Bisakah Aku Lepas dari Jeratnya?

Seks bebas bukan lagi hal tabu bagi dia.  Berciuman di depan teman-teman bukanlah hal aneh yang terjadi dalam hidupnya. Dan ketika giliranku bercerita, dia tertawa mendengar penuturanku.

Senin, 15 Mei 2023 | 12:26 WIB - Curahati
Penulis: @elbaralazuardi . Editor: Kuaka

Sebelumnya aku tak pernah tahu jika kenyataan hidup jauh dari bayanganku. Semua ini bukan harapanku apalagi keinginanku. Aku menjalani kehidupan seperti layaknya orang-orang yang ada di sekelilingku, normal dan biasa saja. Dan aku pun tidak menyadari sejak kapan menggeluti kehidupan yang mungkin akan jadi aib kalau aku menceritakannya pada orang lain. Tapi, demi kebaikanku, demi perubahan yang kuinginkan, aku bersedia membaginya di forum "curhat" ini.

Aku mengenal seorang gadis bernama Dita, yang usianya jauh di bawahku. Sebelumnya hubungan kami tidak begitu istimewa. Tetapi karena seringnya kami ketemu maka terjalinlah keakraban di antara kami. Akhirnya kami menjadi seorang kakak dan adik.

BERITA TERKAIT:
Bisakah Aku Lepas dari Jeratnya?
Untuk Kamu yang Dikirimkan Hujan
Suami Masih Saja Meminta Darahku
Kau yang Mulai, Kau yang Harus Hentikan Dosa Ini...
Pedihnya, Wanita yang Kunikahi Ternyata Jodoh Orang Lain (2 - Habis)

Aku sangat menyayangi Dita lebih dari saudara kandungku sendiri, begitu juga dengan dia, selalu mendahulukan kepentinganku daripada keluarganya. Tapi aku tidak bisa membandingkan dengan apa pun ketika dia menanyakan seberapa besar rasa sayangku padanya. Mungkin kasih sayang yang dia berikan padaku melebihi rasa sayangku padanya.

Aku pikir aku memang egois, aku tidak bisa memenuhi semua yang dia inginkan. Aku terlalu banyak pertimbangan karena aku tidak mau hidupku terlalu dipengaruhi oleh dia.

Aku mengenal Dita sebagai gadis periang yang suka bergaul. Tetapi di balik itu ternyata dia seorang perokok, pemabuk dan terkadang ngepil. Tapi aku terlanjur menyayanginya, aku ingin menjadikan dia sebagai gadis baik-baik. Itu motivasiku yang pertama.

Semula aku tidak menyadari hubunganku dengan Dita akan berlanjut seperti saat ini. Aku selalu enjoy berada di dekatnya, bermain dan jalan-jalan bersama dengannya. Sampai akhirnya kami saling bertukar pengalaman tentang gaya pacaran kami.

Dia begitu blak-blakan menceritakan model pacaran anak muda zaman sekarang. Aku merasa merinding mendengarnya. Dia dengan lancar menceritakan apa yang pernah dia alami.

seks bebas bukan lagi hal tabu bagi dia.  Berciuman di depan teman-teman bukanlah hal aneh yang terjadi dalam hidupnya. Dan ketika giliranku bercerita, dia tertawa mendengar penuturanku.

Yah, aku memang bukan dia. Aku terlalu kampungan dibandingkan dengan model pacaran seperti yang dia ceritakan padaku.

Dia pun mengajariku cara berciuman yang bakal membuat cowok makin jatuh hati padaku.  Dan kami... melakukannya bagaikan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Sejak itu tiap kali bertemu, ciuman bibir jadi kegiatan yang wajib kami lakukan.

Namun semua tidak berhenti sampai di situ, ada hal yang seharusnya tidak kami lakukan sebagai sama-sama wanita. Di sela-sela ciuman yang kami lakukan tangannya menggerayangiku tubuhku dan akhirnya dengan seizinku tangannya masuk ke dalam bagian tubuhku yang harusnya tidak dia sentuh.

Setelah kejadian itu, kami sama-sama terdiam. Kulihat ekspresi wajahnya yang ketakutan melihatku. Entah apa yang dia pikirkan saat itu dan aku sendiri merasa tidak lagi mengenal diriku sendiri.

Dia bertanya padaku apakah aku menyesal dengan apa yang barusan kami lakukan? dan jawabanku adalah TIDAK.

Ya, aku tidak merasa menyesal dengan apa yang barusan kami lakukan tetapi aku takut melakukannya lagi. Dia tersenyum puas mendengar jawabanku dan katanya lagi, ini akan menjadi rahasia kami berdua. Orang lain tidak akan pernah ada yang tahu kejadian ini apa pun yang terjadi pada kami selanjutnya.

Kami bukan sepasang lesbi tetapi kami sanggup melakukan hal yang seharusnya tidak boleh kami lakukan. Aku tertegun menyadari semuanya.

 

Sujudku pada Tuhan tak bisa membendung air mataku lagi, aku menangis di sela doa yang aku panjatkan setelah salat. Aku khilaf, aku tak ingin melakukannya lagi tetapi aku takut...

Di bulan suci Ramadan tahun lalu, aku ingat betul, seharusnya kami bisa menahan nafsu yang ada dalam tubuh dan pikiran kami tetapi aku gagal melakukannya. Yah, kami melakukannya berulang kali di bulan penuh berkah tersebut. Aku tak lagi bisa menolak setan yang berkeliaran dalam diriku, aku menjadi liar bahkan aku tidak sanggup berdiam diri ketika bersama dia.

Akhir-akhir ini kami sering kali bertengkar, sebenarnya aku sudah sering mengalah tapi dia merasa bahwa dialah yang selalu mengalah karena keinginanku. Padahal kadang sehari dua kali aku selalu datang untuk menemuinya di rumahnya. Aku rela membuang rasa maluku terhadap keluarganya karena seringnya aku ke sana. Dia bahkan akan marah jika aku menceritakan rasa maluku padanya dan aku pun tidak sanggup menolak keinginannya.

Setiap kali bertengkar, dia selalu mengancam untuk bermabuk-mabukan dan tidak pulang ke rumah. Dia pernah melakukannya beberapa kali ketika aku tidak sanggup memenuhi keinginannya. Tangisku tak lagi bisa membuat dia sadar dengan apa yang dia lakukan dan hal ini makin menjadi. Hanya doa yang bisa aku panjatkan agar dia bisa mengerti keadaanku.

Pernah aku bertengkar hebat, dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami sebagai seorang kakak dan adik. Dia bilang sudah jenuh selalu marah-marah padaku, karena dia merasa aku selalu membuat perasaannya terluka.

Baca Juga: Di Puasa Pertama, Mereka pun Berjumpa-pisah

Lalu bagaimana dengan perasaanku sendiri? Aku terlalu tersiksa dengan semua tuntutan yang tidak bisa aku penuhi dan ini menjadikan aku stres berkepanjangan dan dia tidak akan pernah tahu akan hal ini...

Semula aku tidak menyetujui keinginannya tersebut tetapi dia terus membujukku dan ketika aku menyanggupi, kami berdua menangis bersama dalam kesedihan yang luar biasa. Hal itu terjadi dalam kamarnya.

Ketika tiba saatnya aku pulang, dia mengantarku mencari ojol. Untuk yang terakhir kalinya aku ingin menjabat tangannya, tapi dia menolak. Sedih rasanya aku saat itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Sejak detik itu aku tidak lagi punya hubungan apa-apa.

Seperempat jam berada di rumah, aku dikejutkan dengan telpon dari rumah Dita. Pembantu rumah Dita  bertanya apakah Dita menginap di rumahku. Aku sangat panik dibuatnya. Akhirnya aku mencoba menelpon ke HP-nya walaupun aku yakin tidak akan pernah berhasil.

Dan benar saja setiap kali nada sambung terdengar, saat itu juga terdengar nada sibuk. Jalan satu-satunya aku kirim Whats App ke dia untuk mengetahui keberadaannya. Dia mengaku berada di suatu tempat dan sedang menikmati minuman kesayangannya. Dadaku terasa sakit dibuatnya, aku tak sanggup lagi menahan beban yang ada padaku.

Keesokan harinya aku coba menghubungi dia yang ternyata sudah pulang. Siangnya aku menemui dia ke rumahnya dengan sambutan yang sangat menyakitkan. Tapi aku sudah tidak peduli. Aku menangis di depannya, meminta dia untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membahayakan dirinya.

Beberapa hari aku terkurung dalam kesedihan, dengan kerendahan hati aku memohon padanya untuk bisa tetap berada di dekatku agar aku bisa mengawasi dia dan membimbingnya.

Terakhir yang membuat aku sangat sedih dia berkata  tidak akan pernah mengijinkan aku menikah dengan siapa pun, hanya dia yang boleh memiliki aku. Beberapa kali dia mengajakku untuk pergi dari rumah tapi sampai saat ini aku masih bisa menolaknya.

Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Untuk meninggalkan dia rasanya aku tidak sanggup. Aku takut dia akan lebih parah jika tidak berada dalam pengawasanku. Apalagi dia mengancam akan bunuh diri. Tetapi aku juga tak sanggup untuk terus begini...

Oh Tuhan, sampai kapan cobaan-Mu ini akan berakhir?

[Sebagaimana curhat Renjana melalui e-mail, pengeditan dilakukan seperlunya, hanya untuk tujuan kelancaran pembacaan.]

***

tags: #curahati #curhat #menikah #seks

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI