Ati Manisemberjuang keras untuk mencari nafkah dan mengurus anaknya Dwi Ariyanto Hidayat yang mengidap hidrosefalus, Foto: Istimewa

Ati Manisemberjuang keras untuk mencari nafkah dan mengurus anaknya Dwi Ariyanto Hidayat yang mengidap hidrosefalus, Foto: Istimewa

Bocah Sembilan Tahun di Banjarnegara Idap Hidrosefalus Sejak Usia Dua Bulan

Ati yang membesarkan kedua buah hatinya seorang diri tak putus asa mencari pengobatan untuk Dwi.

Rabu, 31 Maret 2021 | 08:57 WIB - Insani
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

KUASAKATACOM, Banjarnegara - Seorang bocah sembilan tahun di Banjarnegara Jawa Tengah bernama Dwi Arianto mengidap hidrosefalus sejak masih bayi berusia dua bulan. Dwi tinggal bersama ibu, kakak, dan omnya. Di rumah sederhana tak berplester itu, Dwi hanya bisa terbaring tak berdaya, sesekali sang ibu Ati Mansiem memijat tubuh anak keduanya itu.

"Setiap harinya hanya berbaring di kamar. Tetapi kalau pagi saya bawa keluar untuk dijemur," ungkap ibunda Dwi Arianto, Ati Manisem, Selasa (30/3).

Ia menyebut Dwi lahir normal. Namun, saat memasuki usia dua bulan kepala Dwi mulai membesar. "Saat dua bulan kepalanya terlihat mulai membesar. Kemudian saya bawa ke rumah sakit, tapi ini kondisinya masih seperti ini," imbuhnya.

BERITA TERKAIT:
Bocah Sembilan Tahun di Banjarnegara Idap Hidrosefalus Sejak Usia Dua Bulan

Ati yang membesarkan kedua buah hatinya seorang diri itu tak putus asa mencari pengobatan untuk Dwi. Meski suaminya enam bulan pergi tanpa kabar, Ati tetap mengusahakan perawatan di rumah sakit untuk Dwi. "Kemarin 12 hari sempat dirawat di rumah sakit, tetapi kondisinya melemah. Berat badan juga turun dari 6,5 kilogram turun. Makanya saya bawa pulang," lanjutnya.

Kadang kala, kata dia, Dwi berkomunikasi dengan cara menangis saat lapar. Untuk makan Dwi, Ati biasa menyiapkan bubur, susu, dan buah yang sudah disaring. "Kalau makan sama bubur, bubur beras merah dan diselingi bubur yang lainnya. Selain itu susu kental manis dan buah yang sudah dilembutkan dan disaring," ujarnya.

 

Sehari-hari Ati mencari nafkah dengan membuka warung kopi. Biasanya, dari warung kopi bisa mendapatkan uang antara Rp25 ribu sampai Rp50 ribu setiap harinya. "Tetapi sudah empat bulan ini sudah tidak jualan lagi. Dulu saya jualan sama ibu saya, tetapi sekarang ibu saya sudah meninggal dunia," bebernya.

Ia pun berharap yang terbaik untuk kepulihan anak keduanya itu. Dia ingin Dwi bisa bermain seperti anak-anak seusianya yang lain. "Harapan saya sembuh, Dwi Arianto bisa sembuh seperti anak-anak lain," harapnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Islam Banjarnegara dr Agus Ujianto menyebut dari keterangan orang tuanya, Dwi sudah mendapatkan penanganan saat berusia dua bulan. Namun, saat berusia tujuh tahun semestinya Dwi kembali dioperasi namun kondisinya kala itu tidak memungkinkan.

"Anak ini menderita hidrosefalus. Sebenarnya pada usia 2 bulan sudah dioperasi dan harus dioperasi lagi saat usia 7 tahun. Tetapi saat ini kondisinya kekurangan nutrisi. Belum lagi BPJS atau Jamkesdanya belum siap," katanya, Rabu (31/3).

Lebih lanjut, ia mengaku bakal memantau pengobatan Dwi yang mengalami penyumbatan saluran ke otak. Dia bakal mengupayakan kebutuhan nutrisi Dwi tercukupi sehingga kondisinya membaik. "Kami akan kawal bersama Sarsipol dan RSI Banjarnegara. Harapan kita nanti ada solusi. Tetapi minimal nutrisi tercukupi. Karena sekarang kondisinya kekurangan nutrisi sehingga kondisi anak menjadi drop," pungkasnya.


tags: #bocah sembilan tahun #banjarnegara #mengidap hidrosefalus

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI