suara datar. ''Bagaimana jika saya membawa virus ini ke rumah? Perasaan bersalah apa yang akan saya bawa seumur hidup saya?'' katanya, dengan suara yang kian lirih.

Kita paham perasaan ini. Tapi kita pasti tidak bisa merasakan persis kecemasan itu sebagaimana dokter Gozali mengalami. Hidup dalam kecemasan mendatangkan tingkat stres yang luar biasa. Dan tubuh yang stres, akan membuat imunitas menjadi lemah. Gozali memahami betul hal itu. Karena itu, dia berharap, kepada kita untuk, ''Doakan kami, tim medis.'' Sebuah permintaan yang sederhana. Sesederhana harapannya kemudian agar kita, ''Memutus rantai penyebaran dengan tetap di rumah saja. Jaga jarak dan hindari keramaian.''

Yuk, kita bantu dokter Gozali, kita doakan agar dia dan keluarganya, juga anak pertamanya yang akan lahir, semua mendapatkan kemudahan, kesehatan, dan mereka segera dapat bersama lagi tanpa rasa cemas.

 

source: narasi

 


tags: #pandemi corona #corona virus #corona di indonesia #ikatan dokter indonesia

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI