Suparmi saat menjajakan gulal.

Suparmi saat menjajakan gulal.

Suparmi Penjaja Gulali, Tak Ingin Menyerah di Saat Pandemi

Suparmi sejak muda merupakan seorang pekerja keras, apapun Ia jalani tanpa mengeluh.

Rabu, 04 Agustus 2021 | 09:45 WIB - Insani
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

BERATNYA menjalani hidup di saat pandemi Covid-19 hampir semua orang mengalami, meskipun mungkin kadar tingkatannya berbeda beda. Namun pandemi membuat Suparmi (60) memutuskan beralih jualan karena mulai berkurang peminat dagangannya.

Suparmi kini menjalani hidupnya dengan berdagang gulali di Jalan Syuhada Raya No 60 Kota Semarang Jawa Tengah atau tepatnya di depan Warung Aneka Pepes Bu Gik. Lapak dagangan hanya ala kadarnya tanpa meja. Suparmi mengaku banyak orang menawarinya untuk berjualan di tempat yang ramai pedagang. Namun setelah ia coba ternyata dagangannya tidak kelihatan jadinya malah pembelinya kurang.

Sehingga sekarang Suparmi mantab berjualan di situ, tanpa meja ataupun payung buat berteduh. Hanya pohon yang menjadi tempat berteduh dagangan ibu dua putra tersebut. Tangannya yang nampak “kekar” menjadi saksi betapa pekerja keras ia selama ini. 

BERITA TERKAIT:
HUT Ke-40, PT Kekancan Mukti Bersihkan Pantai Tirang
PT KAI DAOP 4 Turunkan Harga Antigen Menjadi Rp 45.000
PPKM Turun Level, Hotel di Semarang Mulai Menggeliat
Tujuh Orang di Semarang Terpapar Covid 19 Saat PTM
Pengundian Pasar Johar Digelar, Ada Aturan Ketat untuk Pedagang
Wisata Malam di Kota Semarang
Pemkot Semarang Gandeng Slank Sosialisasikan Pariwisata

Sebelum berdagang gulali, Suparmi mengaku sempat berjualan serabi berkeliling daerah Nggasem dan Alastuo. Tapi, kata Suparmi, saat memasuki pandemi dagangannya mulai sepi karena banyak rumah yang pintunya tertutup. "Awalnya dagang serabi, tapi sepi pintu pintu rumah pada tutup dan anak anak yang bisa beli tidak ada yang di luar rumah," ucap Suparmi.

Padahal berdagang serabi itu telah dijalani Suparmi selama 10 tahun, namun karena semakin sepi pembeli itu ia mencoba berdagang lainnya yakni jualan gulali.

Ia memulai jualan gulali sejak tiga bulan lalu, tiap hari membawa 2 kg adonan untuk dijajakan di pinggir jalan Syuhada tersebut. Terkadang dalam sehari dagangannya bisa habis namun terkadang juga masih ada sisa, untungnya gulali itu tahan lama jadi masih bisa dijual untuk keesokkan harinya. Jadwal Suparmi berjualan dari pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, namun saat dagangannya sepi terkadang hinggal pukul 12.00 WIB dirinya baru pulang ke rumah.

Dagangannya Suparmi beberapa waktu lalu, banyak pembeli. Setelah fotonya saat berdagang diunggah oleh salah satu akun dan kemudian viral disebuah grup media sosial Semarang. "Minggu (1/7/2021) kemarin ramai, karena banyak pembeli saya sampai kecapekan. Tapi Alhamdulillah barang dagangannya saya habis hari itu," kata Suparmi, yang tidak mengetahui dagangannya viral di medsos.

 

Sebagai seorang pedagang, tentu ada kalanya sepi maupun ramai. Namun itu semua disyukuri Suparmi tanpa mengeluh, ia mengatakan bila dagangannya sampai habis, berarti uang yang dibawa pulang bisa mencapai Rp200 ribu. "Kalau habis dagangannya kira-kira bisa bawa Rp200 ribu, untuk modal bikin gulali Rp75 ribu tiap kali bikin adonan. Alhamdulillah," ucapnya sambil tersenyum.

Suparmi mengaku, beberapa kali ia mendapatkan pembeli yang tidak mau menerima uang kembalian. "Beberapa kali ada yang beli cuman Rp10 ribu, kasihnya uang Rp50 ribu, saat saya kembalikan uangnya tidak mau. Mereka bilang buat ibu, tapi saya berdagang jadi tetap saya coba kembalikan namun ditolak. Alhamdulillah dan terima kasih, saya ucapkan," kata Suparmi bercerita pengalamannya saat berdagang gulali.

Suparmi sejak muda merupakan seorang pekerja keras, apapun ia jalani tanpa mengeluh. Berbagai profesi pernah Ia lakukan, pernah jadi pekerja pabrik meski sebentar kemudian Suparmi bekerja sebagai kuli di proyek bangunan. "Kalau jadi karyawan pabrik, saya tidak betah. Setelah itu memilih jadi kuli bangunan. Prinsipnya untuk cari uang kenapa harus malu," ujar nenek tiga cucu tersebut.

Sehari hari ia tinggal di Jalan Jaten 3, 10 tahun ini hidup bersama anak dan cucunya. "Suami saya sudah meninggal 10 tahun lalu, sekarang tinggal bareng anak sama cucu, meski begitu saya masih kuat dan tidak mau menyusahkan anak. Sehingga saya memilih berjualan," katanya.

Jarak Jaten dan Syuhada menurut Suparmi tidak jauh, dengan naik sepeda onthel hanya butuh waktu 15 menit. Barang dagangannya ditaruh di kontainer kecil kemudian diletakkan diboncengan yang telah dimodifikasi menggunakan kotak telur, agar dagangannya tidak jatuh. "Tiap hari saya berangkat naik sepeda, karena hanya punyanya ini. Tapi tidak jauh kira kira hanya 15 menit kalau dari rumah saya," jelasnya.


 


 


tags: #kota semarang #pandemi #pedagang

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI