Dr Christin Wibhowo, SPsi MSi

Dr Christin Wibhowo, SPsi MSi

Tips Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi Menurut Dr Christin Wibhowo

Harusnya sekarang ini, masyarakat sudah masuk ke zona berkembang. Sudah punya keterampilan yang baru, supaya mental sehat.

Jumat, 12 Februari 2021 | 11:11 WIB - Trik
Penulis: - . Editor: Ririn

Sejak virus corona dinyatakan sebagai pandemi dunia, perasaan dan pikiran manusia semakin diuji. Bayangan buruk mengenai masa depan sesekali muncul dan menghantui. Bukan hanya itu, adanya pembatasan pertemuan hingga kegiatan menjadikan rutinitas terasa monoton.

Membiasakan diri dengan aktivitas daring dan sebisa mungkin menjaga kondisi fisik nyatanya tak mudah dilakukan. Rasa dalam diri ingin bertemu langsung dengan orang terkasih, namun terhambat oleh protokol kesehatan. Meskipun terkesan sepele, ternyata hal tersebut bisa menimbulkan stres bahkan depresi.

BERITA TERKAIT:
Video: Christin Wibhowo dan Ilmu Memahami Isi Hati
Video Pakar Psikologi Unika: Kesehatan Mental Perlu Disadari Sejak Dini
Tips Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi Menurut Dr Christin Wibhowo
Pakar Psikologi Unika Christin Wibhowo: Kesehatan Mental Perlu Disadari Sejak Dini

Tak bisa dipungkiri masa pandemi memicu masalah kesehatan mental manusia. Namun ternyata stres dan rasa cemas bisa dikelola atau ditangani sebelum berakhir menjadi masalah kesehatan mental yang lebih parah. Berikut tips menjaga kesehatan mental di masa pandemi Covid-19 menurut Dr Christin Wibhowo, SPsi MSi.

Zona Stres

Pandemi memang menyebalkan dan sulit dikendalikan, tetapi bukan berarti menjadi alasan untuk kita menjadi loyo. Seperti yang dikatakan oleh Dr Christin, "jangan pernah mengambinghitamkan pandemi dan covid, terus kita malah berlindung di balik itu".

Dr Christin menganalogikan manusia sehat seperti lingkaran. Pada saat virus Covid-19 pertama kali menyerang hingga berdampak pada kehidupan manusia, itulah lingkaran pertama. Semua orang berada di kondisi stres, karena tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

Terjebak di dalam rumah karena menjalani masa karantina, hingga tidak bisa pergi ke luar dengan bebas membuat orang masuk dalam zona stres. Belum lagi kecemasan yang dialami akibat penyebaran virus yang tidak terlihat menjadikan sebagian orang melakukan penimbunan masker juga hand sanitizer.

Zona Belajar

Sebagai manusia yang sehat, maka kita perlu melangkah ke lingkaran berikutnya yaitu zona belajar. Melakukan aktivitas yang belum pernah dilakukan dan mencoba mempelajarinya menjadikan kita berada di zona belajar. Seperti Dr Christin yang merupakan seorang dosen, harus beradaptasi mengajar dengan sistem daring.

 

Pada awal perubahan sistem mengajar menjadi daring, ia mengaku sempat kesulitan karena belum terbiasa (zona stres). Tetapi Dr Christin mengambil langkah untuk mau belajar dengan meminta bantuan dari orang-orang yang ia percaya (zona belajar).

Terhitung waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke zona belajar adalah maksimal tiga hari. Dikatakan bila seseorang membutuhkan waktu lebih dari tiga hari, maka dapat dikatakan bahwa ia lemah secara psikis.

Maksud dari fase tiga hari sendiri bukanlah tentang kita yang bisa melupakan masa lalu, tetapi lebih kepada menemukan solusi. "Orang sehat harus tiga hari, maksudnya bukan terus bisa melupakan masa lalu, tetapi sudah tahu solusinya," ucap perempuan yang merupakan Dosen Psikologi Unika Soegijapranta itu.

Zona Berkembang

Ketika seseorang sudah masuk pada zona belajar maka terbentuklah keahlian baru, itulah yang dinamakan zona berkembang. Di dalam zona ini, setiap kita semakin memiliki bentuk prestasi yang baru. Christin pun mengimplementasikan zona ini melalui cerita dari temannya.

Dimulai dari bisnis jahit yang terdampak Covid-19, membuat temannya memutar otak untuk merambah ke bisnis masker (zona belajar). Bisnis itupun sukses dengan bentuk packaging yang beragam (zona berkembang).

"Harusnya sekarang ini, masyarakat sudah masuk ke zona berkembang. Sudah punya keterampilan yang baru, supaya mental kita itu sehat," ucapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa orang sehat dengan orang yang memiliki mental illness memiliki perbedaan yang tipis. Keduanya sama-sama memiliki masalah, namun orang sehat akan segera masuk ke zona berikutnya. Berbeda dengan pemilik mental illness, hanya akan berendam dalam kubangan stres.

Melihat analogi ini, kita semakin tahu bahwa pandemi bukanlah penyebab gangguan mental seseorang. Namun langkah kitalah yang menjadi penentu untuk kesehatan mental di masa depan, bergerak (move on) atau berlarut dalam stres (terjebak nostalgia)?

*Tulisan di atas dibuat oleh reporter magang KUASAKATACOM Bela


tags: #dr christin wibhowo #kesehatan mental #trik

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI