Mbah Ngatemi, penjual buah keliling di Tembalang Banyumanik Semarang, Foto: KUASAKATACOM

Mbah Ngatemi, penjual buah keliling di Tembalang Banyumanik Semarang, Foto: KUASAKATACOM

Ngatemi, Lansia di Tembalang Semarang Tetap Semangat Jual Pisang Keliling

Saat berjualan, Mbah Ngatemi bisa jalan dari Tembalang hingga Peterongan.

Jumat, 06 November 2020 | 10:02 WIB - Insani
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Selepas magrib, Ngatemi lansia berusia 70 tahun di Tembalang Banyumanik Semarang mulai keluar menjajakan dagangannya. Ia berjualan buah apa saja, mulai dari mangga, melon, pepaya, nanas, hingga pisang. Beberapa waktu lalu, ia menjual pisang susu.

Satu sisir pisang susu ia jual Rp16 ribu. Kalau ada yang membeli bijian, Rp5 ribu dapat lima. Ia menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki.  Di usia senja, punggungnya masih kokoh menggendong keranjang berisi pisang. Nenek dengan empat cucu ini menggendong keranjang dengan selendang.

“Pisang (susu ini) matang dari pohon, sehingga manis. Beda dengan kalau dikarbit,” ujarnya kepada Tim KUASAKATACOM beberapa waktu lalu.

Mbah Ngatemi mengaku tidak menanam sendiri. Buah-buahan yang ia jual adalah setoran.  Buah-buahan itu ia dapat dari para tetangga. “Ngupasi sore. Siang di jalan. Kalau laku. Kalau enggak habis ya mogok di sini (Rumah Makan Penyet Kuah),” imbuh ibu dengan empat anak ini. "Kemarin di Peterongan saja jalan. Iya, sini kan sudah ramai," sambungnya.

Namun demikian, dagangannya tak selalu habis. Menurutnya, Tembalang sudah ramai penjual. Jika demikian, selepas magrib ia mangkal di depan Rumah Makan Penyet Kuah di Jalan Timoho Timur I No 32 Bulusan Tembalang Kota Semarang.

Untung yang ia dapat tak banyak. Namun demikian, nenek yang tinggal bersama anak bontotnya ini bersyukur. Paling tidak, ia bisa membeli beras dua kilo. Bisa membantu perekonomian keluarga. Apalagi anak bontotnya hanya penjual kue. 

 

“Anak bontot saya bikin kue kalau ada pesanan,” katanya. Pandemi seperti ini, lanjut dia, jumlah pesanan tentu turun.

Beberapa hari kemudian, Tim KUASAKATACOM kembali bertemu Mbah Ngatemi. Ia menjual melon, pepaya, dan nanas yang telah dipotong-potong. Satu potong ia hargai Rp2,5 ribu. Ia kembali bercerita jika dirinya sengaja membawa dagangan sedikit. Katanya sayang jika tak habis. “Ya tapi kalau enggak habis ya mbah makan sama cucu,” tukasnya.

Uniknya, selain untuk membeli beras, Mbah Ngatemi mengaku hasil jualannya juga ia pakai untuk menengok jika ada tetangga yang sakit. “Sekarang kan enggak bileh nengok ke rumah sakit, ya. Biasanya saya datang ke rumah tetangga itu,” tukasnya.

Di tengah serba kekurangan, di usia senja, ia masih memikirkan orang lain. Ia pun mengaku tak mau merepotkan anaknya. Selama masih sehat, ia akan tetap berjualan. 

BERITA TERKAIT:
Ngatemi, Lansia di Tembalang Semarang Tetap Semangat Jual Pisang Keliling

“Anak saya yang satu sudah meninggal. Yang dua tinggal di luar kota. Mbah tinggal sama anak bontot,” pungkas nenek yang telah lama ditinggal mati suaminya itu.


tags: #menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki #tembalang banyumanik semarang #ngatemi lansia berusia 70 tahun

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI