Tak Kenal Lelah, Ngatipah Terus Berdagang Meski Usia Telah Renta

Tak Kenal Lelah, Ngatipah Terus Berdagang Meski Usia Telah Renta

Tak Kenal Lelah, Ngatipah Terus Berdagang Meski Usia Telah Renta

Ibu dari 3 anak itu mengaku hanya untung Rp2.500 setiap satu keset yang dijualnya.

Selasa, 24 Mei 2022 | 12:27 WIB - Insani
Penulis: Siti Muyassaroh . Editor: Wis

MESKI usianya semakin renta, Ngatipah tak ingin merepotkan anak-anaknya. Perempuan 75 tahun itu memilih berjualan keset untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Puluhan keset yang dijualnya ia ambil dari pemasok di daerah Karangjati, Ungaran, Kabupaten Semarang. Dengan menaiki angkot, Ngatipah membawa puluhan keset tersebut seorang diri.

BERITA TERKAIT:
Tim PkM FPSI USM - HIMPAUDI Beri Pelatihan Curiosity Base Learning Program
Tak Dilibatkan Pemilihan Rektor, Mahasiswa UNNES Gelar Aksi Unujuk Rasa
PT. Bintang Toejoe Ingin Pecahkan Rekor Gowes Jakarta-Bali Hanya 4 Hari
Hari Pertama PPDB, SD negeri Pekunden Terisi 75% Pendaftar
Pra Pendaftaran Ditutup, 13 Ribu Anak di Kota Semarang Daftarkan Diri Masuk SD Negeri

Sudah dua tahun lamanya Ngatipah berjualan keset di bawah jembatan tol Tembalang-Ungaran, tepatnya di Jl. Tirto Agung, Tembalang, Kota Semarang. Tempat tersebut ia pilih lantaran jembatan tol itu akan menyelamatkannya dari sengatan panas matahari dan guyuran air hujan.

Beralaskan karung dan karpet yang digelar ala kadarnya, Ngatipah mengaku tinggal di sana hingga barang dagangannya terjual habis. Hal itu ia lakukan tak lain untuk menghemat ongkos pulang-pergi dari rumah anak-anaknya di daerah Karangjati. Terlebih, untung yang terbilang tak seberapa pun membuatnya mau tak mau harus betah tinggal di pinggir jalan yang bising dan mengancam keselamatannya setiap saat.

"Kalo pulang kan kehabisan ongkos, untungnya kan cuma sedikit," ujar Ngatipah.

Ibu dari 3 anak itu mengaku hanya untung Rp2.500 setiap satu keset yang dijualnya. Ia mengungkapkan keset-keset tersebut ia bawa terlebih dahulu dari pemasok. Setelah terjual habis, Ngatipah baru menyetorkan uangnya ke pemasok tersebut.

Ngatipah mengaku dalam sehari hanya menjual paling banyak 10 keset. Terkadang, bahkan ada pula hari di mana ia tidak menjual keset satu pun. Karena itu, ia membutuhkan waktu kurang lebih seminggu untuk menghabiskan seluruh dagangannya. 

 

Usai dagangannya habis, Ngatipah baru akan pulang ke rumah anak-anaknya di daerah Karangjati.

Sehari-hari, Ngatipah makan dari hasil penjualan keset. Namun, tak jarang ada orang  yang memberinya makanan sehingga ia tak perlu mengeluarkan uang untuk makan.

Keputusan Ngatipah untuk berdagang di usia senja adalah karena ia tak ingin merepotkan anak-anaknya. Menurut Ngatipah, kebutuhan akan-anaknya lebih banyak dibanding dirinya. Terlebih, saat ini sedang masa pendaftaran sekolah di mana anak-anaknya akan membutuhkan banyak uang untuk mendaftarkan cucu-cucu Ngatipah ke sekolah.

"Kan saya masih bisa berjalan, kebutuhan anak sama saya itu kan lebih banyak kebutuhan anak. Kan ini mau daftaran sekolah, SMK, SMP, kan saya tidak bisa bantu anak-anak. Dari pada saya ngerepoti anak, kan cari sendiri," katanya.

Ngatipah mengatakan, selama masih sehat dan bisa berjalan, ia akan memilih bekerja dari pada harus merepotkan anak. 

"Kalo sekarang saya belum bisa kalo ngerepoti anak, masih mau berusaha sendiri. Dapat atau tidak dapat kan tergantung rejeki saya. Urusan rezeki sudah menjadi urusan Tuhan," sambung Ngatipah.

Sebelum berjualan keset, Ngatipah juga pernah berjualan kasur keliling di daerah Jawa Timur. Namun, kini dirinya memilih berjualan keset lantaran sudah tak mampu lagi jika harus berkeliling menyusuri jalanan naik turun sembari membawa beban berat.

Ngatipah juga mengaku akan melakoni pekerjaan apapun asalkan halal. Perempuan pekerja keras ini bahkan menyatakan pernah bekerja di proyek ketika masih berusia muda.

"Ya kerja apa aja yang penting itu halal gitu," pungkasnya.
 


tags: #kota semarang #pedagang #jembatan tol

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI