Pijatan Dukun Itu Menutup Rahimku, Selamanya...

15 tahun lalu, sebelum menikah, kehidupan kami tidak sebaik ini. Aku menikah saat ibu sakit keras. Mas Dirman pun baru saja bekerja. Ia harus berada di luar kota, meninggalkanku yang tak bisa meninggalkan ibu.

Jumat, 19 Mei 2023 | 08:15 WIB - Curahati
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

DALAM keterdesakan, aku mengambil keputusan mendadak. Dan kelak, keputusan itu menjadi duri dalam kehidupanku selamanya. Membuatku menjadi wanita yang tak lengkap, mencampakkanku ke dalam lubang penyesalan yang tak berujung.

Dan kini, aku hanya bisa menatap hari-hariku dengan senyum pedih, bersama suami yang untungnya mau menerima keadaanku kini.

BERITA TERKAIT:
Sesosok Bayi Terbungkus Kain Ditemukan di Dekat Makam Keramat
BPS Catat Potensi Sampah Popok Bayi Capai 3.000 Ton per Hari
Pembuang Bayi Laki-laki di Cepu Blora Ditangkap, Pelaku Ibu Kandung 
Bayi Laki-laki Ditemukan di Rumah Warga Cepu Blora, Empat Orang Ingin Adopsi  
Serangan Monyet di Lebak Banten Meresahkan, Bayi Dua Bulan Diserang hingga Kritis

Kami mencintai tanpa keriangan, dalam kepedihan abadi.

Panggil saja aku Dian. Usiaku kini 38 tahun, menikah dengan Dirmantono, yang dua tahun lebih tua. Kami tinggal di Solo, sejak menikah, 14 tahun lalu.

Mas Dirman pegawai pada perkebunan negara di kota S, sehingga kami terbiasa bertemu hanya akhir pekan. Meski kadang, kalau tak terlalu lelah, dia berani juga pulang hari. Aku sendiri bekerja menjadi staf di sebuah perguruan tinggi.

Karier Mas Dirman cukup mapan sekarang, sehingga secara materi kamu berkecukupan. Apa pun nyaris ada di rumah. Bahkan, untuk mengurangi kesepianku, Mas Dirman membuat sebuah ruangan di rumah nyaris seperti bioskop atau home theater, dengan tata suara yang sangat baik. Di rumah aku hanya ditemani seorang pembantu, yang telah 8 tahun ikut denganku, seorang janda dengan satu anak bersekolah di SLTP.

Rumahku asri. Tapi sepi. Tak ada suara anak-anak di rumah ini. Dan tak akan pernah ada.

Bahkan, kalau Mas Dirman berada di rumah, kami acap duduk berdiam, di teras yang rindang. Hanya helaan napas yang membuat kami saling menyadari tidak sendirian di teras itu.

Ya, anak, kehadiran anak telah lama menjadi mimpi bagi kami. Dan, selamanya, akan tetap menjadi mimpi.

15 tahun lalu, sebelum menikah, kehidupan kami tidak sebaik ini. Aku menikah saat ibu sakit keras. Mas Dirman pun baru saja bekerja. Ia harus berada di luar kota, meninggalkanku yang tak bisa meninggalkan ibu.

Praktis, sebagai anak tunggal, aku yang merawat ibu setelah bapak tiada. Pembantu kami tak punya. Karena itulah, ketika lamaranku diterima, aku tak berpikir panjang, segera bekerja. Pagi ibu kutinggal, siang dan sore aku temani.

Mas Dirman yang pengertian selalu berusaha mengerti kondisi itu. Dan, dia pun paham keterbatasanku sebagai anak, yang masih harus berbakti pada orang tua.

Dalam "tekanan" itulah, aku berkompromi dengan Mas Dirman, untuk tak punya anak dulu. Ia setuju. Ibu yang tidak, yang ingin menimang cucu sebelum meninggal, begitu katanya. Tapi, keputusanku bulat. Dan, atas "petunjuk" tetangga, aku KB secara tradisional, dipijat oleh dukun pijat di Boyolali.

Aku tak begitu tahu "metodenya" seperti apa, cuma dari penjelasan Mbah Wiryo, katanya rahimku dia ikat dengan tenaga gaib. Jika nanti aku siap memiliki anak, dia akan memijat lagi untuk membuka ikatan itu. Nyaris tanpa efek samping.

Kata tetanggaku itu, pijatannya selalu ampuh.

Sakit, panas, dan kemeng di bagian perut. Itulah yang kurasakan saat dipijat dengan minyak ramuan dia, dan mantra khusus. Tapi, dua jam setelah pemijatan itu, tak ada reaksi apa pun di tubuhku. Dan aku pulang.

Lalu, hari-hari berjalan seperti biasa. Aku tetap berhubungan dengan Mas Dirman, dan mengurus ibu. Dan benarlah, haidku lancar saja, tak pernah terlambat. Aku lebih fokus mengurus suami dan ibu, juga bekerja.

 

Dan, setelah melalui pengobatan tanpa henti, dokter menyerah. Ibu "pergi" juga, setelah TBC yang terlambat disadari. Dan aku sendirian di rumah itu, menunggu akhir minggu, kedatangan Mas Dirman. Lalu, seiring manajemen keluarga, rumah ibu kami jual, membeli tanah baru yang lumayan luas, dan kehidupan ekonomi kami membaik.

Kami lalu berencana untuk punya momongan di tahun ke empat. Apalagi, usiaku nyaris 27, dan Mas Dirman 29 tahun. Karier kami menanjak.

Aku ingat pasti, hari minggu itu kami kembali ke Boyolali, menemui Mbah Wiryo. Tapi, Tuhan punya rencana lain. Mbah Wiryo telah meninggal dunia. Anaknya yang kami mintai tolong menggelengkan kepala. Ia hanya menyarankanku meminum air daun ilalang untuk mengembalikan kesuburanku. Itu pun tanpa jaminan.

Aku mulai panik. Mas Dirman apalagi. Saat kami bertanya, ke mana lagi untuk dapat membuka "ikatan rahimku" itu, dia hanya menggelengkan kepala. Mbah Wiryo mati tanpa meninggalkan pesan apa pun.

Aku menangis, kehilangan harap. Mas Dirman yang menyabarkanku. Kami pun pulang tanpa berkata-kata.

Lalu, pergi ke dukun menjadi rutinitasku. Berpuluh pijatan, ratusan ramuan, jutaan doa, sudah aku lakukan. Nihil! Rahimku tak juga berbuah.

Dokter yang memeriksa tak menemukan apa pun yang salah di rahimku. Aku subur, Mas Dirman juga. Hal ini makin menyakitkan kami.

Meski tak putus asa, aku mulai dihinggapi ketakutan. Nyaris setiap kota di Jawa telah aku jalani untuk mendatangi orang pintar, hasilnya: nol! Haidku tetap lancar.

Tuhan mungkin menghukumku. Tapi, kenapa selama ini? Apakah dosa yang aku tanggungkan? Di tahun ke-10 pernikahan kami, keputusasaan telah menghinggapiku, juga Mas Dirman. Kami telah lelah diberi harapan oleh paranormal-paranormal yang kami datangi.

Mas Dirman memintaku untuk bersabar dan ikhlas. Tapi aku tak bisa, aku masih selalu menangis mengingat kebodohanku dulu. Meski Mas Dirman terlihat ikhlas, tapi aku tahu, dia sangat kesepian. Dan dia melampiaskannya dengan memperbaiki rumah, menyalurkan hobinya bermusik, memelihara ikan, dan olahraga.

Kami jadi selalu menghindari percakapan tentang bayi. Bahkan, kalau bepergian, melihat anak-anak pun kami selalu mencoba untuk tak saling mengatakan. Tapi jika Lebaran, sering tangis kami tak tertahankan. Saat keponakan-keponakan datang, bermain di halaman rumah, memasuki kolam ikan, ia terlihat begitu bahagia, ikut larut bersama mereka. Dan jika setelah itu rumah kembali sepi, kami berdua akan bertangisan di ruang salat.

Semua mungkin kini telah terlambat.

Kami pernah merencanakan mengangkat anak. Tapi akhirnya kami batalkan. Kami tak siap. Kami takut, hal itu makin membuat rasa bersalah kian berkembang di dalam batin kami.

Dalam kesepian itu, untunglah kami tak pernah saling menyalahkan. Sekalipun tak pernah Mas Dirman menyalahkan keputusanku. Dia bahkan selalu membela keputusan itu, demi baktiku pada ibu.

"Jika kita kembali lagi ke masa itu, aku masih akan tetap mengizinkan kamu memutuskan hal itu," bela Mas Dirman, jika aku mulai menyalahkan diri.

Dia yakin, keputusan itu yang membuat aku dapat menjaga ibu sampai akhir hayatnya, membiayai perobatan ibu. Memang, masa itu sangat sulit secara ekonomi bagi kami. Tapi, di dalam hatiku sendiri, sungguh, aku tak bisa memaafkan keputusanku itu.

"Anak itu rezeki dari Tuhan, jangan dihalang-halangi. Ibu pun ingin cucu, sebelum mati," kata-kata ibu selalu membuatku merasa telah melakukan dosa yang tak terampunkan.

Kini, di usia yang tak lagi muda, aku sudah tak berharap ada keajaiban. Keinginaku cuma satu, kalaupun anak tak kan pernah datang dalam kehidupan kami, aku hanya ingin tetap berada di samping Mas Dirman. Dia lebih berarti dari apa pun. Karena aku tahu, dia pasti lebih menderita daripada aku, karena dia juga harus menanggungkan kesedihanku.

(Seperti yang diceritakan Ny Dian di Kafe A&M.CO, Solo)

***

tags: #bayi #hamil #ibu hamil #berdendang bergoyang #luka

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI